
POV AUTHOR ~
***
Lamunan Haidar buyar, saat dering ponsel bergema di ruangannya. Tersentak, lantas gegas melirik layar ponsel yang menyala sedari tadi itu. Alisnya menaut saat tertera nama ummi di sana.
"Ummi?" gumam Haidar, mengatur napasnya sejenak, lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping keyboard. "Halo, Mi, assalamualaikum," sapanya begitu benda pipih tersebut menempel di telinga.
Tangannya yang menganggur tak tinggal diam, menggulir mouse laptop, untuk mengecek ulang data pengiriman barang hari ini.
"Wa'alaikumussalam, Nak," balas ummi. "Apa kabar?" tanya ummi kemudian, terdengar helaan panjang dari seberang sana.
"Haidar baik, Mi. Abah sama Ummi gimana? Sehat 'kan?" Haidar bertanya balik, sambil serius menatap layar laptop yang masih menyala. Ternyata, ada banyak sekali barang yang hendak dikirim hari ini. Itu artinya, dia akan lembur lagi malam ini.
"Abah sama ummi sehat, Nak. Kalian kapan main ke rumah? Udah lama loh, sejak pengajian empat puluh hari abangmu. Kamu sama Aisyah, udah gak pernah ke sini." Ummi menghela lagi di ujung sana. Dari yang bisa ditangkap Haidar ialah, ummi seperti kecewa.
"Maaf, Mi. Untuk sekarang Haidar belum bisa. Kerjaan Haidar lagi banyak. Masih ada yang perlu Haidar pelajari di kantor," jelas Haidar berusaha berkata apa adanya. Memang, sejak kepergian Haikal yang mendadak, Haidarlah yang menggantikan posisi sang abang. "Nanti, biar Haidar minta Kak Aisyah buat ke rumah."
Haidar sadar, bila belakangan ini waktunya tersita dan habis di kantor. Hingga, dia tidak bisa membagi waktunya untuk ke rumah orang tua, sekadar menjenguk. Ditambah dengan hubungannya dengan Aisyah sang istri yang belum ada perubahan sama sekali. Keduanya seperti orang asing yang terpaksa tinggal dalam satu atap.
Rumah tangga yang dingin dan jauh dari kata harmonis, apalagi hangat. heuh...
"Iya, gak apa-apa, kalo kamu belum ada waktu buat berkunjung ke rumah. Ummi maklum, kok," ujar ummi yang memang selalu memahami dan mengerti keadaan anak-anaknya. Tipe orang tua yang tidak banyak menuntut. Namun, ada hal yang tengah mengganggu pikirannya saat ini. "Haidar ….?
"Ya, Mi."
__ADS_1
"Kok, kamu manggil Aisyah, Kak, sih? Kan, dia itu udah jadi istrimu?" Nada bicara ummi terdengar sedikit heran. "Jangan-jangan kalian …?" Ummi menggantung kalimatnya, dan itu sukses membuat sang anak menggigit lidahnya sendiri.
Sepertinya, Haidar telah salah ucap dan keceplosan. "Kami kenapa, Mi?" Haidar berpura-pura bodoh dan tidak faham maksud perkataan sang ibu. Jujur, dia sendiri merasa takut, apabila kedua orang tuanya tahu jika dirinya belum menyentuh Aisyah sedikit pun.
Hah, jangankan menyentuh. Hubungan yang awalnya biasa saja, mendadak berubah kaku dan canggung. Haidar selalu kebingungan saat sedang bersama Aisyah. Masih berusaha memantaskan diri dan beradaptasi dengan kehidupan Aisyah yang sangat religi. Berbeda jauh dengan hidupnya yang berantakan dan kacau.
Ummi berdecak, tak habis pikir dengan anak lelakinya yang satu ini. Bisa-bisanya dia masih menutup-nutupi perihal pernikahannya yang terjadi dadakan itu. "Kamu gak usah berlagak gak tahu, Dar. Ummi tahu, kaya apa hubunganmu sama Aisyah. Jadi, gak perlu ditutup-tutupi. Yang jelas, Ummi cuma mau berpesan aja."
Refleks, Haidar memijat pangkal hidungnya. Bila ummi sudah berbicara demikian, itu artinya ummi tidak bisa dibohongi lagi. "Iya, Mi…."
"Ummi tahu, kamu masih belum bisa nerima pernikahan ini. Tapi, ada satu hal yang harus kamu ingat. Ada sebuah janji yang kamu ucapkan sama abangmu. Tanggung jawab membahagiakan Aisyah, dan jangan pernah menyakitinya," ujar ummi mengingatkan Haidar akan janji yang dia ucapkan kala itu kepada almarhum Haikal.
Punggung Haidar menegang, sesaat ummi melontarkan kalimatnya. Kepalanya pun mendadak pusing dan berdenyut. "Iya, Mi. Haidar gak akan pernah lupa itu. Ummi tenang aja." Lebih baik mengalah kendati hati dan lisannya menginginkan hal yang berbeda.
