Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Membalas Rasa Sakit Hati


__ADS_3

Meskipun Abraham pernah berjanji pada Bianca untuk membiarkan Darren hidup dengan tenang hingga karma dari Tuhan lah yang akan datang dengan sendirinya, namun Abraham tidak bisa tinggal diam begitu saja.


Bianca, putri yang ia besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, yang tidak sekalipun ia sakiti dengan kata-kata maupun perbuatan, telah dihianati dan dicampakkan oleh laki-laki yang belum tentu mampu membahagiakannya.


Bagaimana bisa Abraham tinggal diam?


Selama beberapa waktu terakhir ia sudah berusaha menahan diri dengan memantau kehidupan Darren. Memastikan bahwa laki-laki itu tidak sedang menari-nari di atas penderitaan putrinya.


Namun kenyataannya, Abraham tidak bisa menahan diri terlalu lama. Membiarkan Darren hidup damai seakan mengusik ketenangannya. Ia sudah terlanjur sakit hati, kebencian itu menancap kuat pada laki-laki tidak bertanggungjawab yang telah merusak masa depan putrinya.


Dengan tatapan kosong, Abraham menatap jendela kaca. Dalam hati laki-laki paruh baya itu meminta maaf pada Bianca karena telah melanggar janji. Karena inilah yang akan dilakukan oleh orang tua mana pun yang melihat anaknya diperlakukan buruk oleh orang lain.


"Tolong pastikan Bianca tidak tahu soal ini," ucap Abraham pada Sekretarisnya.


"Baik, akan saya usahakan," jawab sekretaris itu. Ia menatap sang majikan dari kaca yang ada di atas kepalanya.


"Benar apa katamu, Daniel menolak penawaranku. Dia benar-benar baik."

__ADS_1


"Saya sudah memastikan bahwa Tuan Daniel memang baik, Tuan. Dia membiayai kuliahnya sendiri dan tidak pernah memakai kartu kredit serta ATM yang diberikan oleh Nona Bianca."


Abraham mengangguk paham. Kini ia sadar mengapa Bianca bisa begitu cepat pulih dari depresi yang ia alami, rupanya ada laki-laki yang begitu baik menjaga dan merawatnya.


"Apa menurutmu tindakanku pada Darren itu keterlaluan?" tanya Abraham meminta pendapat.


"Saya rasa itu hanya sebagian kecil hukuman. Bukankah seharusnya Tuan bisa membuat mereka lebih menderita lebih dari tidak punya pekerjaan dan sumber penghasilan?"


"Benar, aku mampu melakukan segalanya. Tapi aku menghargai Daniel sebagai adiknya, juga orang tuanya." Abraham menghela napas panjang. Jika tidak melihat pengorbanan Daniel dan rasa tanggung jawab kedua orang tuanya, Abraham bahkan tidak akan segan mengotori tangannya sendiri untuk membuat Darren benar-benar menderita.


"Aku tidak masalah Bianca hamil, jika mereka melakukannya karena suka sama suka. Tapi aku muak, dia bahkan tidak mengakui benihnya sendiri. Laki-laki macam apa dia!"


"Bagaimana dengan Nona Vania, Tuan? Apa kita perlu mengurus ayahnya?" tanya sang sekretaris.


"Tidak perlu. Ayahnya tidak tahu apa-apa, dia melakukannya atas kemauannya sendiri. Hanya dia yang perlu dihukum, jangan libatkan ayahnya," jawab Abraham.


"Baik." Sang sekretaris mengangguk paham.

__ADS_1


***


Di kantor, Daniel dan Bianca masih sibuk mengurus pekerjaan. Meski tengah sibuk dengan tugas-tugas awalnya sebagai seorang mahasiswa, Daniel selalu berusaha membantu Bianca. Sedikit banyak, ia juga belajar bagaimana mengelola bisnis serta perusahaan.


"Kenapa kau menolak tawaran Papa, padahal aku mendukung itu," ujar Bianca sambil membawa segelas jus jeruk di tangan. Sementara Daniel mengambil alih tugas untuk memeriksa berkas di atas meja kerja.


"Hei." Daniel menarik tangan Bianca, mendudukkan wanita itu di atas pangkuannya.


"Aku tidak tertarik dengan sesuatu yang instan. Aku tidak ingin orang berpikir bahwa aku menikah denganmu karena ingin menguasai kekayaan keluargamu, tidak. Aku tidak akan melakukannya. Aku akan melakukannya dengan caraku," jelas Daniel.


Bianca tersenyum, ia mendaratkan satu kecupan singkat di bibir suaminya.


"Hei, jangan memancing ku. Kau tidak ingin kita melakukannya di sini, bukan?" tanya Daniel sambil tersenyum nakal.


"Di sini? Siapa takut!" seru Bianca menggoda.


"Baiklah, kau yang meminta!" Daniel tersenyum penuh kemenangan. Ia menggendong tubuh Bianca dan menaikkan tubuhnya di atas meja.

__ADS_1


***


__ADS_2