
Hampir dua minggu sejak kematian Vania, Darren nampak amat sangat terpuruk. Ia bahkan tidak pernah menelepon Daniel untuk menanyakan kabar Heera.
Sementara kedua orang tua Darren, mulai rela dan ikhlas menerima kembali kehadiran Darren jika laki-laki itu ingin kembali pada keluarga. Karena melihat apa yang telah Darren alami sejauh ini, Sintia dan Bramantyo sadar jika mungkin ini hukuman untuk anak sulungnya karena doa-doa mereka.
Darren sangat terpuruk dan terpukul, bukan karena kehilangan Vania, namun karena kenyataan pahit yang ia terima.
Ia telah menyia-nyiakan Bianca, bahkan tidak mengakui bayi yang jelas-jelas darah dagingnya. Namun ia memilih Vania, wanita yang kini sudah terbukti hanya menjadikannya alat balas dendam, serta menipunya mentah-mentah.
Setelah cukup lama merenungi kesalahan dan dosa-dosanya yang teramat banyak, Darren dengan tulus datang ke rumah orang tuanya. Ia memohon maaf dengan sungguh-sungguh, meminta Bramantyo dan Sintia untuk memaafkan segala kesalahannya di masa lalu. Darren telah sadar, bahwa ia sudah melampaui batas.
Tidak lupa, hari ini ia menyempatkan diri datang ke rumah Daniel dan Bianca. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan, juga yang ingin ia lakukan.
"Aku membayar pengasuh untuk membantu Bianca mengurus Heera. Bianca sedang hamil, Kak. Aku tidak bisa membiarkannya mengurus Heera sendirian," jelas Daniel.
Kini Daniel dan Heera sedang menemui Darren di ruang tamu, sementara Bianca berada di ruang tengah menonton televisi sendirian.
"Dia tampak sehat," ucap Darren lirih. Ia menatap bayi perempuan lucu yang tengah bermain di stroller sambil memasukkan jari jempol ke dalam mulutnya.
"Tentu saja, kami melakukan yang terbaik untuk merawatnya."
__ADS_1
"Hmm." Darren nampak menghela napas panjang. Sudah lebih dari tiga puluh menit ia duduk di rumah ini, namun belum menyentuh Heera sama sekali.
Daniel paham apa yang Darren rasakan. Namun bagaimanapun, Heera adalah bayi tidak berdosa. Ia tidak tahu apa-apa. Ia hanya korban dari ketidakadilan hidup.
"Kau tidak ingin membawanya pulang?" tanya Daniel. "Aku ingin kalian melakukan tes DNA, agar hasilnya juga jelas. Bukankah masih ada harapan?" lanjutnya.
Darren diam dan tampak berpikir. Ia hanya menatap Heera dan merasakan dadanya berdesir. Wajah cantik bayi itu, lesung pipitnya, serta senyum yang begitu tulus, membuat hati Darren tergerak. Ia sudah melakukan banyak dosa dan kesalahan, dan ia tidak ingin menyakiti siapapun lagi.
"Tidak perlu, aku tidak mau melakukan tes DNA," tolak Darren.
"Lalu bagaimana dengan Heera? Apa kau akan menelantarkannya begitu saja?" tanya Daniel dengan nada sedikit kesal.
Terdengar melegakan, Daniel hampir akan mengeluarkan pidato panjang di depan saudaranya.
"Aku akan membawanya pulang," tegas Darren.
"Ah, syukurlah." Daniel menghembuskan napas perlahan.
"Bisakah aku bertemu dan bicara dengan Bianca?" pinta Darren. Ia menatap adiknya, ada rasa tidak enak hati, namun harus ia utarakan dengan jelas.
__ADS_1
"Aku ragu dia mau menemuimu, Kak."
"Aku mohon, ada hal yang benar-benar ingin aku sampaikan."
Daniel terdiam, menatap Darren beberapa saat lalu bangkit dari tempatnya duduk. Daniel menuju ruang tengah dan melihat sang istri sedang asik menonton televisi.
"Sayang," sapa Daniel. Ia mencium kening Bianca.
"Hmm?"
"Kakak ingin bicara denganmu, sepertinya ada hal yang penting. Apa kau tidak keberatan menemuinya?"
"Hal penting apa?"
"Entahlah, aku tidak memaksa jika kau menolak."
Bianca terdiam, ia sudah menganggap semua masalah dan urusan dengan mantan pacarnya itu telah usai. Apa lagi yang harus mereka bahas?
***
__ADS_1