Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Biarlah Berlalu


__ADS_3

Bianca terdiam sesaat sebelum memberi jawaban, namun Daniel juga secara sadar paham bahwa apa yang pernah Bianca alami adalah hal yang sulit. Maka dari itu, sebaiknya tidak perlu lagi mereka membahas apapun perihal masa lalu yang telah usai.


"Aku pikir semuanya telah berakhir. Jika yang ingin dia katakan adalah permintaan maaf atau penjelasan tentang masalah yang sudah berlalu, rasanya tidak perlu," terang Bianca.


"Hmm, baiklah. Kau tidak perlu memaksakan diri, Sayang. Aku akan bicara pada kakakku," jawab Daniel. Ia tersenyum dan mengusap pucuk kepala istrinya.


"Maafkan aku," lirih Bianca.


"Tidak apa-apa. Kau berhak menolak."


"Terima kasih sudah memahamiku," ucap Bianca sambil memeluk Daniel.


Bagi Bianca yang sudah biarlah sudah, yang lalu biarlah berlalu. Kini mereka punya kehidupan masing-masing. Bianca pun kini telah memiliki Daniel, dan tentunya ia ingin menjaga perasaan sang suami dari rasa cemburu.


Bukan karena tidak ingin meluruskan apa yang telah terjadi. Namun Bianca sudah merasa rela, sudah merasa jika mereka tidak ada lagi masalah. Jadi, Bianca tidak ingin lagi membicarakan masalah yang benar-benar pernah membuatnya terpuruk.


Setelah mendapatkan jawaban Bianca, Daniel kembali ke ruang tamu untuk menemui Darren. Saat ini, terlihat Darren sedang menggendong Heera dan mengajaknya bicara.

__ADS_1


Anak kandungnya atau bukan, namun Darren dan Heera memiliki cukup banyak kesamaan dari tampilan wajahnya.


"Kak, sepertinya Bianca tidak ingin jika kalian membahas masa lalu kalian. Baginya semua sudah berakhir, dan yang sudah biarlah sudah," jelas Daniel.


"Begitu, ya?" Darren nampak kecewa. Namun ia pun tidak bisa memaksa.


"Jika memang ada yang ingin kau katakan, katakan saja padaku. Aku akan menyampaikan padanya."


"Aku hanya ... ingin minta maaf. Atas apa yang telah dia alami karena kebodohanku, juga atas sikapku yang tidak mengakui bayi di dalam kandungannya saat itu," jelas Darren.


Terlihat kedua mata laki-laki itu memanas. Ia berkaca-kaca, seolah-olah benar-benar menyesali apa yang telah berlalu.


"Aku menyesalinya, Daniel."


"Aku paham, Kak. Tapi penyesalan selalu ada di akhir. Kau sudah memulai, dan ini adalah resiko yang harus kau hadapi."


"Dia sudah memaafkanmu, bahkan rela merawat dan mengurus Heera dengan sangat baik meski kau dan Vania pernah melukainya. Kau memang pantas menyesal, Kak."

__ADS_1


"Kau pantas menyesal telah meninggalkan wanita sebaik Bianca, kau pantas menyesal karena menghianatinya. Tapi satu hal, kau tidak pantas berharap semua akan kembali seperti semula," terang Daniel.


Mendengar semua perkataan sang adik, Darren hanya bisa mengangguk dan menghela napas panjang. Semua itu memang benar. Semuanya benar.


"Terima kasih atas semua yang kau lakukan, Daniel. Kau memang adikku, kau selalu lebih baik dariku," ujar Darren.


"Bukan aku yang lebih baik darimu, tapi kau yang tidak pernah berusaha menjadi lebih baik, Kak."


"Maafkan aku," gumam Darren.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya? Kau akan pulang? Papa dan Mama tidak keberatan jika kau kembali."


"Aku senang mereka menerimaku dan Heera. Tapi aku malu, Daniel. Aku akan memilih untuk menerima pemindahan tugasku ke luar kota. Aku akan membawa Heera dan membayar pengasuh. Berkat kau dan Bianca, aku juga bisa mendapatkan pekerjaan yang bagus," jawab Darren.


"Kau tidak ingin melakukan tes DNA terlebih dahulu?"


"Tidak perlu, dia anakku. Jika melakukan tes dan hasilnya tidak sesuai harapan, itu akan lebih menyakitkan. Aku akan berusaha percaya bahwa dia anakku. Tidaklah kau lihat jika kami sangat mirip?" Darren balik bertanya.

__ADS_1


Daniel tersenyum samar, "Ya, kalian memiliki banyak kemiripan," ucapnya.


***


__ADS_2