Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
Obrolan Dafa dan Tara


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain.


Tara terperanjat ketika ia membuka matanya lebar-lebar di tempat yang sangat asing baginya.


"Argh!" desisnya saat rasa pusing tiba-tiba menghujam kepalanya. "Sial! Kenapa kepalaku sangat sakit." umpatnya lagi.


"Semalem elu mabok berat! Makanya gua bawa kesini. Abis berapa botol, lu? ck!" sembur laki-laki yang berada di sampingnya. Tidurnya merasa terganggu karena suara berisik Tara.


Refleks Tara menoleh ke arah sumber suara yang terdengar dari balik punggungnya. Bola mata Tara seketika membola.


"Da-Dafa? Isshh ..." ucapnya terbata di susul dengan desisan dari mulutnya lagi. Denyutan di kepalanya semakin terasa sampai membuat Tara memijit pelipisnya perlahan.


Keterkejutan menghampiri Tara ketika melihat sosok yang berada di balik punggungnya saat ini. Sosok yang sangat ia kenal. Pria brengsek di masa lalunya.


Sudut bibir lelaki bernama Dafa itu tertarik seraya menyeringai penuh arti.


"Apa kabar, Ra? Lama kita nggak ketemu, ya? Elu tambah cantik aja." Dafa bertanya seakan ia begitu mengenal Tara.


Sedangkan Tara hanya melempar tatapan sinis ke arah lelaki yang kini hanya bertelanjang dada memperlihatkan bulu-bulu halus yang tumbuh di area tersebut.


"Elu kenapa minum banyak banget sih? Elu abis patah hati?" Dafa bertanya lagi sembari beranjak dari ranjang tidur lalu menuju dapur.


Meninggalkan Tara yang semakin merasa kesal lantaran Dafa sudah seenaknya berpenampilan seperti itu.


Bisa dilihat dengan jelas, tubuh atletisnya yang menggoda mata Tara. Dafa hanya memakai celana boxer sebatas paha. Kulitnya yang putih begitu kontras dengan parasnya yang sangat rupawan.


Haidar bahkan kalah tampan dari Dafa.


Tubuh lelaki itu begitu proposional dengan tinggi yang menjulang. Rahangnya yang tegas semakin menambah pesona pria berkebangsaan Jerman tersebut. Dafa juga memiliki mata yang biru dan alis yang tebal.


"Sialan! Kenapa mesti ketemu dia lagi, coba?" rutuknya seraya bangkit dari ranjang tidur lalu menyusul Dafa yang berada di dapur.


Keadaan Tara masih sangat berantakan. Ia juga masih memakai baju yang ia pakai semalam.


"Mandi dulu sana, lu! Cakep-cakep jorok!" Dafa menghampiri Tara yang sudah terduduk di kursi meja makan minimalis sambil menyodorkan segelas air lemon. "Nih, minum! Biar kepala lu nggak sakit." Ia lantas menarik kursi lalu ikut duduk di sebelah Tara.


Kening gadis itu mengernyit sembari menelisik gelas yang ada di genggaman tangannya.


"Apaan nih? Jangan-jangan lu mau ngerjain gue, ya?" tanyanya dengan curiga. "Nggak, mau ah! Ntar lu kasih gue obat perangsang lagi." Tara meletakkan gelas tersebut di atas meja dengan kasar.


Dafa mendengus mendengar ucapan Tara yang terkesan mencurigainya sebagai penjahat.


"Jangan kepedean lu! Kalo gue mau udah dari semalem kali gue ngerjain lu," ucapnya sambil kembali menyodorkan gelas air lemon ke hadapan Tara. "Nggak usah takut, ini tuh cuma air lemon. Biar kepala lu nggak pusing lagi."


Alis sebelah Tara menukik tajam, "Elu yakin? Lu nggak lagi ngerjain gue, 'kan? Secara gue itu tau banget lu itu kayak apa." sindiran Tara justru membuat Dafa tertawa.


Dafa refleks mengibaskan tangannya. "Tenang aja, Ra! Gue nggak akan macem-macem ama mantannya Haidar. Lu itu, 'kan, galaknya minta ampun!" kekehan Dafa malah semakin membuat darah Tara semakin mendidih. Apalagi ia tadi menyinggung tentang sang mantan yaitu Haidar.


"Nggak usah nyebut-nyebut nama dia deh!" sinis Tara seraya merotasikan bola matanya. Entah sadar atau tidak Tara meminum air lemon dari Dafa sampai habis.


Bibir lelaki itu menyeringai melihat Tara meminum air lemon pemberiannya.


'L**u nggak pernah berubah,Ra. Lu masih galak kalo lagi sama gue.' batin Dafa kala mengingat tentang pribadi Tara yang sama sekali belum berubah menurutnya.


"Oh ... gue tau nih! Lu mabok gara-gara patah hati, 'kan?"celetuk Dafa tiba-tiba. "Gara-gara di tinggal kawin ama Haidar. ck ... ck ..." Dafa berdecak mengejek nasib Tara.


