
Dikantor aku sangat disibukkan dengan pekerjaan ku. Karena kemarin mendadak memutuskan libur, kini aku harus menyelesaikan pekerjaan ku yang tertunda.
Banyak sekali laporan-laporan keuangan yang harus aku periksa dan file-file kontrak kerjasama.
Perusahaan almarhum Abang ku bergerak di bidang pengiriman barang. Ia menamai usahanya dengan Amanah Xpress. Begitu katanya.
Sengaja ia menamainya Amanah Xpress, secara tidak langsung ia ingin meyakinkan para pelanggannya untuk mempercayai jasa pengiriman yang ditawarkan oleh perusahaan nya itu bisa selalu amanah dan terpercaya.
Dan Alhamdulillah, saat ini sudah banyak pelanggan yang menggunakan jasa kami dan mempercayakan barangnya untuk kami kirim ketempat tujuannya dengan cepat dan aman.
Dalam jangka waktu yang tidak begitu lama, usaha bang Haikal berkembang pesat dan memiliki pelanggan tetap.
Aku sedih, sebab beliau hanya bisa merasakan kejayaan bisnisnya dalam waktu yang singkat.
Usia memang kita tidak pernah tau, apakah kita berusia panjang ataukah pendek.
Sewaktu-waktu maut bisa kapan saja datang menjemput. Kita sebagai manusia cukup berperilaku baik dan harus siap menyambutnya. Karena memang semua itu adalah rahasia Allah yang kita tidak pernah tau kapan datangnya.
Aku pikir setelah menikah, bang Haikal pasti akan sangat bahagia. Mempunyai istri cantik dan baik seperti Aisyah ditambah dengan kesuksesan yang ia miliki, diusianya yang masih terbilang muda.
Dan lagi-lagi aku tersadar. Jika semua itu masih rahasia Allah, kita sebagai manusia cuma bisa berencana. Dan Dialah yang Maha menentukan.
Karena buktinya, akulah yang saat ini berada diposisi nya. Menggantikan nya dan mengambil alih semuanya.
Dari yang seharusnya sudah menikah dan menjadi suami, sampai mengenyam kesuksesan sekarang ini.
Sedikitpun aku tidak pernah membayangkan nya. Aku memang adiknya, bahkan bisa dibilang aku ini adik kesayangannya.
Sewaktu beliau masih hidup dan menjalankan bisnisnya. Aku bekerja di perusahaan nya cuma sebagai driver. Tugasku mengirimkan barang, memastikan jika barang tersebut sampai ketempat tujuannya dengan aman. Itupun dengan gaji yang tidak begitu besar, tapi cukuplah untuk membiayai kebutuhan ku dan kuliahku.
Bang Haikal sengaja menempatkan ku diposisi tersebut, katanya supaya aku bisa lebih dewasa dan bertanggung jawab.
__ADS_1
" Sebagai seorang pria, kita harus bisa mandiri dan bertanggung jawab. Meski kita lahir dalam keluarga terpandang, itu semua tidak serta merta menjadikan kita anak yang hanya bertopang hidup dibawah kedua orangtuanya. Kita harus bisa berdiri dibawah kaki kita sendiri dan sukses dengan usaha kita sendiri pula. Ingatlah suatu hal, harga diri seorang laki-laki itu ada di dalam pekerjaannya. Jika seorang laki-laki itu bekerja ataupun mempunyai usaha, maka tidak ada yang berani mencemooh atau merendahkannya. Tapi, kita juga harus bertanggung jawab dengan apa yang kita kerjakan dan tidak bisa semena-mena begitu saja. Abang percaya, suatu saat nanti kamulah yang akan meneruskan usaha Abang ini."
Kata-katanya yang selalu menjadi motivasi ku, sampai saat ini masih tersimpan dengan baik di memori otakku.
Dan aku baru menyadari, jika kata-katanya itu mungkin sebuah isyarat dan firasat untuk ku.
Bang Haikal tidak pernah lelah memperingatkan diriku dan membimbing diriku hingga menjadi seperti sekarang ini.
