Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Kabar Bahagia


__ADS_3

Daniel dan Bianca tidak tahu apa yang terjadi, namun firasat mereka mengatakan jika tangisan itu berkaitan dengan Darren.


"Ada apa, Ma?" tanya Daniel. Ia dan Bianca duduk di sebelah kanan dan kiri Sintia, lalu Bianca dengan lembut merangkul bahu ibu mertuanya.


"Kenapa Mama menangis sendirian di sini? Jika terjadi sesuatu, katakan pada kami," ucap lirih Bianca.


Sintia masih tidak bicara, wanita paruh baya itu hanya menggeleng lemah. Di sampingnya, Daniel dan Bianca hanya saling pandang. Mereka tidak ingin memaksa Sintia bicara, namun hanya menemaninya hingga tenang.


Setelah Sintia tenang, Daniel membawa sang Mama masuk ke dalam rumah. Bianca pergi ke dapur sendiri untuk membuat segelas teh chamomile hangat.


"Apa Kakak datang?" tanya Daniel saat Bianca sedang di dapur. Sintia mengangguk.


"Maafkan Kakak, Ma. Aku paham Mama pasti masih merasa sakit hati, tapi bagaimanapun, dia sudah menyesali perbuatannya. Meski sesal tidak akan memperbaiki keadaan, namun itu sudah cukup membuatnya sadar," jelas Daniel.


Sungguh anak yang baik dan pandai meraih hati orang tua. Sejak kecil, begitulah Daniel. Ia di besarkan dengan cara yang berbeda, di tuntut untuk mandiri dalam banyak hal, di tuntut untuk sering mengalah dari sang kakak. Namun nyatanya, dialah pelipur lara. Obat dari segala kesakitan dan kesedihan yang diderita orang tuanya.


Meski tidak pernah mengungkapkannya secara terang-terangan, Sintia menyesal telah memperlakukan Darren dan Daniel secara berbeda.


"Bagaimana Mama bisa memaafkannya, Daniel. Seharusnya kau masih bisa menikmati masa remajamu dengan teman-teman sebayamu, namun Kakakmu merenggut semua itu," ujar Sintia.


"Ma, aku bahagia, Ma. Pernikahanku dan Bianca bukan sebuah kesalahan, aku bahagia, kami bahagia. Aku mencintai Bianca, dan kini kami saling mencintai," jelas Daniel.

__ADS_1


Sintia kembali meneteskan air mata. Ia menatap nanar wajah Daniel, tersorot jelas sinar mata kejujuran dari kedua bola mata anak bungsunya.


"Apa kau tidak sakit hati karena Kakakmu membuatmu bertanggung jawab atas perbuatannya?" tanya Sintia.


"Tidak, aku tidak sakit hati. Tapi aku marah karena Kakak menyakiti Bianca, menyakiti Papa dan Mama. Aku marah karena Kakak menghianati kepercayaan kita. Tapi sungguh, pernikahanku bersama Bianca adalah hal terbaik dalam hidupku. Aku tidak menyesalinya."


"Anakku," ucap Sintia dengan lirih. Ia segera merangkul anak bungsunya dan menumpahkan seluruh keluh kesah di hatinya.


"Maafkan Kakak, Ma. Tuhan sudah memberinya hukuman. Sekarang dia sedang dalam kesulitan, anaknya dalam kondisi mengkhawatirkan di rumah sakit."


Sintia mengangguk, ia masih memeluk Daniel. Membiarkan beban di hatinya menguap bersama keihlasan yang ada di pundak anak bungsunya.


Beberapa saat kemudian, Bianca datang. Ia membawa tiga cangkir teh chamomile di atas nampan dan duduk di samping Sintia.


"Minum ini, Ma. Jangan terlalu banyak pikiran. Ingat kata dokter, Mama harus benar-benar menjaga kesehatan," ujar Bianca.


"Terima kasih, Sayang." Sintia mengangguk.


"Ma, ada yang ingin kami sampaikan. Aku harap, ini adalah kabar baik," sela Daniel.


"Mama tidak sabar mendengarnya." Sintia tersenyum.

__ADS_1


"Kami akan segera memiliki anak kembar. Aku akan menjadi ayah dari dua bayi sekaligus," ucap Daniel. Ia meraih tangan Bianca dan menggenggamnya erat. Keduanya tersenyum dan saling bertatapan.


"Ba-bayi kembar?" tanya Sintia tidak percaya.


"Hmm, aku sudah memeriksakan diri ke dokter, Ma. Bahkan memastikannya dua kali, dokter mengatakan bayi yang aku kandung adalah bayi kembar," jelas Bianca.


"Ya Tuhan, ini kabar baik. Ini benar-benar kabar baik. Selamat, Sayang. Selamat, Nak. Kalian akan segera menjadi orang tua yang luar biasa." Rasa syukur tidak henti-hentinya keluar dari mulut Sintia. Akhirnya, dari segala masalah yang datang, kabar baik ini adalah yang sangat mengejutkan.


Sintia memeluk Daniel dan Bianca bersamaan.


"Apa Mama bahagia?" tanya Daniel.


"Tentu saja, Mama sangat bahagia."


"Jadi, bisakah kita ke rumah sakit sekarang, Ma? Cucu Mama tidak hanya dua bayi di dalam perut Bianca, tapi juga bayi yang sedang berjuang untuk hidup di rumah sakit," ujar Daniel.


Bianca terdiam, harap-harap cemas.


Sebelum memberi jawaban, Sintia tampak menghela napas panjang.


"Baiklah, kita akan menjenguknya," jawab Sintia.

__ADS_1


***


__ADS_2