Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
HAIDAR DAN ISTRINYA YANG POLOS.


__ADS_3

Dafa melongo mendengar pengakuan Tara barusan.


Menjebak? Menjebak dalam artian apa ini...—pikir Dafa.


Pria itu terdiam sesaat guna mencerna semua pengakuan Tara. Kendati otaknya langsung menangkap hal negatif dari satu kata tersebut.


Lantas setelah terdiam beberapa waktu, Dafa lalu bertanya sekali lagi hanya untuk memastikan jika apa yang ia dengar barusan tidaklah salah.


"Menjebak? Maksudnya elu udah jebak siapa, Ra?" tanyanya dengan kening yang mengernyit dalam. Ia bahkan sampai mencondongkan tubuhnya ke depan Tara yang masih menunduk.


Tenggorokan gadis itu tercekat dengan pandangan yang mulai mengabur.


"Gue... gue udah jebak Haidar. Gue udah ngarang cerita kalo gue hamil anaknya dia, Daf," aku-nya dengan ucapan tersendat-sendat disusul dengan cairan bening yang akhirnya lolos dari bola matanya.


Rasa malu bercampur sesal bersatu padu sehingga membuat tangisan Tara kian pecah.


Dafa mengusap wajahnya sesaat mendengar pengakuan Tara yang cukup mengejutkan dirinya.


Jujur saja, Dafa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Tara yang notabene adalah gadis berpendidikan. Terlebih Tara adalah seorang model terkenal. Kenapa ia rela melakukan hal yang dapat memperburuk imej-nya sebagai wanita baik-baik.


Kalau alasannya karena cinta, tentu hal seperti itu tidak bisa dibuat main-main. Masalahnya, Haidar kini tak lagi sendiri. Pria itu telah beristri dan memiliki keluarga.


Menghela napas panjang, lalu Dafa mencoba menenangkan Tara yang masih tenggelam dalam penyesalan. Ia merengkuh tubuh bergetar Tara ke dalam dekapan.


"Gue bener-bener enggak habis pikir sama jalan pikiran elu, Ra. Bisa-bisanya elu ngejatuhin harga diri elu sebagai wanita hanya demi mendapatkan mantan pacar yang udah punya istri," oceh Dafa seraya mengusap punggung Tara dengan lembut.


"Jangan bilang elu juga udah jebak Haidar buat ...?" Dafa menggantung kalimatnya. Entah kenapa tiba-tiba di otaknya muncul asumsi lain.


Merasa Dafa yang telah mengerti semua pengakuannya, Tara hanya mengangguk pelan di dalam dekapan Dafa. Gadis itu semakin tergugu.


Omongan Dafa memang ada benarnya. Harga diri Tara sebagai seorang wanita telah tercoreng akibat ulahnya sendiri. Dan, kini ia begitu menyesali semuanya lantaran tak ada lagi yang tersisa dari hidupnya.


Mahkota yang ia jaga selama ini telah enyah bersamaan dengan rasa kepercayaan diri yang ia banggakan.


Anggukan kepala Tara seketika melemaskan dua pangkal bahu Dafa seiring hembusan napas kasar.


Kecewa? Tentu Dafa merasa kecewa dengan kebodohan Tara.


Itu artinya dengan kata lain Tara telah memberikan keperawanannya kepada Haidar. Tapi bagaimana bisa?


*****


Sesaat setelah tangisannya mereda dan hatinya yang sedikit merasa tenang, Tara menceritakan semua kejadian yang ia susun untuk menjebak Haidar.


Dafa yang menyimak sampai menggelengkan kepalanya berulang. Jelas-jelas Tara tidak akan bisa memiliki anak karena kandungannya yang sudah diangkat. Kenapa wanita ini bisa mempunyai ide gila macam itu.


ck!

__ADS_1


"Sekarang apa yang elu dapet dari semua ini, Ra? Apa?" tanya Dafa setelah Tara selesai bercerita. Ia memijit pangkal hidungnya guna mengurangi rasa sakit di kepala yang mendadak muncul.


Tara tersenyum miris mengingat nasibnya yang tak lagi perawan.


"Rasa malu, Daf. Gue cuma dapet rasa malu yang mungkin enggak akan ada ujungnya," ucapnya menanggapi pertanyaan Dafa. Tatapan mata wanita itu terlihat nyalang.


