
Hari demi hari berganti. Waktu berlalu begitu cepat. Daniel dan Bianca semakin menampakkan keromantisan mereka di depan semua orang.
Jika pada awalnya yang sering merasa malu dan canggung adalah Bianca, namun nampaknya kini ia lebih berani.
Setiap pagi, Daniel dan Bianca berangkat bersama dengan mobil yang sama. Daniel menerima sebuah hadiah mobil mewah dari sang mertua beberapa minggu lalu, namun ia masih enggan memakainya kecuali untuk pergi berkencan bersama istrinya.
"Sayang, kau lupa sesuatu," ucap Bianca sambil tersenyum genit. Saat ini mereka berdua sedang berdiri di luar bodi mobil yang terparkir di dekat gerbang kampus. Keduanya selalu menjadi pusat perhatian karena sering bermesraan di depan mahasiswa atau mahasiswi lain.
"Ah, ya." Daniel merangkul pundak Bianca dan memberikan satu kecupan manis di kening wanita itu.
Kebahagiaan selalu mengalir deras untuk mereka. Keduanya pun sama-sama memahami kekurangan masing-masing dan berusaha untuk saling melengkapi.
"Hati-hati di jalan, Sayang," ujar Daniel sambil berjalan memasuki gerbang kampus.
"Aku akan menunggumu di rumah. Bye!" Bianca melambaikan tangan mengiringi langkah kaki Daniel yang semakin menjauh.
Bianca tersenyum senang, hari ini ia akan diam-diam pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Ada sesuatu yang ia curigai selama beberapa hari terakhir, namun ia masih ragu untuk menyampaikannya pada Daniel sebelum ada kepastian yang meyakinkan.
__ADS_1
Saat hendak masuk ke dalam mobil, seseorang yang sangat ia kenali berjalan mendekat. Namun, Bianca merasa kini tidak ada lagi urusan dengan orang itu. Bianca tidak peduli, ia menarik pintu mobil dan hendak masuk.
"Tunggu, Bi," cegah wanita itu. Dengan perut yang sudah membuncit besar, wanita itu berdiri di belakang Bianca.
"Aku sedang buru-buru. Jika tidak ada yang penting, aku harus pergi," ucap Bianca ketus, bahkan tanpa menoleh.
"Aku ingin bicara."
"Katakan saja sekarang," Bianca berbalik, menatap sesorang yang dulu pernah ia anggap sebagai seorang saudari. "Bukankah kita sudah tidak ada urusan?" tanyanya.
"Aku tahu kau membenciku, tapi aku mohon selamatkan masa depan bayi di dalam kandungan ku. Aku dan Darren sedang dalam kondisi yang sangat buruk, bisakah kau membantu kami agar orang tua Darren memaafkan kami? Aku tahu mereka akan mempercayaimu."
"Apa kau tidak punya perasaan? Aku dipecat dari kampus satu bulan yang lalu, bahkan Darren menjadi pengangguran karena tidak ada perusahaan yang mempekerjakannya," jelas Vania.
"Aku? Tidak punya perasaan?" Bianca tersenyum sambil menggelengkan kepala pelan. "Lalu, apa kau sendiri punya perasaan?"
"Bianca! Kali ini tolong, bayi ini akan segera lahir, dan kami butuh bantuan," keluh Vania.
__ADS_1
"Jangan pernah mengemis lagi padaku, karena aku sudah tidak punya sisa belas kasihan padamu!" seru Bianca. Ia berbalik dan hendak masuk ke dalam mobilnya, namun Vania memegang erat lengannya.
"Aku tahu pasti ada sesuatu yang membuat kami hidup susah seperti ini. Aku kehilangan pekerjaan, Darren bahkan tidak punya pekerjaan. Apa ini caramu membalas dendam?"
"Vania, aku terlalu bahagia sampai tidak punya waktu untuk memikirkan kalian, apa lagi membalas dendam."
"Tidak, kau pasti dalang di balik semua ini. Kau tahu betul tentang aku dan Darren, seharusnya kami bahkan bisa bekerja dengan mudah meski tanpa bantuan siapapun."
"Itu urusan kalian. Berhenti melibatkan aku!"
"Atau, papamu yang melakukannya? Dia selalu memanjakanmu, dia pasti membalaskan dendammu," ujar Vania.
Bianca menarik napas dalam-dalam, menahan diri agar tidak meledak di depan kampus suaminya.
"Berhenti menyalahkan kami atas nasibmu, Vania. Bukankah kau sendiri yang memilih untuk menghianatiku? Mungkin ini teguran dari Tuhan atas perbuatanmu," jelas Bianca sambil tersenyum dengan tenang.
"Berkacalah, tapi jangan di kaca mobilku. Aku khawatir kacanya akan terkontaminasi oleh keburukanmu," lanjut Bianca. Masih dengan gurat senyum yang begitu anggun dan mempesona.
__ADS_1
***