
Sudah beberapa bulan berlalu, Darren pun sudah tidak lagi terlihat. Ia memilih untuk tinggal di luar kota dan membawa Heera. Darren membayar pengasuh yang lebih bagus karena kini ia juga memiliki jabatan yang memuaskan di perusahaan.
Darren memulai semuanya dari awal. Ia memulai pekerjaan dengan bantuan Daniel dan Bianca dengan posisi bawah, namun berkat kerja keras dan kesungguhannya, perlahan ia bisa menjadi lebih baik.
Sejak tinggal di luar kota, Darren pun kerap kali mengirim uang pada Daniel untuk mengganti uang yang pernah ia pakai untuk biaya persalinan Vania dan kelahiran Heera. Tidak peduli sang adik menolak, Darren tetap melakukannya.
Hari-hari berlalu cepat, kini kehamilan Bianca sudah memasuki trimester ketiga di minggu-minggu terakhir. Hal itu membuat Daniel selalu waspada sebagai seorang suami.
"Ayo, Sayang. Hati-hati," ucap Daniel sambil merangkul pinggang Bianca. Mereka baru saja turun dari mobil di sebuah tempat parkir rumah sakit.
Karena sedang mengandung dua bayi sekaligus serta sudah mendekati hari perkiraan lahir, Bianca harus lebih sering memeriksakan kandungannya demi terhindar dari hal-hal yang buruk.
Tubuh yang dahulu ramping bagai biola Spanyol, kini sudah mengembang berkali-kali lipat. Hal itu sering membuat Bianca merasa tidak percaya diri dengan penampilan barunya. Namun beruntung, Daniel selalu memberinya dukungan serta pujian-pujian yang membuat hati Bianca tenang.
Meski kini Daniel sudah membayar beberapa pelayan untuk mengurus pekerjaan rumah serta menemani Bianca, namun Daniel pun memilih untuk sering melakukan pembelajaran mata kuliah secara online demi bisa menemani sang istri.
__ADS_1
Kini, Abraham pun memberi bantuan untuk mengurus perusahaan anak dan menantunya agar mereka bisa fokus pada kehamilan Bianca serta persiapan melahirkan. Bahkan, keluarga besar Bianca sudah menyiapkan hadiah dan pesta besar untuk menyambut kelahiran cucu pertama Abianca Company.
"Bagaimana perkembangannya, Dok? Bukankah mereka akan lahir dalam waktu dekat?" tanya Daniel sambil menatap dokter yang fokus pada layar monitor yang menampilkan hasil USG secara langsung.
Dokter terlihat cemas, ia menghela napas berat.
"Sepertinya kita harus melakukan tindakan operasi hari ini juga," jawab Dokter.
"Hari ini?" Bianca terkejut.
"Kondisi air ketuban sudah sangat sedikit, sangat berbahaya bila proses kelahiran ditunda," jelas Dokter. "Beruntung hari ini kalian datang," lanjutnya.
Karena sudah jauh-jauh hari memesan kamar eksklusif untuk proses persalinan, kini mereka hanya perlu menunggu jadwal operasi sambil menunggu Dokter melakukan observasi.
Saat itu juga, Daniel menghubungi kedua orang tuanya untuk memberi kabar. Tidak lupa, ia juga memberitahu kedua mertuanya tentang kondisi Bianca saat ini.
__ADS_1
Detik-detik berlalu begitu menegangkan. Bianca pun nampak gugup, wajahnya pucat, keringat dingin terus membasahi dahinya, membuat Daniel semakin ketakutan.
"Bagian mana yang sakit, Sayang? Perlu kupijat?" tanya Daniel. Ia memeluk Bianca yang tengah berbaring miring di atas ranjang empuk rumah sakit dengan jarum infus di pergelangan tangannya.
"Tidak ada yang sakit," jawab Bianca lirih.
"Kau harus tenang, jangan takut. Aku di sini," ujar Daniel. Padahal, justru ia lebih ketakutan dari Bianca.
"Apa Mama dan Papaku akan datang?"
"Ya, mereka langsung datang siang ini juga. Jangan khawatir."
Bianca merasa khawatir, gelisah, serta tidak nyaman. Meski sudah mempunyai banyak pengetahuan tentang proses melahirkan secara normal ataupun operasi, hal itu tidak membuat rasa takut dalam dirinya hilang.
Bagi seorang wanita, proses melahirkan adalah hal yang sangat menegangkan. Setiap detik berlalu begitu lambat. Banyak hal bergejolak di dalam hati, tentang apa yang akan terjadi, tentang bagaimana prosesnya nanti, tentang hidup dan mati.
__ADS_1
Meskipun operasi caesar dilakukan dengan bantuan dokter sepenuhnya, hal itu tidak menjamin seorang wanita akan bebas dari rasa sakit, rasa takut, bahkan rasa trauma. Selalu ada kemungkinan terburuk dalam setiap tindakan.
***