Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Surat Terakhir


__ADS_3

Mendengar nama Vania, Bianca mengernyitkan dahi. Sejujurnya ia tidak peduli, namun ekspresi wajah Daniel membuatnya penasaran.


"Kenapa?" tanya Bianca.


"Pagi tadi Vania tidak hadir dalam sidang perceraiannya. Aku dan Kakak berpikir jika dia memang berniat tidak datang agar proses perceraian bisa berjalan cepat. Nyatanya, dia ditemukan di rumahnya dalam keadaan tidak bernyawa," jelas Daniel.


Bianca membeku, seluruh aliran darah di tubuhnya seakan terhenti. Wanita itu merasakan seluruh persendian di tubuhnya melemah.


"Bagaimana bisa?" tanya Bianca terbata-bata. Kedua matanya berkaca-kaca.


"Polisi menduga dia bunuh diri, karena ada banyak bekas obat-obatan di kamarnya."


Sontak Bianca memandang bayi kecil yang sedang asik menghisap jari jempolnya di atas kasur. Bayi kecil itu bermain sendirian, nampak tersenyum samar-samar.


Hati Bianca teriris, Heera telah kehilangan sosok sang ibu sepenuhnya. Bahkan di usianya yang sangat kecil.


Bianca dengan lembut menggendong Heera, mendekap bayi itu di dadanya. Bianca menangis, menangisi nasib Heera yang malang.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Kakakmu?" tanya Bianca.


"Syok, mereka terakhir kali bertemu saat sidang pertama. Tidak ada yang mnyangka jika akan berakhir seperti ini."


"Aku pikir aku mengenal Vania lebih dari siapapun, namun saat mengetahui semua perilakunya di belakangku, aku merasa tidak mengenal dia sama sekali. Tapi, bagaimana bisa dia berpikir mengakhiri hidupnya seperti ini?"


"Apa dia tidak ingin melihat Heera tumbuh dewasa? Paling tidak, dia punya tanggung jawab sebagai seorang ibu," lanjut Bianca.


"Mungkin dia sudah putus asa," gumam Daniel.


"Biarkan Heera menginap di sini untuk beberapa hari ke depan, Sayang. Kau dan Kakakmu bisa mengurus semua keperluan terakhir Vania," ungkap Bianca.


Setelah berbicara pada Bianca dan memastikan bahwa sang istri baik-baik saja, Daniel menelepon kedua orang tuanya untuk memberitahu kabar ini.


Demi kepentingan penyelidikan, Vania masih harus melakukan pemeriksaan medis terakhir di rumah sakit secara lengkap, sementara polisi masih terus melakukan penggeledahan di rumahnya untuk memperkuat bukti bunuh dirinya.


Saat malam menjelang tidur, Daniel dikejutkan dengan sebuah panggilan dari Darren. Sang kakak mengatakan jika Vania meninggalkan sebuah surat penting.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Daniel berpamitan pada Bianca dan segera menuju ke rumah Vania. Ia melihat Darren sudah berada di sana lebih dulu.


"Surat apa?" tanya Daniel. Ia melihat sang kakak duduk dengan tubuh lemah di atas lantai. Terlihat air mata yang mengering di wajah Darren. Wajahnya tampak kusut dan menyedihkan, ia bahkan lebih terlihat sedih daripada saat pertama kali mendengar kabar kematian sang istri.


Darren menyerahkan secarik kertas berisi tulisan tangan Vania. Perlahan, Daniel membacanya dalam hati.


Dear Darren,


Maaf telah mengecewakanmu dan membuat keluargamu malu. Sampaikan juga permintaan maafku pada orang-orang yang sakit hati karena perbuatanku.


Aku berpikir dunia ini tidak adil. Tuhan memberikan kehidupan yang sempurna pada orang lain namun tidak dengan hidupku.


Aku hanya ingin bahagia, namun tidak menyangka bahwa rasa iri hati serta dengki hanya akan membuat hancur hidupku.


Darren, jika suatu saat terjadi sesuatu pada Heera dan kau mengetahui sebuah fakta yang tidak seharusnya, maka sekali lagi maafkan aku.


Sebelum Heera tumbuh dalam rahimku, aku sudah lebih dulu bersama dengan laki-laki yang tidak aku kenal di sebuah klub malam, bahkan saat kita menjalin hubungan. Maafkan aku jika kenyataannya dia bukan darah dagingmu.

__ADS_1


Darren, hanya kau yang Heera miliki. Aku titipkan dia padamu, dan maafkan aku.


Vania.


__ADS_2