Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Penawaran Mengejutkan


__ADS_3

Dengan wajah merona malu, Bianca sedikit berlari mendekati tamu kejutan yang baru saja datang. Bianca segera berhamburan memeluk Abraham saat kedua tangan laki-laki paruh baya itu menyambutnya.


"Papa, kenapa datang tanpa memberitahuku?" tanya Bianca.


"Sengaja, ini kejutan," jawab Abraham.


"Apa Papa datang bersama Mama?"


"Tidak, Mama ada urusan di sana. Bagaimana kabarmu, Sayang?"


"Baik, Pa. Aku sehat."


Sementara di samping sofa, Daniel berdiri dengan gugup. Ia tidak mendengar kabar bahwa Abraham akan pulang dari luar negeri. Bocah laki-laki itu tersenyum malu saat Abraham berjalan mendekatinya. Bagaimana tidak, Papa mertuanya datang saat ia dan Bianca sedang berguling-guling bersama di atas sofa?


Daniel segera meraih tangan kanan Abraham berniat bersalaman, namun Abraham langsung memeluk menantunya.


Abraham tersenyum sambil mengusap punggung bocah laki-laki yang telah menyelamatkan putrinya dari keterpurukan dan kesakitan.


"Apa kabar, Daniel?" tanya Abraham.


"Baik, Pa. Papa sendiri bagaimana? Kenapa tidak memberitahu kami jika pulang?" tanya Daniel. Mereka berdua duduk di sofa sementara Bianca meminta tolong pada sekretarisnya untuk menyuruh orang lain menyiapkan makanan.

__ADS_1


"Ini kan kejutan. Papa tidak perlu izin untuk menemui anak dan menantu Papa," jawab Abraham.


Meski awalnya Abraham merasa ragu sekaligus tidak percaya pada sosok Daniel saat menyetujui pernikahannya bersama sang putri, namun kini ia sudah sepenuhnya mempercayai menantunya itu. Karena keadaan Bianca dan raut wajah bahagia putrinya adalah bukti dari kesungguhan Daniel.


Abraham memperhatikan sikap Daniel yang canggung dan malu-malu, mungkin karena ia terpergok sedang bermesraan bersama Bianca di tempat kerja. Namun Abraham sama sekali tidak mempermasalahkannya, mereka bebas melakukan apapun di manapun.


"Papa dengar Mamamu sakit, bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Abraham.


"Sudah membaik, Pa."


"Papa minta maaf karena tidak datang menjenguk. Keadaan di perusahaan sana sedang sibuk, tapi Papa selalu menunggu kabar dari istrimu mengenai perkembangan kondisi Mamamu," jelas Abraham. Daniel memaklumi mertuanya. Abraham adalah orang yang sibuk dengan segala bisnis dan urusannya.


Setelah Bianca usai memberi instruksi pada sekretarisnya, Bianca turut bergabung dan duduk di samping Papanya.


"Papa datang karena ada keperluan penting, Sayang," ujar Abraham. Ia menerima setumpuk dokumen dari sekretarisnya dan menyerahkannya pada Daniel dan Bianca.


"Apa ini, Pa?" Bianca mengerutkan keningnya.


"Papa rasa kamu sudah cukup dewasa dan mampu mengelola perusahaan ini sendiri, apa lagi ada Daniel di sampingmu. Jadi, Papa berniat menyerahkan jabatan Papa sebagai CEO pada Daniel, sementara kamu tetap mendampingi dia," jelas Abraham.


"Ap-Apa maksud Papa?" tanya Daniel.

__ADS_1


"Bagaimana, kalian setuju?"


"Apa ini sudah direncanakan? Tiba-tiba sekali," ujar Bianca. Wanita itu merasa senang, Abraham bahkan mempercayai Daniel lebih dari apa yang ia pikirkan.


"Pa, ku bahkan tidak pernah bekerja di perusahaan sebelumnya," sela Daniel.


"Tidak apa-apa, ada aku." Bianca tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya cepat menatap Daniel.


"Papa percaya padamu, Daniel. Kau berhak mencoba kesempatan ini," tegas Abraham.


Daniel merasa keberatan. Ia sama sekali tidak punya pengalaman secara langsung di perusahaan besar, bagaimanapun bisa ia langsung menjadi seorang CEO? Meskipun kini ia tengah menempuh pendidikan tentang bisnis dan management, namun Daniel merasa kurang pantas.


"Bukankah sebaiknya Bianca saja yang menggantikan Papa? Bukannya aku menolak, Pa. Tapi ini demi kebaikan perusahaan. Biarkan Bianca menjadi CEO sampai aku siap. Aku masih perlu banyak belajar," jelas Daniel.


"Aku perlu belajar dari bawah, biarkan aku naik perlahan dengan usahaku. Bukannya aku tidak menghargai Papa, tapi ...."


Daniel kesulitan merangkai kata-kata, namun Abraham tampak paham dan hanya tersenyum.


"Tidak salah aku mengambil keputusan dalam menerima Daniel sebagai menantu. Rupanya dia benar-benar baik, dia sama sekali tidak tertarik dengan penawaran besar yang sangat diimpikan banyak orang," batin Abraham.


Selain karena Abraham sangat percaya pada Daniel, Abraham pun ingin melihat anak dan menantunya bisa bahagia. Terlebih, ia ingin melihat orang yang telah menyakiti Bianca menyesal karena telah membuang berlian berharga.

__ADS_1


***


__ADS_2