"Apaan, sih, lu! Jangan sok tau deh!" Buru-buru Tara menampik ejekan Dafa dengan galaknya.


Dafa terkekeh lagi melihat tingkah Tara yang seperti itu membuatnya semakin gencar mengejeknya.


"Udah nggak usah ngeles deh, lu! Gue aja kadang ngiri sama si Haidar. Bisa-bisanya dia nikah sama calon kakak iparnya sendiri."


Seketika Tara terkejut mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Dafa.


"What? Kakak ipar? Maksud lu?" Tara semakin merasa penasaran. Ia bahkan sampai mencondongkan tubuhnya ke depan.


Beringsut mundur, Dafa pun sama terkejutnya.


"Weits! Jangan ngegas gitu donk, nona! Santai aja kali?" Senyuman mengejek masih tercetak di bibirnya.

__ADS_1


"Ah! Bawel lu! Gimana tadi? Maksudnya si istrinya Haidar itu tadinya calon kakak iparnya? Lu serius??" Tara rupanya masih ingin tau lebih jauh lagi tentang Aisyah.


Dafa terlihat begitu santai menanggapi rasa penasaran Tara. Walau sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia merasa sakit. Wanita ini benar-benar tidak pernah peka dari dulu. Berulang kali Dafa sudah memberi sinyal, namun Tara lebih memilih untuk menutup mata.


"Berarti tuh cewek tadinya calon istrinya Bang Haikal?" sambung Tara lagi.


Dafa menggerakkan kepalanya impulsif.


"Yup! Lebih tepatnya lagi Almarhum Bang Haikal."


"A-almarhum? Maksutnya Bang Haikal udah nggak ada gitu?" Dahi Tara semakin mengernyit dalam. Berita yang baru saja ia dengar sukses membuatnya semakin terkejut.


Meskipun dulu selama ia menjalin hubungan dengan Haidar, hubungannya tidak terlalu dekat dengan Haikal. Menurutnya Haikal tipe lelaki yang sangat religius. Tara selalu merasa sungkan bila secara tak sengaja ia bertemu dengan kakak dari mantan kekasihnya.


'Jadi perempuan itu harus bisa menjaga diri dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya. Bila suatu saat kamu jadi menikah dengan Haidar, saya harap kamu bukan hanya menjadi istrinya tapi juga bisa menjadi bidadari surganya.'


Kata-kata itu bahkan masih terngiang begitu jelas di pendengaran Tara. Haikal selalu mengingatkannya tentang kewajiban seorang wanita muslimah pada umumnya. Menutup aurat dan menjaga pandangannya.


"Woi! Malah ngelamun?"


Tara tersentak saat Dafa menjetikkan jarinya di depan wajahnya.


"Sialan lu! Ngagetin gue, tau!" dengkus Tara sembari memukul lengan Dafa yang malah cekikikan tidak jelas.


"Kesambet baru tau rasa lu! Ngelamunin apa sih? Haidar?"


Tara menggeleng cepat. "Bukan!"


"Terus ngelamunin siapa? Gue?"


Bola mata Tara mendelik tajam, Dafa belum pernah berubah. Ia masih saja suka sembarangan kalau bicara.


"Apaan sih! Gue tuh cuma keinget aja sama omongannya Bang Haikal." cicitnya kesal.


"Oohh ... ya kirain ngelamunin gue." selorohan Dafa membuat Tara semakin jengah.


"Bang Haikal emang sakit apa?" Tara rupanya masih ingin membahas tentang Haikal.


"Boleh." Tara mengangguk. "Kok, gue nggak pernah tau, ya? Kalo Bang Haikal punya sakit jantung."


"Gue aja taunya baru kemaren, Ra." kata Dafa dari arah pantry sambil memasukkan bubuk kopi ke dalam cangkirnya dan cangkir Tara.


"Gulanya berapa sendok Ra?"


"Setengah sendok kecil aja, Daf."


"Oke!"


Beberapa detik kemudian kopi pun telah siap. Dafa kembali menghampiri Tara lalu meletakkan dua cangkir kopi hitam ke atas meja.


"Nih! Kopi buatan Dafa yang paling ganteng dengan takaran gula sesuai keinginan nona cantik ini," ujar Dafa dengan tingkat kepedean yang tinggi.


Tara hanya merotasikan bola matanya malas.


"Gombal mulu!" cibirnya.


"Elunya aja yang nggak peka, Ra! Udah di gombalin sampe mulut gue berbusa, nggak nyadar juga."


"Jangan mulai deh ..."


"Iya-iya sorry."


Keduanya lantas menyesap kopi tersebut dengan hati-hati.


"Enak!" celetuk Tara sesaat menyesap kopi buatan Dafa. "Kopi bikinan lu emang nggak pernah berubah, Daf. Masih enak kayak dulu," ucap Tara memuji kopi buatan Dafa yang memang masih seenak dulu.


"Jelas dong ... siapa dulu yang bikin," Dafa menyahut dengan pongahnya.


