Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
Pernikahan Mendadak Haidar (1)


__ADS_3

Rasanya masih seperti mimpi bagiku. Sebab, sejak satu setengah bulan yang lalu aku telah menjadi seorang suami dan kepala rumah tangga. Menikahi Aisyah Putri yang seharusnya menjadi kakak iparku.


Di pernikahan kami yang hampir menginjak dua bulan ini. Aku sama sekali belum menyentuh istriku. Melakukan kewajibanku, memberinya nafkah batin dan menjadikannya milikku seutuhnya.


Mungkin karena aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa akulah yang sudah menjadi suaminya sekarang ini.


Aku sengaja selalu menyibukkan diri di kantor. Berangkat pagi pulang malam. Hampir dua bulan aku melakukan hal konyol itu. Meski begitu, Aisyah tetap saja bersikap baik padaku. Dia selalu melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Menyiapkan segala keperluanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tak ada sedikit pun yang terlewatkan.


Sebelum tragedi itu terjadi. Hubungan kami baik-baik saja. Layaknya calon kakak ipar dan calon adik ipar. Mungkin karena usianya dan usiaku yang lumayan terpaut jauh. Aku berusia 25, sementara Aisyah berusia 28.


Dulu aku memanggilnya Kak Aisyah. Saat dia dan Abangku masih menjalani hubungan ta'aruf.


Dibandingkan denganku, Bang Haikal jauh lebih cocok untuk menjadi suaminya. Wanita sholehah lebih pantas bersanding dengan laki-laki soleh, bukan?


Tetapi... kenyataan itu bagiku tak benar adanya. Aku yang bisa dibilang urakan dan slengean jauh dari kata baik. Tiba-tiba mendadak menikahi Aisyah. Wanita solehah, lemah lembut, cantik, dan sederhana.


Aku pun tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Di mana, saat aku mendadak harus menikahi Aisyah Putri untuk menggantikan Abangku Haikal.


Flashback on...


Hari itu tepatnya tanggal 12 Desember tahun lalu.


"Bang, nggak nyangka, ya. Kalo hari ini Abang mau nikah sama Kak Aisyah. Padahal, rasanya baru kemarin Abang sama dia dipertemukan," ucapku pada Bang Haikal, yang duduk di sampingku. Dia tengah sibuk menghafal teks ijab qobul, yang sebentar lagi diucapkan di depan para saksi.


Bila kuperhatikan, raut muka Bang Haikal nampak berseri dan sangat bersih. Mungkin karena dia sejak dulu rajin wudhu dan tak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Itu sebabnya, wajahnya sangat tampan.


Aku saja terkadang merasa iri. hihihi...


Bang Haikal hanya mengulum senyum tipis di bibir, lantas menyahut, "Iya, Dar. Abang juga nggak nyangka, kalo sebentar lagi Aisyah jadi istri abang." Kulihat dia menghela napas sejenak, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kamu kapan, Dar? Kamu nggak pengen apa nikah dan jadi imam buat istrimu?"


Bang Haikal selalu seperti itu. Dia selalu saja mendesakku untuk segera menyusulnya menikah.


'Mau nikah sama siapa coba? Orang pacar aja nggak punya. Abangku ini? Suka bercanda emang,' batinku menyeru.


Berdecak kesal lantas aku menyahut, "Yaelah, Bang, nyindirnya niat amat, sih? Udah tau aku jomblo, pakek disuruh nikah, lagi! Mau nikah ama siapa coba? Kambing? apa onta?"


Bang Haikal cuma terkekeh mendengar keluhanku. "Ya, makanya cepetan cari cewek yang langsung mau diajak nikah. Kalo bisa jangan pacaran, kayak abang sama Aisyah. Ta'aruf lebih baik, bisa menjauhkan kita dari perbuatan zina sebelum menikah. Ngerti' kan maksud Abang?" cicitnya sembari menonjok pelan bahuku.

__ADS_1


Aku manggut-manggut. "Siap, Pak Ustadz. Ane bakal nyari calon bini yang kaya Kak Aisyah. Udah cantik, sederhana, baik, perfectlah pokoknya!!" seruku disertai kekehan kecil.


Memang, tak bisa kupungkiri, jika aku menginginkan seorang istri seperti Kak Aisyah. Beruntungnya Bang Haikal bisa memperistrinya. Calon istri idaman bangetlah pokoknya.


Bang Haikal tersenyum lebar. "Iya, abang doain semoga kamu bisa berjodoh dengan perempuan seperti Aisyah. Biar dia bisa membimbingmu dan merubah sikap slengean-mu. Biar kamu bisa lebih bertanggung jawab sama diri sendiri dan orang lain." Lagi-lagi dia merangkulku hangat.


Entah mengapa aku merasa, kalau ucapannya itu sebuah amanah yang harus kujalani.


Aku membalas rangkulan Bang Haikal tak kalah hangatnya. Kami saling memeluk erat seperti enggan untuk saling melepaskan.


"Kamu harus janji sama abang, kalo kamu bakal berubah jadi lebih baik lagi. Jangan pernah tinggalin sholat wajib, ingat itu!" Ucapan Bang Haikal terdengar serius.


Lalu, aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pundakku, menembus baju yang kupakai.


Tubuh Bang Haikal juga bergetar, bahunya naik turun. Sepertinya, saat ini dia sedang menangis.


