Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Rumah Sakit


__ADS_3

Pejantan tangguh adalah salah satu hal yang selalu terngiang-ngiang di kepala Bianca. Entah sudah berapa kali Daniel membahas tentang hal itu, Bianca selalu mengingatnya.


Daniel selalu berpikir jika Bianca tidak terlalu percaya padanya perihal hubungan mereka di atas ranjang. Padahal, Daniel adalah satu-satunya laki-laki yang membuat Bianca sering merasa nyeri saat berjalan bahkan kesulitan mencari alasan untuk menolak karena terlalu sayang untuk dilewatkan.


Bagi Bianca, usia Daniel memang jauh lebih muda darinya. Namun dalam hubungan di atas ranjang, Daniel tidak ada duanya. Laki-laki itu selalu punya seribu cara untuk membuat Bianca bahagia, tidak hanya mementingkan kepuasannya sendiri, melainkan memperhatikan kepuasan pasangannya.


"Baiklah, Sayang. Kau sangat jantan!" seru Bianca sambil mengerlingkan sebelah mata.


Daniel tersenyum dan memeluk Bianca dengan erat. Ini adalah kebahagiaan terbaik baginya. Di usianya yang genap dua puluh tahun, Tuhan memberi sebuah hadiah yang tidak ternilai harganya. Bagi Daniel, Bianca adalah segalanya, dan kini kebahagiaan itu telah berkembang menjadi suatu anugerah yang tak terhingga.


"Terima kasih, Sayang. Kau memberiku kehidupan yang lbih berarti. Kau membuatku menjadi orang paling beruntung di dunia ini," ungkap Daniel.


"Tidak, kau lah yang sudah menyempurnakan hidupku. Terima kasih telah hadir dan bersabar bersamaku selama ini," balas Bianca.


Keduanya berpelukan di suasana yang haru. Setelah melepas pelukan, Daniel kembali menatap secarik kertas di tangannya.


Daniel memang tidak bisa memahami gambar itu dengan jelas, namun hatinya bisa menjelaskan apa yang tidak tertulis di dalamnya.

__ADS_1


"Apa ini sungguh terjadi? Dua bayi sekaligus?" tanya Daniel. Matanya berkaca-kaca.


"Aku pun awalnya tidak mempercayainya, tapi aku yakin Tuhan memberikan hadiah ini karena Tuhan percaya bahwa kita pantas mendapatkannya," jawab Bianca.


Kebahagiaan ini bahkan tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata. Daniel terdiam dengan jantung berdegup kencang. Ia berjongkok di depan Bianca lalu meraba perut rata istrinya.


"Apa kalian sudah bisa mendengar? Ini suara Papa, Sayang," bisik Daniel. Ia mendaratkan beberapa ciuman di perut Bianca.


Satu hal yang Bianca khawatirkan rupanya tidak terjadi. Ia bahagia Daniel bisa menerima kehamilan ini meski terasa terlalu cepat.


"Apa kau bahagia?" tanya Bianca. Ia mengusap rambut sang suami yang masih asik menempelkan wajah di perutnya.


"Aku hanya khawatir jika kau merasa ini terlalu cepat. Aku takut kau belum siap di usiamu yang masih terlalu muda," ungkap Bianca.


"Jangan katakan hal seperti itu. Apa kau pikir aku seperti itu? Sejak pertama kali aku mengucapkan janji suci itu, sejak itulah aku siap atas apapun yang terjadi," ujar Daniel.


"Terima kasih, kau memang tidak pernah mengecewakanku." Bianca merasa lega.

__ADS_1


Setelah suasana haru usai, Daniel dan Bianca menikmati beberapa potong kue coklat. Meski bentuknya kurang indah dengan hiasan seadanya, namun kue itu terasa sangat enak. Pahit dan keras pun tidak terasa karena dinikmati dengan penuh cinta.


Keesokan paginya, Daniel sengaja membolos kuliah. Ia mengajak Bianca datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kembali kandungannya. Jika tidak mendengar dan melihat secara langsung, Daniel merasa kurang puas.


"Aku sudah memastikan bahwa mereka sehat, Sayang. Bisakah kita ke dokter lain kali?" pinta Bianca. Ia hanya tidak ingin suaminya melewatkan sesi pembelajaran di kampus.


"Tidak, aku sudah tidak sabar."


"Bagaimana jika nanti siang setelah kau pulang kuliah?"


"Aku tidak bisa bersabar sampai nanti, Sayang. Apa kau tahu betapa aku menginginkan momen-momen seperti ini? Aku mohon," bujuk Daniel.


"Baiklah, kita periksa dengan cepat lalu aku akan mengantarmu ke kampus. Bagaimana?"


"Hmm, baiklah, baiklah." Daniel mengangguk setuju.


Mereka bergegas ke rumah sakit setelah menelepon dan membuat janji temu. Namun, saat keduanya tiba, mereka terpaku pada seseorang yang sangat mereka kenal.

__ADS_1


Seorang laki-laki yang tengah menangis di depan ruang gawat darurat sendirian.


***


__ADS_2