Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Sumber Kesalahan


__ADS_3

Darren terdiam cukup lama. Pertanyaan Daniel memang terdengar seperti sebuah tuduhan, bahwa ia adalah laki-laki sangat jahat dan kejam.


"Apa kau tidak pernah berpikir, kau sudah memilih Vania sejak awal namun masih menyentuh Bianca. Bagaimana bisa kau lakukan hal setega itu?" tanya Daniel lagi.


"Aku tidak mau membela diri, tapi ...."


"Kau menghancurkan hidupnya, Kak. Kau hampir membuatnya menjadi wanita paling menyedihkan di dunia ini," sela Daniel sebelum Darren melanjutkan kalimatnya.


Setelah sekian lama, kini Daniel berani mengungkapkan seluruh tanda tanya serta kekesalan hatinya. Bukan ia ingin kembali menyingkap masa yang telah berlalu, hanya saja ia ingin tahu tentang apa yang sebenarnya telah terjadi, hingga Darren bisa bersikap sekejam itu.


"Kita bersaudara, aku mengenalmu sejak pertama kali aku dilahirkan. Aku tahu kau bukan orang semacam itu," lirih Daniel.


"Maafkan aku, Daniel." Darren menunduk.


"Di saat rencana pernikahan kami sudah matang, aku berpikir tidak bisa mundur. Aku berusaha menjauhi Vania, dan meyakinkan hatiku pada Bianca. Aku pikir dengan melakukan hal itu, bisa membuat hatiku kembali pada Bianca, nyatanya tidak. Vania adalah pilihanku," jelas Darren.

__ADS_1


"Kau pikir dengan menjamah Bianca maka cintamu itu akan kembali? Itu pembelaan!" seru Daniel.


"Aku tahu kau akan berpikir begitu."


"Kau dan Vania sama saja. Dia wanita licik, penghasut, penghianat. Sementara kau, terlalu mudah percaya, mudah dihasut, kau bodoh!" hardik Daniel tanpa ada yang di tutup-tutupi.


"Memangnya siapa yang tidak mempercayai Vania? Dia dan Bianca bahkan sudah bersahabat lama, sebelum aku dan Bianca bersama. Bianca dan Vania seperti saudara, mereka tidak terpisahkan. Semua orang pasti mempercayai apapun yang Vania katakan tentang Bianca."


Daniel terdiam, ia setuju dengan satu kalimat itu.


Jika Bianca dan Vania sudah bersahabat lama, tentu saja mereka akan saling mengenal satu sama lain. Bahkan persahabatan mereka berjalan bertahun-tahun.


Jika memang apa yang Darren katakan adalah sebuah kejujuran, maka semua kekacauan itu berasal satu orang, yaitu Vania. Namun bagaimanapun, kebodohan Darren adalah kesalahn terbesar.


"Apa kau tahu saat Bianca kehilangan bayinya? Bayi yang berasal dari kesalahanmu?" tanya Daniel.

__ADS_1


Darren menggeleng.


"Jadi, kau tidak peduli? Apa Vania juga yang mengatakan padamu bahwa yang dikandung Bianca itu bukanlah bayimu?" Daniel bertanya dengan senyum miring. Tebakannya pasti benar, ia semakin yakin saat Darren tidak bisa memberi jawaban.


"Kalian keterlaluan," lirih Daniel.


"Aku menyesali semuanya, Daniel. Aku menyesal." Darren menghembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi besi.


"Aku tidak akan menyalahkan siapapun atas apa yang menimpaku saat ini. Semua ini, pasti hukuman atas apa yang sudah aku lakukan padamu, pada Mama dan Papa, juga pada Bianca."


"Maafkan aku, Daniel. Aku lah sebab kau kehilangan masa remajamu, yang seharusnya kau habiskan untuk menikmati masa kebebasan, namun kau terjebak dalam pernikahan di usia yang masih muda," lanjut Darren.


"Aku tidak mempermasalahkannya. Aku bahagia dengan pernikahan ini. Aku hanya menyayangkan semua perbuatanmu," jawab Daniel.


Tidak mungkin Daniel akan mengatakan jika ia bahkan sudah memiliki rasa pada Bianca bahkan saat wanita itu masih menjadi kekasih kakaknya.

__ADS_1


Terlepas dari jujur atau tidaknya semua pengakuan Darren, Daniel cukup tahu, bahwa kesalahan tidak sepenuhnya berada pada diri sang kakak.


***


__ADS_2