"Nah, itu elu tau! Makanya kalo mau berbuat sesuatu itu mesti dipikirin lagi. Jangan asal bikin rencana yang ujung-ujungnya bikin diri elu malu sendiri, ck!" cerocos pria yang masih bertelanjang dada itu.


"Gue cinta mati sama Haidar, Daf. Gue bener-bener nyesel dulu udah ninggalin dia," Tara kembali sendu.


Tak pelak ucapannya itu membuat hati Dafa berdenyut nyeri.


'Tatap gue, Ra! Gue di sini. Sejak dulu gue suka sama elu. Tapi elu seakan menutup mata dengan semua yang gue lakuin buat elu.' seru lelaki itu dalam hati.


"Cinta yang elu punya buat Haidar saat ini, itu salah, Ra. Haidar udah bahagia sama Aisyah. Dan, elu enggak bisa seenaknya ngerebut dia," kata Dafa yang berusaha memberi saran.


"Sekarang ini lebih baik elu mikirin hidup elu. Elu enggak bisa terus-terusan tenggelam dalam masa lalu yang dulu udah jadi keputusan elu." sambung Dafa lagi seraya beranjak dari duduknya.


Dafa mengusak puncak kepala Tara.


"Gue mau mandi dulu. Udah enggak usah elu pikirin lagi tuh suami orang. Kayak enggak ada lagi cowok, Ra." ejeknya sambil berlalu dari hadapan Tara dan masuk ke dalam kamar.


Tara mendesah frustasi, menenggelamkan wajahnya ke telapak tangan yang yang bertumpu di meja.


"Bego! Elu emang bego, Ra," umpatnya.


"Kita mampir ke swalayan dulu, ya. Aku mau beli bahan-bahan buat di dapur," kata Aisyah kepada Haidar yang tengah mengemudikan mobil. Mereka kini berada dalam perjalanan pulang ke rumah.


Haidar hanya mengangguk sambil tetap fokus pada jalanan.


Selang beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah swalayan yang kebetulan jaraknya lumayan dekat dari rumah.


Haidar memarkir mobil terlebih dahulu, kemudian keduanya turun bersamaan lalu masuk sambil bergandengan tangan.


"Kamu mau aku masakin apa, Dar?" tanya Aisyah begitu mereka sampai ke dalam.


"Aku terserah yang masak aja. Yang kamu masak pasti enak-enak semua," sahut Haidar seraya menjawil hidung mbangir Aisyah.


Wanita itu sontak tersipu malu karena perlakuan Haidar yang semakin tak tahu malu mengumbar kemesraan.




Usai berbelanja keperluan dapur dan beberapa keperluan lainnya, Haidar dan Aisyah memutuskan untuk kembali ke rumah.


__ADS_1


Hari juga semakin sore, langit pun nampak menggelap diiringi suara gemuruh dari atas sana.



"Kayaknya mau hujan," kata Aisyah yang melongok dari jendela mobil.



"Cocok donk!" Haidar menyahut dengan santainya.



Aisyah sontak menoleh dengan dahi mengernyit.



"Kok cocok? Maksutnya?" tanyanya yang belum paham arah pembicaraan suaminya.



Haidar melipat bibirnya seraya menahan senyum. Istrinya ini memang sangatlah polos. Sampai hal semacam itu harus diperjelas dengan detail.



Setelah mengernyitkan dahi kini Aisyah menyipitkan kedua matanya.



"Kamu ditanya bukannya jawab, malah diem. Ada apa sih?" desak wanita yang selalu memakai jilbab itu. Dari aura wajah Haidar yang semacam tengah memikirkan sesuatu membuat rasa penasarannya kian mencuat.



Haidar menatap sekilas Aisyah yang masih betah menatapnya lalu kembali fokus menatap jalanan yang lumayan macet. Sebab, di jam-jam seperti ini waktunya orang-orang kembali ke rumah setelah seharian beraktivitas di luar.



"Udah, nanti di rumah juga tahu, kok! Pokoknya surprise...," ujarnya dengan seringai penuh arti.



Aisyah mengerucutkan bibir lalu mendengus, tangannya reflek mencubit perut Haidar.



"Ish! Kamu kebiasaan deh! Sukanya bikin aku penasaran," cibir Aisyah yang kemudian melipat tangan ke dada dan menatap jendela.


__ADS_1


Haidar terkekeh melihat tingkah Aisyah. Istrinya meski pun sudah dewasa terkadang suka sekali ngambek seperti anak kecil.


__ADS_2