
"Waaahh... masakanmu emang selalu the best, Sayang. Enggak salah kalo kamu disebut sebagai menantu idaman," puji Haidar sesaat menyuap masakan Aisyah ke dalam mulutnya.
Lelaki itu telah kecanduan dengan masakan Aisyah. Mulutnya pasti tak akan berhenti mengunyah bila sudah makan masakan istrinya.
Tentu Aisyah yang tengah menyendok nasi ke piringnya pun menjadi tersipu kala mendengar kalimat pujian dari Haidar yang selalu mampu membuatnya melambung tinggi—merasa dihargai oleh setiap pasangan menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap para istri apalagi jika urusan mengenyangkan perut.
Mungkin bagi Aisyah, ia telah berhasil menyenangkan Haidar lewat masakannya, namun tidak dalam urusan hal lain yaitu menyenangkan suaminya itu dalam bentuk pelayanan di ranjang.
Selama ini Aisyah benar-benar masih fakir tentang urusan yang intim itu.
Ia selalu merasa malu apabila membicarakan tentang masalah sensitif seperti itu kepada Haidar.
Pernah sewaktu-waktu ia bertanya kepada Haidar akan pelayanannya di ranjang. Namun bukan hanya jawaban yang Haidar berikan melainkan praktek di tempat secara langsung.
Ah, Aisyah malah jadi ingin tertawa bila mengingat hal itu.
"Sayang..."
Lamunan Aisyah menjadi buyar karena panggilan Haidar.
"I-iya..." Wanita itu terhenyak sesaat lantas bertanya,
"ada apa?"
"Itu kamu serius makan segitu?" Haidar mengedikkan dagunya ke arah piring yang ada di hadapan Aisyah.
Aisyah menatap piringnya lalu...
"Astaghfirullah!" Ia lantas tergelak sebab piringnya sudah berisi full nasi. "Aku enggak sadar." Aisyah mengembalikan separuh nasi pada tempatnya.
"Di meja makan enggak boleh ngelamun, loh? Apalagi ngelamunnya hal yang aneh-aneh," celetuk Haidar seraya menahan tawa. Ia senang jika menggoda Aisyah.
Wajah Aisyah seketika memanas diiringi semburat kemerahan di pipinya yang putih.
"A-aku enggak ngelamun, kok? Ngapain coba, aku ngelamun?" elak wanita itu, namun tingkahnya betul-betul membuat Haidar merasa gemas.
"Eh, siapa juga yang bilang kalo kamu ngelamun? Aku, 'kan cuma bilang, kalo di meja makan enggak boleh ngelamun. Itu aja. Kenapa kamu jadi ngerasa kalo aku nyindir kamu, hem?" ujarnya sembari menaikkan turunkan kedua alisnya.
Tatapan matanya seakan menyiratkan hal lain bagi Aisyah, yang sontak membuat dadanya berdebar tak karuan.
"Ish, kamu itu, ya! Sekarang suka banget godain aku. Sebel!" Aisyah mencubit perut Haidar yang malah cengengesan.
Ia sudah hapal betul dengan kelakuan Haidar yang satu ini.
Sedang Haidar malah semakin tergelak.
"Iya-iya, maaf." Haidar menyeka mulutnya dengan tisu lalu menenggak air putih yang ada di meja. "Lagian kamu lucu kalo aku godain. Mukanya jadi merah-merah jambu gitu." Tangannya terjulur mencubit gemas pipi Aisyah yang masih terlihat kesal.
Aisyah mencebikkan bibirnya.
"Kesel, ah! Kamu sukanya sekarang gitu. Udah aku mau makan dulu." Ia pun mulai memasukkan suapan pertama ke mulutnya dengan raut muka masam.
Perlahan Haidar menarik piring Aisyah dan mengambil alih sendok yang ada di tangan istrinya itu.
"Sini aku suapin." Dengan telaten Haidar menyuapi Aisyah.
__ADS_1
"Eh, enggak usah. Kamu, 'kan lagi makan," tolak Aisyah .
"Aku udah selesai," sahut Haidar yang kini kembali menyuapkan suapan kedua ke mulut Aisyah.
"Emang kamu udah selesai makan?"
