Menikahi Calon Adik Ipar

Menikahi Calon Adik Ipar
Sariawan Atau PMS?


__ADS_3

Daniel tidak merasa kesal ataupun marah. Ia menatap wajah istrinya dan menghela napas panjang sambil berpikir positif, mungkin Bianca sedang lelah atau sedang tidak mood.


"Sayang, apa ada sesuatu yang terjadi hari ini?" tanya Daniel.


"Tidak," jawab Bianca singkat. Wanita itu mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur di sampingnya.


Suasana kamar nampak redup, hawa dingin dari pendinginan ruangan membuat Bianca menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Baiklah, jika ada masalah tolong jangan di simpan sendiri. Aku akan berusaha membantu," ujar Daniel.


"Hmm." Bianca mengangguk.


Daniel menggaruk lehernya, tidur miring menghadap sang istri yang sudah memejamkan mata.


"Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku sempat salah bicara?" tanya Daniel pada dirinya sendiri. Sebab, tidak biasanya Bianca bersikap cuek saat mereka berada di atas tempat tidur.


Sudah menjadi kebiasaan Bianca untuk menceritakan kesehariannya, masalah yang ada di perusahaan, hingga mimpi yang ia alami kemarin malam saat mnjelang tidur. Bianca menyukai sesi pillow talk setiap malam, mereka tidak pernah melewatkan hal itu.


Namun malam ini, Bianca nampak berbeda. Daniel pun merasa heran, namun tidak tahu apa yang jadi penyebabnya.


***

__ADS_1


Pagi-pagi sekali, Daniel terbangun dan mendapati Bianca sudah tidak lagi ada di sampingnya. Hari ini ia sedang libur kuliah, dan biasanya mereka bangun lebih siang karena punya waktu lebih banyak sebelum pergi ke kantor.


Daniel keluar kamar sambil mengucek matanya yang masih mengantuk. Ia datang ke dapur dan melihat Bianca tengah memasak.


"Sayang, kenapa bangun pagi sekali?" tanya Daniel. Ia duduk di kursi makan.


"Tidak apa-apa," jawab Bianca.


"Siang ini kita ada meeting bersama beberapa dewan direksi. Kita bisa berangkat pukul sembilan jika kau masih ingin bermalas-malasan di rumah," jelas Daniel.


Bianca yang tengah mengiris wortel, tiba-tiba membanting pisau dan menoleh ke arah Daniel. Melihat hal itu, mata Daniel yang awalnya mengantuk mendadak fokus seribu persen.


"Baik, Sayang. Baik," ucap Daniel. "Lain kali hati-hati dengan pisau itu," lanjutnya sambil menelan ludah.


"Apa dia sedang datang bulan?" batin Daniel bertanya. Bianca terlihat sangat sensitif.


Setelah mendengar jawaban Daniel, Bianca kembali berbalik dan fokus ke sayur yang sedang ia potong. Wanita itu tersenyum diam-diam mendapati sang suami sedang kebingungan melihat sikapnya.


Hari ini Bianca memiliki janji dengan seseorang. Ia mengundang seorang kenalan untuk merombak kamar utama yang sudah lama tidak ditempati. Beberapa waktu lalu Daniel sempat merencanakan hal itu, namun karena saat itu Sintia sedang sakit dan dilanjutkan dengan kesibukan pekerjaan, akhirnya kamar pun tetap dibiarkan kosong.


Bianca ingin kamar itu di dekorasi ulang. Ia juga memesan beberapa perabotan baru melalui aplikasi online. Selain itu, akan ada orang yang bertugas menghias kamar menjadi kejutan ulang tahun untuk Daniel.

__ADS_1


Pukul tujuh pagi, Daniel dan Bianca sudah duduk di meja makan. Mereka makan dengan tenang. Keheningan membuat Daniel bergidik ngeri, apa yang terjadi pada istrinya?


"Sayang," ucap Daniel lembut.


"Hmm." Bianca tidak mendongak, tetap fokus pada makanan di depannya.


"Kau tidak sariawan, kan?" tanya Daniel. Bianca menggeleng. Dalam hati wanita itu tertawa, apa Daniel berpikir jika ia sariawan hingga irit bicara?


"Lalu, apa kau sedang PMS?" tanya Daniel lagi.


"Hmm, tidak juga," jawab Bianca.


"Kau baik-baik saja, kan?"


"Hmm."


"Aneh," gumam Daniel, namun masih terdengar oleh telinga Bianca.


Rumah ini terasa sepi dan menyeramkan saat Bianca menjadi irit bicara dan kurang tersenyum. Daniel pun hanya menebak-nebak, mungkin istrinya akan segera mendapatkan tamu bulanan hingga moodnya menjadi kurang baik.


***

__ADS_1


__ADS_2