Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Selepas kepergian Daniel, Bianca menikmati es krim serta roti yang dibawakan oleh sang suami. Kehamilan Bianca ini memang cukup menyenangkan, ia bisa makan apa saja sesuai keinginannya tanpa mengalami mual muntah berlebihan.


Saat Bianca sedang membuka bungkus snack di tangannya, tiba-tiba datang seseorang yang sangat ia kenali.


Bianca melirik sekilas, ia enggan bertanya. Namun Vania duduk di sebelahnya.


"Kau selalu bisa menikmati hidupmu. Apa kau bahagia setelah tahu apa yang aku dan Darren alami?" tanya Vania.


"Bukan urusanku, dan aku sama sekali tidak ingin tahu," jawab Bianca.


"Kenapa kau datang ke sini? Apa kau masih berniat menemui Darren?"


"Menemui siapa?" Bianca balik bertanya dengan mata menyipit.


"Dia bilang akan menceraikanku. Mungkin sekarang aku tahu alasannya, pasti karena kau sudah memaafkannya dan dia merasa punya kesempatan," jelas Vania.


"Tapi maaf, Vania. Kau tahu aku tidak berminat dengan barang bekas. Aku bukan orang yang memungut kembali sampah yang telah aku buang." Jawaban Bianca singkat, namun mewakili segala perasaannya selama ini.


Vania yang mendengar hal itu, merasa semakin panas hatinya.


"Kau selalu sombong, karena itulah Darren lebih memilihku," desis Vania. Bianca menoleh, menatapnya tajam.

__ADS_1


"Benarkah? Berbahagialah, kau terpilih."


"Apa kau tahu mengapa Darren lebih memilihku daripada dirimu? Itu karena sifatmu, karena keluargamu!"


"Jangan bawa-bawa keluargaku, Vania. Kau tidak suka padaku? Silahkan, tapi jangan sebut-sebut keluargaku!" sentak Bianca.


"Sifatku yang bagaimana? Dan apa yang keluargaku lakukan? Semuanya sudah berakhir. Aku tidak ingin tahu dan tidak peduli." Bianca tidak ingin banyak berpikir.


"Apa kau tidak sadar jika kau terlalu dimanjakan oleh orang tuamu? Tanpa mereka, kau bukan apa-apa."


"Apa kau tahu jika Darren dulu takut tidak bisa memenuhi gaya hidup mewahmu? Apa kau tahu jika Darren takut tidak sebanding denganmu? Apa kau tahu jika dia khawatir dan takut setiap kali bertemu keluargamu? Dia tertekan karena kalian lebih kaya!"


"Dulu, aku menganggapmu seperti seorang saudari. Kita bersahabat jauh sebelum aku mengenal Darren. Jika kau jujur sejak awal, aku tidak akan terlalu sakit hati. Persahabatan lebih berharga bagiku. Mungkin aku juga akan membiarkan kalian bersama dengan damai," jelas Bianca.


"Pembohong!" seru Vania.


"Pembohong? Apa ada sesuatu yang kau minta dan aku tidak memberikannya? Aku memberikan banyak hal yang kau inginkan, bahkan barang-barang favoritku."


Vania terdiam, kenyataannya memang begitu dan kota-kota Bianca tidak bisa dibantah.


"Hanya ada satu hal yang ingin aku tanyakan, kenapa kau tega melakukan ini padaku, Vania? Kurang apa aku selama ini?" tanya Bianca sambil memandang Vania.

__ADS_1


Mata Bianca berkaca-kaca. Setelah sekian lama ia memendam tanya, kini ia baru bisa mengungkapkannya. Bukan karena ingin mengembalikan masa yang telah berlalu, namun hanya ingin tahu seberapa berarti dirinya bagi Vania sejak dulu.


"Jawab aku, Vania!" seru Bianca. Vania menelan ludah, tatapan mata Bianca membuatnya membeku.


"Kita bersahabat, tega-teganya kau menyakitiku sampai sejauh itu? Apa aku pernah mengecewakanmu? Apa aku pernah menyakiti perasaanmu, Vania? Jawab aku!"


"Aku merawatmu saat sakit, membantumu setiap kali kau butuh. Kita sering tertawa bersama dan menangis bersama. Kita melewati banyak hal bersama. Tapi kau setega itu padaku?"


"Apa arti persahabatan kita, Vania? Apa arti aku bagimu?"


Bianca mengucapkan semua kepedihan hatinya selama ini di depan Vania. Dihianati oleh Darren memang menyakitkan, tapi rasa sakit yang ditimbulkan Vania jauh lebih besar.


"Hidupmu sempurna, kau selalu mendapatkan apapun yang kau inginkan. Kau punya keluarga yang menyayangimu, memberikan segalanya untukmu, dan selalu ada di sampingmu. Kau bahkan punya kekasih yang sangat mencintaimu. Tidak berhakkah aku mendapatkan salah satunya darimu?"


"Aku iri, aku iri padamu. Aku iri dengan segala yang kau miliki."


"Keluargaku berantakan! Ayahku tidak jelas kemana dan apa tujuan hidupnya, ibuku meninggal. Dan setelah semua itu, aku jatuh miskin!"


"Aku hanya ingin memiliki sesuatu seperti yang kau miliki," jelas Vania.


***

__ADS_1


__ADS_2