Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
Mencari Tau Tentang Kesehatan Aisyah


__ADS_3

Keesokan harinya.


Haidar dan Aisyah tengah dalam perjalanan menuju rumah orang tua Haidar. Rencananya mereka akan memberitahu perihal Haidar yang ingin menikah lagi lantaran Tara sedang mengandung anaknya. Namun sebelum ke rumahnya, mereka menemui Tara terlebih dulu di sebuah cafe. Berjanji bertemu untuk membahas masalah ini dengan benar dan semoga menemui jalan keluar yang tepat selain pernikahan.


Di mobil suasana nampak hening, tak ada satu pun dari mereka yang berniat memulai pembicaraan. Semalam Aisyah dan Haidar tidak tidur, keduanya merasa gelisah dan cemas akan reaksi kedua orang tua masing-masing. Berharap mereka mau memahami kejadian yang tengah menimpa rumah tangga anak-anak mereka.


Drt ... drt ... drt ...


Dering ponsel Aisyah seketika memecah keheningan di mobil tersebut. Ternyata Tara mengirim pesan singkat untuknya menanyakan posisi Aisyah berada sekarang.


" Kamu udah dimana? Aku udah nungguin disini dari tadi." isi pesan chat dari Tara.


Aisyah segera membalas pesan Tara.


" Aku udah di jalan. Sebentar lagi mau sampai,"


" Ok!" Tara membalas Aisyah.


Haidar yang ternyata memperhatikan Aisyah tiba-tiba bertanya, " Dari siapa? Umi?" Haidar menoleh ke samping sekilas kemudian kembali fokus menyetir.


" Bukan," jawab Aisyah singkat seraya menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.


Kening Haidar mengernyit, merasa heran dengan ucapan Aisyah yang sedikit datar. Ia lalu kembali bertanya lagi.


" Terus dari siapa? Kalo bukan Umi," Aisyah sedikit kesal lantaran Haidar sangat menyebalkan kali ini.


Menghela nafas berat Aisyah lalu menjawab, " Dari Tara,"


Jawaban Aisyah membuat sebelah alis Haidar menukik tajam seraya berdecak kesal. " Ck! Ngapain sih kamu pakek ngasih-ngasih nomer kamu segala ke dia?" tanyanya dengan nada sedikit tinggi. Pagi-pagi moodnya sudah rusak karena mendengar nama Tara.

__ADS_1


Aisyah hanya menggeleng menanggapi kekesalan suaminya, " Ya terus mau kamu aku harus gimana sih?" Aisyah bertanya pada Haidar yang masih terlihat masam. " Bagaimana pun juga aku harus sering-sering berkomunikasi sama dia," sambung Aisyah lagi seraya melirik sekilas ke arah Haidar yang masih fokus menyetir dengan muka masamnya.


" Maksud kamu?" tanya Haidar.


" Maksud aku itu ... sebentar lagi kan kalian akan nikah, Haidar. Jadi aku harus tau kabar Tara dan bayinya. Emang kamu nggak ngerasa khawatir sama dia dan anak kamu?" tanpa beban sedikitpun Aisyah melontarkan pertanyaan itu pada Haidar, sedang yang ditanya terkesan cuek dan malah dengan enteng mengangkat bahunya pertanda ia tidak perduli sama sekali dengan keadaan Tara.


Aisyah mendengus melihat reaksi suaminya yang terlihat cuek. Nampaknya Haidar masih belum mau mengakui keberadaan anaknya. Di lihat dari sikapnya yang terkesan tak perduli pada Tara. Aisyah tau jika Haidar sebenarnya tidak siap untuk bertanggung jawab, karena keterpaksaan ia akhirnya mau melakukan hal itu.


Akhirnya mereka sampai di cafe yang dituju. Setelah memarkir mobil keduanya bergegas turun lalu masuk ke dalam. Berjalan beriringan, Haidar terus menggenggam erat tangan Aisyah tanpa melepasnya sampai mereka mendekat ke sebuah meja dimana Tara sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.


Wanita itu memakai pakaian tertutup, mengenakan kaca mata hitam dan masker untuk menutupi seluruh wajahnya. Dan dibalik itu semua wajah kesal Tara tak terlihat oleh Haidar dan Aisyah. Ia merasa cemburu lantaran Haidar begitu perhatian pada Aisyah sampai membantu wanita itu untuk duduk dengan senyuman hangat yang terus saja tersungging di bibir Haidar.


" Maaf telat Ra," ucap Aisyah yang lebih dulu membuka percakapan diantara mereka bertiga. Sedang Haidar masih terlihat dingin dan cuek. Pria itu bahkan tidak melirik sedikitpun ke arah Tara yang menurutnya terlihat aneh dengan pakaian seperti itu.


Tara mengangguk, " It's ok. Nggak masalah," wanita itu melepas kaca mata yang sejak tadi bertengger di hidung mancungnya. " Soal keputusan kalian bagaimana? Apa Haidar bersedia bertanggung jawab dan menikahi ku?" Tara menyambung kalimatnya dengan menanyakan perihal keputusan Haidar.


Aisyah langsung menggenggam tangan Haidar yang tengah menahan kesal, wanita itu seolah bisa merasakan walau hanya lewat tatapan. Berharap ia bisa mengurangi emosi sang suami yang siap meledak kapan saja.


