
Ketiga orang di ruangan tersebut terperangah saat melihat hasilnya. Mata Aisyah mulai berkaca-kaca, sedang Haidar berdiri kaku dengan tatapan mata yang tak lepas menatap benda pipih itu.
"Sudah ku duga, dari awal memang aku sudah curiga kalau Tara tidak mungkin hamil," kata Haidar seraya menatap sinis ke arah Tara yang hanya bisa tertunduk malu.
"Maksudnya apa?" tanya Rena dan Aisyah serentak. Keduanya saling melempar pandangan sekilas kemudian menatap Haidar penuh tanya.
"Sebenarnya aku dan Tara memang melakukan hubungan itu. Tapi, ada satu hal yang tidak kalian tau, bahwa Tara tidak akan bisa punya anak," papar Haidar.
Dahi Rena dan Aisyah berkerut, mereka masih belum mengerti tentang apa yang di bicarakan laki-laki berusia 29 tahun itu.
"Kalo ngomong yang jelas dong, Dar! Gue masih bingung nih ...?" cibir Rena yang kemudian ditimpali Aisyah.
"Iya, Dar. Aku juga masih nggak ngerti sama sekali,"
Lantas Haidar memperjelas keadaan Tara yang sesungguhnya.
"Sewaktu kami masih berpacaran Tara sering mengeluh sakit saat sedang haid. Kami pun memeriksakan kondisinya pada saat itu. Lalu dokter bilang kalau ada Kista di rahim Tara, yang membuat kami syok waktu itu adalah ternyata Kista itu ganas dan sudah menyebar di seluruh organ kewanitaan Tara, hingga dokter menganjurkan untuk melakukan operasi pengangkatan rahim. Sebab jika tidak segera di angkat, nyawa Tara sebagai taruhannya. Maka dari itu dengan berat hati kami terpaksa melakukan hal itu."
"Oh ... iya-iya ... gue inget, waktu itu kalo nggak salah, lo sama Tara sempet pergi ke Singapore buat pengobatan. Ternyata kalian pergi kesana buat operasi pengangkatan rahim nya si Tara?"
Haidar mengangguk menanggapi ucapan Rena yang tiba-tiba menyela pembicaraan nya.
"Yap! Betul itu!"
Aisyah menatap Tara yang sedari tadi hanya tertunduk dan bungkam dengan rasa iba. Kemarahan karena ia merasa di bohongi oleh Tara justru terganti dengan rasa kasian.
"Ra...," panggil Haidar pada Tara.
Tara mengangkat kepalanya perlahan terlihat jelas wajahnya yang sudah bersimbah air mata.
"Kamu udah nggak bisa berbohong lagi, Ra. Aku nggak sebodoh yang kamu pikir, walau aku tau kita memang sudah berbuat dosa. Karena kebodohan yang sudah aku lakukan." jelas Haidar dengan ekspresi wajah menahan amarah.
"Tapi, Dar. Aku masih cinta sama kamu. Aku juga nggak bisa biarin Aisyah miliki kamu, hiks... hiks ...," Tangisan Tara semakin pecah lantaran dirinya sudah kalah telak dalam permainannya sendiri.
Rena yang menyaksikan nya saja cuma bisa geleng-geleng kepala. Sedang Aisyah hanya terdiam dengan tatapan nyalang.
Aisyah pikir dirinya lah yang sudah menjadi orang ketiga dalam hubungan Haidar dan Tara. Namun setelah semua kejadian ini, ia bertekad untuk tidak menyerah dan mengalah.
Haidar mencengkram lengan Tara, "Cukup Ra! Cukup! Hentikan ocehan kamu yang tidak masuk akal itu. Bukannya merasa bersalah dan minta maaf kamu malah semakin mengoceh tidak jelas." Teriak Haidar seraya menunjuk ke arah wajah Tara yang menurutnya sangat memuakkan.
__ADS_1
Kenapa Tara bisa berubah menjadi gadis yang sangat keras kepala dan menyebalkan.
Aisyah mencoba meredam kemarahan Haidar dengan menggenggam erat tangan suaminya.
"Istighfar Haidar. Kamu juga tidak boleh sekeras itu sama dia. Ingat Haidar, Tara itu perempuan, kamu nggak boleh kasar sama dia,"
"Tapi Syah. Dia hampir aja ngehancurin rumah tangga kita, karena kebohongannya,"
"Aku tau itu, Dar. Semuanya juga sudah beres kan? Semuanya sudah jelas, kalau Tara tidak sedang hamil. Lalu apa lagi yang mau kamu lakukan?" pertanyaan Aisyah membuat Haidar terpaksa melepas cengkraman nya.
"Lihat Aisyah, Ra! Kamu nggak merasa malu udah bohongin dia? hah!?" Haidar membentak Tara sampai perempuan itu berjengit mundur.
"Sudah Haidar sudah. Kasian Tara, kamu jangan bentak-bentak dia," Aisyah berupaya menenangkan Haidar.
***
Sepulangnya mereka dari rumah sakit. Haidar dan Aisyah langsung menuju rumah orangtua dan juga mertuanya. Seperti janjinya pada kedua orang tua tersebut, namun niat mereka kali ini hanya untuk bersilahturahmi.
" Mbok ya kalian itu sering-sering kesini nengokin Umi sama Abi. Jangan mentang-mentang udah bahagia terus lupa sama orang tua," kata Umi Azizah kepada Haidar yang saat ini tengah duduk di hadapannya.
