
Apa maksud Vania? Ia hanya menjadikan Darren alat?
Darren sangat kesal dengan pengakuan Vania, tanpa aba-aba ia melayangkan satu tamparan ke wajah wanita itu.
Vania meringis menahan nyeri. Panas di pipinya tidak sebanding dengan panas hatinya.
Selama ini Darren tidak pernah berlaku kasar padanya, namun kali ini Darren tampak sangat marah hingga ia tega menyakiti Vania secara fisik.
"Kau menamparku?" tanya Vania dengan wajah datar. Satu tangannya menyentuh kulit pipi yang terasa panas.
"Kau pantas mendapatkannya!" seru Darren sambil mengacungkan jari telunjuk tepat di depan wajah Vania.
"Aku tidak akan lagi percaya pada ucapanmu, kau sama sekali tidak bisa dipercaya, Vania. Aku kecewa padamu!" lanjutnya.
Vania menatap Darren dengan tatapan sengit. Tidak sedikitpun di matanya terlihat ketakutan terhadap sang suami.
"Kau pikir selama ini aku mencintaimu dengan tulus? Kau pikir aku sungguh-sungguh menginginkanmu?" tanya Vania.
Wanita itu menggelengkan kepala pelan sambil menarik sedikit sudut bibirnya. Terlihat senyum licik menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Aku melakukan semua ini karena rasa sakit hatiku, Darren. Aku melakukan ini pada keluarga yang telah membuat keluargaku berantakan!"
"Apa maksudmu?" Darren menyipitkan mata. "Jangan mencari pembelaan, itu tidak berarti lagi saat ini."
"Kau pikir siapa yang membuat perusahaan keluargaku bangkrut? Kau pikir siapa yang menyeret Papaku ke penjara? Abraham, Dareen! Abraham!" Vania berucap dengan menggebu-gebu.
Darren nampak sangat terkejut. Laki-laki itu kesulitan berkata-kata.
"Kau terkejut?" tanya Vania.
"Selama ini kau hanya alat bagiku. Kau adalah alat untuk membalas rasa sakit hatiku. Bagaimana lagi aku membalas dendam pada keluarga Bianca jika bukan dengan cara ini?"
"Selama ini, Bianca tidak pernah tahu, bahwa Abraham lah yang menjadi dalang atas penjeblosan Papaku ke penjara."
"Lalu kenapa Abraham tega menusuk temannya sendiri dari belakang?" tanya Vania.
"Tapi ... Tapi Papamu terbukti bersalah atas kasus pencucian uang!" bantah Darren.
"Benar! Tapi kenapa harus Abraham yang melaporkannya? Abraham adalah otak dari pengusutan kasus itu, yang membuat aku kehilangan Mamaku, Papaku, dan semua kebahagiaanku!"
__ADS_1
"Kau tidak bisa membalas dendam atas sesuatu yang terbukti benar, Vania. Keluargamu memang bersalah!" seru Darren.
"Aku tidak peduli, Darren! Yang aku tahu, mereka adalah orang jahat yang sesungguhnya!"
"Tidak bisakah membicarakan semuanya secara baik-baik? Kenapa harus membuat hidup keluarga kami menderita? Padahal selama ini, keluargaku dan keluarga Bianca berteman baik dalam banyak hal."
"Bukankah apa yang aku lakukan pada Bianca tidak sebanding dengan apa yang Abraham lakukan pada keluargaku?"
"Aku menjadi sebatangkara, Papaku mengalami gangguan jiwa, Mamaku meninggal. Sementara Bianca dan keluarganya, tetap hidup bahagia bergelimang harta."
"Kau tidak berhak menyalahkan mereka, Vania!"
"Paling tidak, mereka harus merasakan sedikit penderitaan, Darren. Tidakkah kau kasihan padaku?"
Darren menghembuskan napas kasar. Ia sudah muak mendengar perkataan Vania. Bahkan jika memang itulah kebenaran dan alasan jujur Vania atas semua perbuatannya, Darren sudah kehilangan rasa iba.
Vania menatap punggung Darren yang berjalan pergi meninggalkannya. Darren kembali ke ruang tamu untuk melihat keadaan putrinya, sementara Vania masih berdiri mematung bercucuran air mata.
"Tidak satupun orang mau mengerti penderitaanku, tidak ada satupun orang yang peduli alasan aku menjadi jahat. Mereka hanya peduli pada kejahatanku tanpa mendengarkan alasanku!"
__ADS_1
Dunia Vania hancur sejak keluarganya hancur. Dan yang lebih menyakitkan baginya, keluarga Bianca adalah orang yang berperan besar dalam hancurnya hidupnya.
***