Haidar melirik ke arah Aisyah dengan tatapan yang sudah berubah hangat kembali, dan itu sukses membuat Tara geram menyaksikan kemesraan mereka.


Tatapan mata Tara memicing tajam seraya bermonolog sendiri didalam hati, ' Sial! Haidar begitu mencintai Aisyah. Aku benar-benar tidak tahan melihat mereka seperti ini,'


Dari sudut matanya Haidar bisa melihat jelas kekesalan Tara saat ini, " Bagus. Kamu akan melihatnya setiap hari Ra, kemesraan antara aku dan Aisyah. Jangan harap aku sudi menyentuhmu setelah kita menikah nanti." ucapnya dalam hati. Haidar memang sengaja membuat Tara cemburu dengan memamerkan kemesraannya di depan Tara.


Wanita yang mengenakan masker tersebut kini sengaja berdehem cukup keras seolah ia menginterupsi kedua pasangan tersebut untuk berhenti saling melempar pandangan. Aisyah sedikit terkesiap mendengar suara Tara yang terdengar lumayan keras.


Buru-buru wanita berhijab itu mengalihkan pandangannya ke arah Tara kembali. " Ma-maaf Ra," ucap Aisyah meminta maaf. Haidar yang mendengar itu malah semakin gemas dengan tingkah Aisyah yang begitu baik terhadap wanita yang sudah merusak rumah tangganya.


Tara hanya berdecih di balik masker yang ia pakai, dan Haidar bisa melihat dengan jelas dari tatapan mata Tara yang terlihat nyalang mengarah ke istrinya.

__ADS_1


' Dasar wanita tak tau malu,' umpat Haidar dalam hati. Perubahan sikap Tara betul-betul membuat dirinya muak pada gadis itu. Ia merasa menyesal kenapa dulu ia pernah begitu mencintai wanita tak berhati macam Tara.


" Haidar sudah setuju untuk bertanggung jawab dan juga menikahi mu, Ra." ucapan Aisyah membuat Tara tersenyum puas. Namun tidak bagi Haidar, justru lelaki itu semakin terlihat kesal karena pada akhirnya ia harus menikahi Tara.


" Lalu, bagaimana dengan orang tua kalian? Apa mereka juga sudah tau soal kehamilan ku?" tanya Tara pada Aisyah. Haidar hanya menanggapinya dengan dengusan.


" Kamu tenang aja, Ra. Pelan-pelan kami akan memberikan kabar ini pada mereka. Iya kan, Dar?" Aisyah sengaja bertanya pada suaminya itu yang kini malah tengah asyik dengan ponselnya.


Haidar hanya bergumam tanpa mengalihkan perhatian dari ponselnya, " Hm. " Lagi-lagi Haidar terlihat tak perduli sedikitpun.


Aisyah menggeleng seraya menghela nafas panjang, ia memilih mengajak ngobrol Tara, " Gimana keadaan bayi kamu, Ra? Apa dia sehat?" tanya Aisyah.


Tara mengangguk, " Dia sehat. Sangat sehat malah. Oh, iya. Kalo kamu gimana, apa kamu juga sudah hamil?" pertanyaan Tara begitu mengejutkan kedua pasangan itu.


Haidar yang semula sibuk dengan ponselnya seketika mendongak dan langsung menoleh ke samping dimana saat ini Aisyah sudah tertunduk. Entah apa yang dipikirkan oleh istrinya itu, namun Haidar merasa jika Aisyah tidak sedang baik-baik saja karena pertanyaan Tara yang sengaja menyinggung perasaan Aisyah.


Ck! Kekesalannya pada Tara semakin bertambah, " Bukan urusan mu menanyakan hal itu pada Aisyah! Siapa kamu? Atas hak apa bertanya seperti itu pada Aisyah! " Haidar menyemburkan kekesalan yang sejak tadi ia tahan. Tara sama sekali tak punya hati, bisa-bisanya ia bertanya seperti itu pada Aisyah.


" Aku ini hanya bertanya Haidar. Kenapa kamu jadi marah-marah seperti itu? Memangnya ada yang salah dengan pertanyaan ku? Atau memang ada masalah pada diri Aisyah? Sampai kamu se-marah ini sama aku," Tara semakin menjadi. Pertanyaannya malah semakin memojokkan Aisyah.


Haidar bisa mendengar suara isakan Aisyah. Istrinya itu pasti sudah menangis, lantaran Tara terus menanyakan perihal kesehatan Aisyah.


" Cukup Tara! Kamu tidak punya hak bicara seperti itu pada Aisyah. Dia baik-baik saja. Aisyah wanita yang sehat," sergah Haidar cepat membela istrinya, Aisyah.


Sudut bibir Tara tertarik, ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Haidar. Tidak mungkin pria itu marah tanpa alasan. Jika Aisyah memang benar-benar sehat.


' Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan Haidar. Cepat atau lambat aku akan mencari tau sendiri, Aisyah pasti memiliki kekurangan.'


ucap Tara dalam hati. Matanya menatap tajam ke arah Aisyah yang masih tertunduk menyembunyikan isakkannya.

__ADS_1


__ADS_2