Buru-buru aku mengurai pelukan kami. "Abang nangis?" tanyaku seraya menelisik wajah yang telah basah itu. Kesedihan kentara sekali di wajah Bang Haikal. Tak khayal, manikku ikut memanas melihatnya.


Dengan punggung tangannya, Bang Haikal menyeka lelehan air mata di pipi. "Mungkin, abang cuma terharu aja, Dar," ucapnya. "Abang pengen kamu lakuin semua pesan abang. Sebab kelak, kamu juga akan berumah tangga dan menjadi seorang suami. Kamu memiliki beban besar dan berat di pundakmu ini," tukas Bang Haikal seraya menepuk-nepuk pundakku.


Demi menghargai dan menghormati pesan Abangku, aku cuma bisa mengangguk. "In Sya Allah, Bang. Haidar bakal inget terus pesen Abang," ucapku, lalu meraih tangan Bang Haikal. Menggenggam tangan yang telah mengajariku banyak hal.


Bang Haikal menyeringai. "Gitu dong... Ini baru adeknya abang," serunya yang lantas merangkulku lagi.


Aku membalas pelukan Bang Haikal. Pelukan hangat yang selalu kudapatkan kapan pun aku mau.


"Ekhm! Mas Haikal sudah siap?" Tiba-tiba suara penghulu yang sejak tadi berada di samping kami menginterupsi Bang Haikal.


Kami pun segera mengurai pelukan, lalu menghadap lurus ke depan, menatap bergantian penghulu, Abah dan calon mertua Bang Haikal.


"In Sya Allah saya siap, Pak," sahut Bang Haikal, yang terdengar gugup. Sudut mataku lantas meliriknya sekilas, ada guratan kecemasan tercetak di wajahnya.


Tetapi, saat aku perhatikan lagi, ternyata wajahnya juga sedikit pucat dan tegang. Kuraih tangannya ke genggamanku. Tangannya sangat dingin sedingin es.


Aku tersentak saat menurunkan pandanganku ke telapak tangan Bang Haikal. Pucat dan agak membiru. "Abang sakit? Tangan Abang dingin banget lho ini? Muka Abang juga pucet banget." tanyaku khawatir, sembari menatap bergantian wajah dan telapak tangan Bang Haikal.


Bibirnya mengulas senyum khas, lalu menyahut, "Mungkin abang cuma gugup, Dar." Dia pun menepuk-nepuk punggung tanganku yang masih menggenggam tangannya.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk, berusaha percaya dengan perkataannya. Namun, kepercayaanku runtuh seketika saat Bang Haikal tiba-tiba mengerang kesakitan.


"Argh!"


Manikku sontak membola ketika melihat Bang Haikal meringis sambil memegang dada sebelah kiri. Dia nampak kepayahan hingga menundukkan kepala.


"Bang! A-abang kenapa? Abang sakit? Ki-kita ke rumah sakit, ya, Bang? Acaranya bisa kita lanjutkan kalo Abang udah agak baikan." Aku jelas merasa panik, melihat keadaan Abangku yang terus saja meringis seperti menahan sakit.


Aku juga melihat peluh keringat bercucuran di pelipisnya. Padahal, ruangan yang kami tempati sekarang sangat dingin. Tangan Bang Haikal gemetar hebat. Dengan sigap aku merentangkan tanganku ke belakang pundaknya. Menopang tubuh kepayahannya.


Bang Haikal tak menjawabku, dia justru beristighfar sambil memegangi dadanya yang mungkin terasa sakit. "Astaghfirullah hal'adzim... Astaghfirullah hal'adzim... Astaghfirullah hal'adzim..."


Deg! Perasaanku mendadak tidak enak. Jangan-jangan penyakit jantungnya kambuh. Tidak! Tidak mungkin!


Aku menggeleng berkali-kali, berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran buruk dan negatif. Meski aku sendiri sudah melihat Bang Haikal seperti ini sebelumnya. Namun, aku berusaha tetap berpikir positif. Semoga dugaanku salah.


Para saksi, calon ayah mertuanya, Abah, juga penghulu kini mulai ikut panik. Mereka mendekat pada kami.


"Dar, kerah bajunya di buka sedikit. Biar abangmu gak gerah." Abah menyuruhku untuk membuka satu kancing kemeja Bang Haikal, dan tanpa membantah aku segera melakukannya. Dengan tangan yang ikut-ikutan tremor, aku melepas satu kancing itu.


"Nak... Nak Haikal. Kamu sakit? Kalo gitu kita ke rumah sakit sekarang. Ijab qobulnya bisa ditunda dulu. Yang terpenting kesehatan kamu." Kali ini aku mendengar calon mertua Abangku bertanya sekaligus memberikan solusi yang tepat menurutku.


Beliau melepas peci di kepala Bang Haikal lalu mengusap keringat yang terus saja bermunculan dengan tisu.


"Iya, Nak, lebih baik kita ke rumah sakit. Abah takut kalau jantungmu kambuh," timpal Abah yang sudah sangat mencemaskan kondisi anak sulungnya. Aku lihat mata tuanya sudah memerah dan berkaca-kaca.


Bang Haikal mengulas senyum, lalu menggeleng. Maniknya berkaca-kaca. "Haikal, b-baik-baik aja, Bah. Ja—"


"Bang!"


"Haikal!"


###


bersambung....


Jangan lupa komentar dan dukungannya ya...^^

__ADS_1


__ADS_2