
Bagaimana Daniel tidak bahagia saat ia mendapatkan istri seperti Bianca. Wanita yang begitu cantik dan baik hati, bahkan sedikitpun ia tidak pernah berniat membalas dendam atas perbuatan Darren atau Vania.
Tanpa ragu, Bianca bahkan merelakan suaminya untuk menemani Darren ketimbang mengantarnya pulang. Bagi Bianca, apapun kondisi keluarga, mereka tetaplah keluarga.
Setelah menelepon sopir untuk mengantar Bianca pulang, Daniel memeluk dan mencium istrinya di hadapan Sintia juga Darren.
"Apa kau akan baik-baik saja?" tanya Daniel.
"Aku pasti merindukanmu," jawab Bianca manja. Hari libur seperti ini mereka biasa menghabiskan waktu bersantai bersama, namun karena keadaan, Bianca merasa tidak apa-apa jika Daniel meluangkan waktu untuk keluarganya.
"Ah, Sayang. Aku akan pulang saat jam makan malam nanti."
"Hmm, baiklah. Aku menunggumu di rumah." Bianca tersenyum dan mencium pipi suaminya.
Pemandangan itu membuat Sintia tersenyum penuh kebahagiaan. Melihat anak bungsu serta menantunya amat mesra dan saling memahami, membuat Sintia tidak lagi khawatir.
__ADS_1
Sebelumnya, Sintia selalu cemas dan takut apabila Daniel dan Bianca menjalani pernikahan itu hanya karena sebuah rasa terpaksa. Namun setelah sekian lama, Sintia semakin yakin bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersama, hanya saja jalan yang mereka lalui lebih rumit dan berliku dari pasangan lainnya.
Berbeda dari Sintia, Darren merasa ada rasa tidak nyaman di hatinya. Melihat Daniel dan Bianca sangat mesra di depan matanya, membuat Darren merasa sedih.
"Seharusnya aku yang di sana," batin Darren penuh sesal.
Kini Darren hanya bisa menelan ludah. Andai saja dulu ia memilih untuk setia dan tetap bersama Bianca, mungkin hidupnya tidak akan setragis ini.
Selepas kepergian Bianca dan Sintia. Daniel duduk bersama Darren di depan ruangan tempat bayi perempuan Darren tertidur pulas. Di mulut dan hidung bayi itu terpasang selang sebagai alat bantu kehidupan.
Semakin hari, kondisi bayinya semakin membaik. Namun hal itu tidak membuat Darren bisa bernapas dengan lega selagi ia belum benar-benar melihat bayinya lepas dari semua alat yang menempel di tubuhnya.
"Pakai saja, Kak. Itu uang pribadiku."
"Apakah tidak apa-apa jika aku memakainya? Apa Bianca tidak marah?"
__ADS_1
"Apa menurutmu dia akan marah hanya karena hal sepele seperti itu? Bianca bukan wanita penggila harta," jawab Daniel tegas. Hal itu membuat dada Darren terasa nyeri, kenyataan ini sungguh berbeda dengan apa yang ia alami.
Keduanya pun terdiam, Darren tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh adiknya.
"Mungkin, setelah anakku pulih, aku akan menceraikan Vania," ucap Darren dengan suara lirih.
Mendengar hal itu, Daniel mengernyit heran.
"Bukankah kalian saling mencintai? Dulu, kau seakan cinta mati pada wanita itu," sindir Daniel.
"Kenyataan tidak selalu seindah harapan. Aku berpikir bersamanya dalam keadaan apapun tetap akan membahagiakan. Namun kenyataannya, dia menuntut banyak hal yang tidak bisa aku berikan," jelas Darren.
"Jadi, kau menyesal?" Daniel memandang Darren sambil mengerutkan kening.
"Mungkin." Darren mengangguk sambil menghela napas panjang.
__ADS_1
"Kau memulai hubungan dengan cara yang buruk. Maka tidak heran jika semuanya akan berakhir buruk," ucap Daniel terang-terangan.
***