"Insya Allah Mi. Haidar dan Aisyah bakalan sering-sering main kesini,"
"Betul kata Umi kamu, Dar. Kamu sekarang juga jarang telfon Abi. Sebetulnya kamu ini sangat sibuk apa memang sengaja nggak mau main kesini,"
"Bukan begitu, Abi. Iya deh iya kami minta maaf ...,"
Aisyah turut menimpali ucapan Haidar.
"Iya, Bi. Kami minta maaf karena udah jarang main kesini. Tapi Aisyah pastiin besok-besok kami akan meluangkan waktu untuk menengok Abi dan Umi."
Abi Azis dan Umi Azizah tersenyum. Mereka sebenarnya terharu, lantaran Haidar sudah mulai menerima Aisyah dan juga sudah mau melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
Mengingat pernikahan mereka yang sangat mendadak, membuat kedua paruh baya itu merasa khawatir dengan masa depan rumah tangga putra bungsunya itu. Secara Haidar adalah tipe anak yang bebas dan agak keras kepala. Berbeda dengan sifat dari Haikal yang penurut dan tekun.
"Sudah ... sudah! Kalian nggak perlu berlebihan seperti itu. Abi cuma lagi ngetes kalian aja," kata Umi Azizah seraya mengulum senyum penuh arti.
Mata Haidar membelalak lebar, "Ma-maksut Umi? Abi lagi bercanda gitu?" tanya Haidar dengan ekspresi muka seperti orang bodoh.
Abi dan Umi mengangguk serentak, mereka lalu tertawa. Membuat Haidar dan Aisyah tampak kebingungan dengan saling melempar pandang dan mengangkat bahu.
__ADS_1
"Ya sudah. Lebih baik kita sekarang makan dulu. Kebetulan Umi udah masak kesukaan kalian," ajak Umi Azizah.
Mereka berempat lantas bergegas menuju ruang makan keluarga. Benar saja, di meja sudah tersaji berbagai macam masakan. Ada rendang daging, balado kentang dan pete lalu udang saos tiram favorit Haidar juga ada ayam betutu favorit Aisyah.
"Waahhh ... Umi. Semua ini keliatannya enak-enak. Haidar jadi nggak sabar buat ngincipin," seru Haidar seraya tangannya sibuk mengisi piring kosong dengan nasi beserta lauk kesukaannya.
"Ya iyalah, masa anak sama mantunya mau main kesini Umi nggak masakin? Kan kasian, Umi juga udah lama nggak masak banyak. Nanti kamu bisa bawa pulang ya, Syah? Umi udah siapin juga buat Abi sama Umi kamu."
Aisyah tersenyum sungkan, Umi Azizah begitu perhatian padanya. Ia jadi merasa malu selama ini jarang sekali menyambangi kediaman mertua yang sangat baik. Sebab kesibukan Aisyah yang sekarang sudah menjadi guru les privat.
"Umi kok repot-repot sih, seharusnya kan Aisyah yang masakin Umi. Ini malah kebalik, Umi yang masakin Aisyah," ucap Aisyah yang merasa tidak enak.
" Nggak pa-pa Syah. Kamu santai aja. Umi seneng kok, bisa masakin kalian. Kapan lagi coba? Iya, kan, Bi?"
Abi mengangguk sembari menyantap masakan Umi Azizah.
Haidar juga merasa sedikit tidak enak. Dirinya belakangan ini sangat sibuk. Belum lagi mengurus masalah Tara yang membuat kepalanya terasa mau pecah. Untungnya masalah itu sudah terselesaikan. Haidar bisa bernafas lega sebab ia tidak jadi berpoligami.
Mereka semua menyantap makan malam itu dengan perasaan bahagia. Haidar bersyukur lantaran berita kehamilan Tara tidak sampai ke telinga orang tuanya. Kebohongan Tara terbongkar sebelum kedua keluarga merasa sedih atas kebodohan yang Haidar lakukan.
Selesai makan malam, Haidar dan Aisyah pamit pulang. Lantaran malam semakin larut dan mereka juga masih harus menyambangi rumah orang tua Aisyah yang berada tidak jauh dari kediaman keluarga Haidar.
"Kalau begitu kalian hati-hati ya di jalan. Kamu juga jangan ngebut bawa mobilnya," Umi Azizah berpesan pada Haidar yang saat ini sudah berada di depan mobil yang akan ia kendarai.
"Siap Umi! Laksanakan!" Mereka berempat tertawa bersamaan. Tingkah Haidar kadang memang sangat berlebihan.
"Aisyah pamit ya Umi, Abi ..." Aisyah mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim.
"Iya hati-hati ya kalian ..." Umi memeluk Aisyah dengan sayang. Sebetulnya ia masih sangat merindukan putra dan menantunya itu. Di rumah beliau sering merasa kesepian.
Aisyah kemudian masuk ke dalam mobil lalu di susul dengan Haidar yang sebelumnya sudah berpamitan pada Abi Azis dan Umi Azizah.
"Assalamualaikum, Mi, Abi ...," ucap keduanya bersamaan.
"Wa'alaikumsalam ..."
Haidar pun langsung melajukan mobilnya perlahan menuju gerbang dan keluar dari pelataran rumahnya lalu berbelok ke arah selatan menuju kediaman orang tua Aisyah.
_
__ADS_1
_
_