Tara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Dafa yang masih belum berubah.

__ADS_1


"Oh, iya, Daf. Ngelanjutin tentang Bang Haikal lagi. Itu cerita yang sebenernya gimana sih? Kok, si Aisyah bisa nikah sama Haidar."


Dafa menghadap ke arah Tara kemudian ia mulai bercerita.


"Setau gue nih, ya. Aisyah itu tadinya mau nikah sama Bang Haikal terus pas mau ijab qobul jantungnya Bang Haikal kambuh."


"Terus?" Tara semakin tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya.


"Terus ya ... si Haidar deh yang di suruh ngegantiin Bang Haikal jadi suaminya Aisyah." lanjut Dafa lagi.


"Bener-bener beruntung si Haidar bisa nikahin cewek macam Aisyah. Udah cantik solehah lagi." sambungnya lagi dan langsung mendapat tatapan horor dari Tara.


"Elu lagi nyindir gue nih ceritanya?" gerutu Tara yang merasa tersindir dengan ucapan Dafa.


Dafa menggeleng cepat. "Enggak, kok! Elu nya aja yang sensitif." kilahnya seraya menyesap kembali kopi hitam buatannya sendiri.


Tara merenung sejenak. Mencerna semua cerita yang ia dengar dari mulut Dafa. Entah kenapa, hatinya sudah tak sesakit pada saat ia mengetahui soal Haidar yang sudah memiliki istri. Sedikit demi sedikit rasa bencinya terhadap Aisyah memudar. Apa mungkin dirinya sudah mulai bisa menerima kenyataan. Merelakan Haidar bahagia dengan Aisyah.


"Gue nyesel, Daf. Gue udah jahat sama mereka." lirih Tara tiba-tiba saja.


Dafa langsung menoleh ke samping dimana Tara sudah terlihat menyendu.


"Maksudnya?" tanyanya sembari meletakkan cangkir kopinya dan kembali menatap Tara.


"Gue ... gue ... udah ngelakuin kesalahan yang fatal, Daf."


Ah, kenapa Dafa yang gantian merasa penasaran. Tara terlalu terbelit-belit menurutnya.


"Emangnya lu udah ngelakuin apa, Ra?" Dafa bertanya sehalus mungkin. Menatap wajah Tara yang seperti ini ia jadi merasa tidak tega.


"Gue ... udah nge-jebak Haidar, Daf ..." Tara menyahut kemudian menundukkan kepalanya.


Bola matanya mulai memanas dan berkaca-kaca.


_


_



**Holaaa....!!! Mampir juga yuk di novelku yg baru, masih anget nih! Tolong bantu ramein ya ..??🤭


Aku kasih spoiler nya dikit nih**!


***


"Apa kau mencintaiku?" tanya Shreya pada pria yang saat ini tengah menatapnya.


Pria itu tersenyum seraya mengecup kening Shreya dengan lembut.


"Sangat. Aku sangat mencintaimu. Memangnya ada apa? Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?" Diselipkan nya rambut yang menutupi wajah Shreya. Karena saat ini mereka tengah berada ditepi pantai. Angin malam itu cukup dingin hingga membuat keduanya agak menggigil.


Mendengar jawaban suaminya, hati Shreya terasa perih. Seandainya saja ia bisa memberikan cintanya hanya pada pria ini. Mungkin hatinya tidak akan terasa sesak seperti ini.


"Tapi aku merasa jika aku tidak pantas mendapatkan semua rasa cinta itu, karena aku wanita brengsek. Wanita yang memiliki dua suami sekaligus. Wanita macam apa aku ini?" Shreya mengumpat dirinya sendiri, ia merasa jijik dengan dirinya. Memiliki dua suami sekaligus membuatnya hampir gila.


Gila karena cinta yang ia miliki sama besarnya untuk kedua suaminya. Hasrat ingin memiliki keduanya pun semakin menggila saat ia selalu dihujani cinta oleh kedua suaminya tersebut.


Seketika pria dihadapannya itu membungkam mulut Shreya yang terus saja meracau tidak jelas dengan sebuah ciuman. Ciuman yang selalu mampu membuatnya terlena dan terbuai. Ciuman yang ia rindukan beberapa minggu ini.


Yah... Shreya rindu. Ia rindu pria yang terus saja memagut bibirnya sampai membuat seluruh tubuhnya menggigil dan lututnya lunglai.


Awalnya Shreya masih bergeming dan tampak enggan membalas ciuman hangat dari sang suami. Ia terlalu malu untuk melakukannya sebab bila ia membalasnya maka bayangan suaminya yang lain terus berkelebat diingatan.


Salahkah ia?


Bila ia mengatakan kalau dirinya memang wanita brengsek.


Lantas, sebutan apa yang pantas disematkan untuk wanita yang memiliki dua suami sekaligus selain itu?

__ADS_1


~ **Silahkan dilanjutkan di sana ya...😆


Maacih udah mampir 🙏🤗**


__ADS_2