Sebab masa lalu kelam yang aku lalui dulu, benar-benar membuat keluarga ku hancur.
Diusiaku yang saat itu masih lima belas tahun. Aku harus menjalani rehabilitasi tentang penyalahgunaan obat terlarang yaitu Narkoba.
Pergaulan ku yang sangat bebas dan pembangkang nya sifatku. Telah menjadikan ku seorang pecandu kala itu. Bergelung didalam kubangan dosa mencicipi barang haram yang begitu membuaikan.
Sejak kejadian itu, dan menjalani rehabilitasi. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi menyentuh barang laknat itu.
Cukup besar dosa yang aku torehkan untuk Abi dan Ummi ku. Mereka lah yang harus menanggung malu atas segala perbuatanku dimasa lalu.
Dan baru setelah menikah lah aku berjanji memutuskan untuk benar-benar berubah. Dari sikap dan tingkah laku yang aku miliki dulu, aku harus menyingkirkan semua hal buruk itu.
Karena janji yang telah aku ucapkan dihadapan Allah dan penghulu waktu ijab qobul. Itu semua harus dipenuhi dan dilaksanakan dengan baik.
Terutama janji pada Abang ku Haikal.
Untuk menjaga Aisyah dan menjadi kepala rumah tangga yang patut dicontoh.
Ah... Aisyah. Baru menyebut nama nya saja sudah membuat hati ku berdebar dan darahku berdesir.
Mengingat kejadian semalam yang mendadak mati lampu. Aku baru tau kalau dirinya phobia gelap dan tidak bisa tidur dalam keadaan gelap.
Semalaman aku berusaha menenangkannya supaya tidak terus ketakutan dan gelisah. Jadilah semalam kami tertidur dengan keadaan saling memeluk satu sama lain.
__ADS_1
Bayangkan saja, semalaman aku harus menahan hasrat yang mendadak bergemuruh di tubuhku. Membuat kepalaku berdenyut dan pusing sampai sekarang.
Benar-benar ujian yang sangat berat bagiku. Melebihi ujian saat aku berada di asrama rehabilitasi.
" Haidar, a-aku takut gelap." kata Aisyah semalam sesaat listrik dirumah kami tiba-tiba padam.
Aku berusaha menenangkannya malam itu.
" Kamu jangan takut, ada aku disini bersamamu. Jadi sekarang tidurlah dengan tenang, Oke?" ucapku seraya memberanikan diri untuk menyentuh tangan nya yang sudah mengamit lenganku dengan erat. Bahkan tubuh kami sudah tak berjarak, malah semakin dekat.
Aisyah terus saja menempel ketubuhku, membuat pusat inti tubuh ku bereaksi dan berdenyut seketika.
ck! benar-benar menyiksa saja.
Dengan cahaya temaram yang berasal dari ponselku, aku bisa melihat gerakan kepala Aisyah yang mengangguk takut-takut. Wajah nya yang cantik sudah berpeluh keringat dingin, efek dari ketakutan yang ia rasakan.
Sebegitu takutkah ia dengan gelap. Sampai-sampai tangan nya terasa sangat dingin dan terus gemetar.
Susah payah aku membujuk nya untuk terlelap dan mengenyahkan rasa takutnya. Hampir tengah malam ia bisa tidur dengan nyenyak. Berbeda dengan diriku yang harus menahan hasrat yang kian menjadi. Membuat ku terus gusar dan terjaga dengan menahan hasrat.
Kenapa nggak langsung diterjang saja Haidar? Kan kalian udah sah jadi suami istri?
Mungkin pertanyaan itu yang akan kalian tanyakan padaku.
Asal kalian tau saja. Sejak awal kami sudah memutuskan untuk memantapkan hati terlebih dulu. Sebelum kami melangkah ketahap berikutnya lebih jauh lagi.
Jangan karena kita sudah sah terus bisa langsung enak-enak.
Dalam prinsip ku, kami harus melakukan hal itu atas dasar suka sama suka. Bukan karena nafsu belaka.
Itu jauh lebih nikmat menurut ku. hehehe..
__ADS_1