"Aisyah perempuan baik, Nak. Dan, abangmu cuma percaya sama kamu. Karena itu dia menitipkan calon istrinya ke kamu. Faham?"
"Kalo bisa, ubah panggilan dulu. Saran ummi, panggil Aisyah pakek kata sayang, atau apa terserah kamu. Asal jangan ada embel-embel KAK. Ngerti?" Ummi lagi-lagi mendesak secara halus, dan terkesan menekan Haidar. Biar bagaimanapun, ummi juga bertanggung jawab atas rumah tangga putera bungsunya. "Haidar, maaf, ummi boleh nanya?"
Kening dan alis Haidar saling menaut bersamaan, menegakkan punggung, lalu menyahut dengan hati-hati. "Ada apa, Mi? Ummi mau tanya apa?" Telapak tangannya terasa dingin dan beku, merasa was-was dengan apa yang hendak ditanyakan oleh ummi.
"Hmmm …" Ummi sedikit ragu, tetapi beliau berusaha mencecar Haidar, agar ke depannya rumah tangga anaknya tersebut bisa menjadi lebih baik dan langgeng. "Kamu sama Aisyah udah ... emm ... itu …."
"Itu apa, Mi?" Haidar menyela, telapak tangannya mengepal erat, dengan rahang yang mengeras. Dadanya tiba-tiba bergemuruh, bila mengingat sikapnya terhadap Aisyah.
Sebagai seorang suami, Haidar jelas masih banyak kekurangan. Karenanya, hingga di detik ini, dia belum memberikan hak kepada Aisyah seutuhnya.
__ADS_1
"Kamu sama Aisyah belum malam pertama 'kan?" lanjut ummi to the point. "Iya 'kan?" Diakhir kalimat terdengar menuntut, dan Haidar hanya bisa terantuk pasrah.
Menundukkan kepala, seraya memejamkan mata. "Iya, Mi. Haidar sama A-Aisyah belum .... begituan," aku-nya yang kemudian menghela napas kasar.
"Astaghfirullah ... Haidar. Kok, bisa?" pekik ummi di ujung sana. Sepertinya beliau syok mendengar pengakuan sang anak.
"Ya bisa, Mi." Haidar membuka maniknya, lalu bersandar di punggung kursi. Kemudian, memijat pelipisnya, yang masih berdenyut dengan jari tangan kiri.
Tentu saja bisa. Dia dan Aisyah bahkan tidur di kamar yang berbeda, sejak hari pertama menikah. Dengan batas waktu yang belum ditentukan. Ck!
"Haidar, kalo sampe abah kamu tahu, beliau pasti udah marah-marah," kata ummi dengan nada bicara tidak setinggi tadi. "Kalo udah kelewat selama tiga bulan kalian belum melakukan hubungan suami istri. Itu bisa jatuh talak, Nak. Inget itu!" tukas ummi berusaha memperingatkan konsekuensi yang harus diterima Haidar ke depannya, lantaran sudah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Manik Haidar membulat sempurna. "Apa, Mi? Talak? Ummi serius?" Dia bahkan sampai beranjak dari kursi. Lalu berjalan menuju jendela besar yang berada di ruangan kerjanya. Menatap lalu lalang ibu kota dari atas dengan tatapan nanar.
Kenapa bisa sampai begitu? pikir Haidar.
"Iya, Nak. Ummi serius. Dalam agama kita memberi nafkah batin untuk istri itu wajib hukumnya. Dan, enggak boleh abai sama tugas kita sebagai seorang laki-laki. Dosa hukumnya, Nak, kalo sampe kamu ga melaksanakan kewajiban tersebut. Apalagi kalo sampe lebih dari tiga bulan. Ya, kalo si Aisyah bisa ridho sama semua sikap dan perilakumu itu. Kalo enggak, ya ... kamu tunggu aja."
"Tunggu apa, Mi?" Kening Haidar semakin mengernyit tak mengerti. Dalam urusan semacam itu, Haidar memang masih fakir ilmu. Tak tahu menahu, dan benar-benar tabu dalam pandangannya.
Oleh sebab itu, selama hampir dua bulan ini, dia masih bisa bersikap santai dan tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Toh, Aisyah juga tidak pernah menuntut ini itu darinya? Istrinya itu hanya diam, dan pasrah dengan semua sikap Haidar selama ini.
Akan tetapi... setelah mendengar penuturan ummi, sudut hati Haidar sedikit tercubit. Harga dirinya sebagai laki-laki merasa terjatuh.
Haidar bisa mendengar helaan panjang dari ujung sana. Sedetik kemudian ummi menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Tunggu aja sampe Aisyah minta kamu buat nalak dia," ucap ummi terdengar meninggi.
Seketika itu juga Haidar menelan ludahnya kelat. "A-apa?!"