
Semakin Sintia melihat Bianca, semakin bersalah pula wanita itu. Ia sangat menyayangkan Darren berbuat sekejam itu pada wanita sebaik ini.
Kebaikan Bianca sudah tidak diragukan lagi. Bahkan saat pertama kali Bianca diperkenalkan di keluarga ini, semua orang sudah menyukainya.
Dengan pijatan lembut, Bianca menemani Sintia di dalam kamar. Menginap selama satu minggu di rumah sakit tentu membuat Sintia bosan, namun karena keberadaan Bianca, wanita paruh baya itu tetap merasa senang dimanapun ia berada.
"Mama tidak lelah, Sayang," ucap Sintia.
"Tidak apa-apa, Ma. Pijatan lembut di kaki juga bisa melancarkan peredaran darah," jawab Bianca.
Beberapa saat kemudian Sintia terdiam. Ia menatap Bianca dari ujung rambut hingga ujung kaki, memperhatikan wajah ayu menantunya.
"Apa kau bahagia?" tanya Sintia. Bianca menoleh, pandangan matanya bertemu dengan mata ibu mertuanya.
"Aku bahagia, Ma. Tidak ada alasan untuk aku menderita terus menerus. Daniel membuatku bahagia," jawab Bianca.
"Benarkah?" Sintia menatap Bianca dengan mata berkaca-kaca.
"Ma, apa aku pernah berbohong? Aku sungguh bahagia bersama Daniel."
__ADS_1
Segurat senyum terukir indah di sudut bibir Sintia. Ia meraih tangan Bianca lalu memeluk menantunya itu.
"Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama atas semua yang terjadi selama ini. Mama sungguh bersyukur jika Daniel mampu membahagiakanmu," ujar Sintia. Paling tidak, beban hatinya kini sedikit berkurang.
Sementara Sintia dan Bianca berada di kamar, Daniel dan Bramantuo duduk di ruang tengah. Daniel duduk di samping Papanya sambil mengusap punggung laki-laki paruh baya itu.
Meskipun Bramantyo berkata keras dan kasar pada Darren dan juga Vania, dalam lubuk hatinya ia merasa tidak tega. Bagaimana bisa ia bersikap seperti itu pada anaknya sendiri?
Namun jika bukan dengan cara itu, mungkin Darren tidak akan pernah menyadari kesalahannya dan tidak pernah menyadari betapa besar besar kekecewaan orang tua pada sikapnya.
"Lebih baik Papa beristirahat, biarkan aku dan Bianca yang menjaga Mama," pinta Daniel.
"Kami memutuskan untuk tinggal sementara di sini sampai Mama membaik, Pa. Jangan khawatir."
Bramantyo tersenyum. Ia sangat bersyukur, ada Daniel sebagai pengobat segala kesusahan dan kesulitan dalam hatinya.
Demi menjaga Sintia, Daniel dan Bianca setiap hari dalam dua minggu terakhir harus pulang ke rumah ini agar mereka bisa mengetahui keadaan Sintia sekaligus merawatnya.
Meski harus meninggalkan rumahnya yang nyaman, Bianca tidak pernah mengeluh, ia dengan senang hati mengurus ibu mertuanya tanpa melibatkan perawat atau asisten rumah tangga.
__ADS_1
****
Setelah Sintia pulih, pada akhirnya mereka bisa pulang dan beraktifitas seperti biasa. Daniel mulai disibukkan dengan kegiatan kuliahnya, sementara Bianca kembali mengurus semua pekerjaan kantor yang menumpuk.
Siang ini, Daniel mengunjungi Bianca ke kantornya setelah ia menyelesaikan semua mata kuliahnya. Bocah laki-laki itu membantu Bianca membereskan beberapa pekerjaan kantor sekaligus menyiapkan materi pertemuan penting dengan para petinggi kantor.
"Apa kau tidak keberatan jika kita pulang lebih malam?" tanya Bianca.
"Asalkan bersamamu, aku bahkan rela menginap di trotoar jalanan," jawab Daniel.
"Aku sungguh-sungguh!" Bianca mencubit pinggang Daniel. Setelah sekian lama berada dalam masa sulit karena keadaan Sintia, pada akhirnya mereka bisa kembali bermesraan tanpa mengkhawatirkan apapun. Bahkan kini keduanya tidak malu untuk saling menunjukkan kasih sayang di depan umum.
Saat keduanya sedang asik bercanda di sofa ruangan Bianca, tiba-tiba datang seseorang yang sangat mengejutkan.
Orang itu datang bersama seorang laki-laki muda di belakangnya sambil membawa setumpuk berkas di tangan.
Karena malu, Bianca dan Daniel segera membenahi pakaian mereka yang berantakan akibat saling tindih.
***
__ADS_1