
Sejak pertengkaran dan pengakuan jelas Vania tentang tujuan hidupnya, Darren membawa putrinya pergi dari rumah.
Laki-laki itu sudah melayangkan gugatan cerai ke pengadilan, ia pun memilih untuk tinggal di sebuah kontrakan rumah sederhana dan membayar pengasuh untuk menjaga Heera. Sementara dirinya, sudah mendapatkan pekerjaan berkat bantuan Daniel.
Sampai keputusan pengadilan dikeluarkan, Darren masih berbaik hati untuk mengirim uang pada Vania. Ia pun tidak menuntut atas rumah yang ditempati oleh Vania.
Bagi Darren, membawa Heera saja sudah cukup baginya.
"Kenapa kau tidak membawanya pulang, Kak. Aku yakin Mama dan Papa tidak akan keberatan," ujar Daniel. Ia datang membawa banyak sekali makana ringan, serta kebutuhan susu dan popok untuk keponakannya.
Daniel datang untuk menjemput Heera dan membawanya pergi, karena hari ini Darren harus pergi ke pengadilan untuk menghadiri sidang perceraiannya.
"Aku malu, Daniel," jawab Darren. Sempat terpikir oleh laki-laki itu untuk pergi ke rumah orang tuanya dengan membawa Heera, namun keputusan itu ia urungkan karena rasa malu yang masih menghantuinya.
"Kau juga tidak memberi tahu mereka," ucap Daniel.
"Aku akan menunggu sampai keputusan sidang. Memberitahu mereka sekarang hanya akan membuat mereka khawatir."
"Apa keputusanmu sudah bulat? Bagaimanapun, Heera tentu butuh sosok ibunya. Tapi jika ini yang terbaik, semoga kelak Heera juga paham kenapa kau melakukannya," ungkap Daniel.
__ADS_1
Selain konflik rumah tangga, hal lain yang harus dipikirkan adalah tumbuh kembang serta masa depan Heera. Namun sepertinya, Darren sudah mempertimbangkan keputusannya dengan baik.
"Heera tidak butuh ibu sepertinya, Daniel. Vania bukan wanita yang bisa menjadi sosok ibu yang baik. Aku tidak perlu berpikir ulang tentang itu," jawab Darren tegas.
"Baiklah." Daniel mengangguk paham. Ia tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga Darren, ia hanya khawatir tentang keponakannya.
***
Pukul sembilan, Daniel sampai di rumah bersama Heera. Ia mengajak seorang sopir hingga ia bisa dengan nyaman menggendong Heera dalam perjalanan.
"Sayang, aku pulang," ucap Daniel sambil memasuki pintu rumahnya.
Apapun masalah yang timbul akibat Darren atau Vania, Bianca sama sekali tidak merasa kesal atau tidak nyaman saat bersama Heera.
Bagi Bianca, bayi itu lahir bukan atas dasar keinginannya. Bayi itu lahir karena sudah menjadi takdirnya. Meskipun ia lahir dari wanita jahat yang telah menghancurkan hidup Bianca, Bianca sama sekali sudah merasa rela. Kini ia bahagia, Daniel dan kedua calon buah hatinya adalah obat dari segala rasa sakit yang pernah ia derita.
Selama hampir seharian penuh, Daniel dan Bianca mengurus Heera dengan baik. Mereka bekerja sama agar bayi itu bisa tidur siang dengan nyenyak dan merasa nyaman bersama mereka.
Daniel menganggap, menjaga Heera adalah latihan baginya untuk menjadi sosok seorang ayah.
__ADS_1
"Sayang," lirih Daniel sambil memeluk Bianca. Mereka sedang asik menonton televisi sementara Heera tengah tertidur di atas stroller.
"Hmm?"
"Apa kau tidak keberatan menjaga Heera?"
"Kenapa? Tentu saja tidak," jawab Bianca.
"Aku hanya khawatir. Jika kau tidak nyaman, lain kali aku akan membawa Heera ke tempat penitipan anak."
"Sayang, tidak apa-apa." Bianca menatap wajah sang suami. "Bayi ini tidak bersalah, tidak perlu melibatkannya dalam masalah apapun," lanjutnya.
"Aku bersyukur memiliki istri berhati luas sepertimu. Aku mencintaimu," ungkap DanielDaniel sambil mencium kening Bianca.
Dari semua masalah yang menimpa mereka selama ini, keduanya sama-sama saling mengerti dan memahami hingga meminimalisir kesalahpahaman di antara keduanya.
Berkat Daniel, Bianca bisa sembuh dari luka yang ditimbulkan oleh orang-orang tidak berperasaan.
***
__ADS_1