Haidar mengangguk.
"Udah,"
"Udah kenyang?" Bola mata Aisyah menelisik piring yang memang telah kosong—bersih tak bersisa.
"Udah," jawab Haidar yang kesekian kali.
Aisyah manggut-manggut. Ia terus mengunyah makanan dari tangan suaminya.
Suasana seperti inilah yang diimpi-impikan oleh Aisyah, ketika masih proses ta'aruf dengan Haikal. Diperhatikan dalam hal-hal kecil, contohnya ya seperti saat ini.
Sifat Haidar tak kalah dewasa dengan sifat Haikal. Kendati keduanya memiliki cara tersendiri untuk menyenangkan hatinya.
Haidar dan Haikal dididik oleh abah dan uminya dengan sangat baik. Sehingga mereka sangat menghargai seorang wanita. Ya, walau pernikahan mereka di awal tak seindah harapan.
Namun Aisyah merasa bersyukur, sebab Haidar mau merubah sikap dan sifatnya. Bukan semata-mata demi menjalankan amanah dari sang kakak. Melainkan karena rasa cinta yang perlahan tumbuh di hatinya.
"Selesai." Haidar meletakkan sendok ke piring yang telah kosong. Ia baru saja menyuapkan suapan terakhir ke mulut Aisyah.
"Makasih, ya. Kamu malah jadi nyuapin aku," ucap Aisyah tulus.
"Iya, istriku yang cantik. Apa sih, yang enggak buat kamu," Haidar menyodorkan segelas air putih kepada Aisyah. "Diminum dulu."
Haidar menggeser gelas dari hadapan Aisyah, lalu bertanya,
"Udah kenyang?"
"Udah," sahut Aisyah. "Emang kenapa?" tanyanya kemudian. Aisyah masih nampak biasa saja, walau gerak-gerik Haidar sudah mengisyaratkan sesuatu.
Haidar bangkit dari kursinya, sedikit membungkuk lalu berbisik di telinga Aisyah.
"Kalo udah kenyang ayo bobok," Haidar menegakkan tubuhnya dengan seringai senyum penuh arti yang seketika membuat bulu kuduk Aisyah meremang.
Aisyah membeliak dengan mulut ternganga dan seperkian detik kemudian tubuhnya sudah melayang di udara.
"Haidar!" pekik wanita yang kini memakai piyama tidur berwarna biru itu yang terkejut lantaran Haidar telah membawanya ke dalam gendongan. "Me-mejanya, 'kan belum dibereskan," ucapan Aisyah mulai tersendat-sendat karena rasa gugup.
Tatapan mata Haidar telah berubah sayu dan berkabut, membuat jantung Aisyah semakin memompa lebih cepat.
Haidar lantas menyahut dengan suara yang terdengar parau seraya membawa tubuh mungil Aisyah yang ada di gendongan menuju kamar atas.
"Urusan itu bisa dilakukan besok, Sayang. Ada urusan lain yang enggak bisa ditunda sampai besok."
Aisyah sontak menelan ludahnya kelat. Kata-kata Haidar sungguh berbeda dengan biasanya. Karena rasa malu yang teramat, perlahan Aisyah telah mengalungkan tangannya ke leher Haidar dan menenggelamkan wajahnya di bahu suaminya itu.
'Haidar ini kenapa? Apa aku salah memberinya makan? Tiba-tiba dia berubah jadi aneh seperti ini.' batin Aisyah bertanya-tanya dengan sikap Haidar yang tak seperti biasanya.
Lelaki itu mendadak jadi pria yang terkesan na-kal dan...
__ADS_1
#####
Haidar membawa tubuh mungil Aisyah ke atas peraduan dengan hati-hati. Ia mulai mengangsurkan telapak tangannya ke sisi wajah Aisyah dengan lembut.
cut! hehehe...😅
Author mau numpang promo dulu yak! boleh yak!
Sinopsis: DOSA TERMANIS DENGAN MURIDKU
Alya terpaksa harus menjadi guru les privat demi menyambung hidup. Sebenarnya, ia memiliki seorang suami yang mapan dan lumayan tajir. Sayangnya, Galih adalah seorang laki-laki yang pelit dan perhitungan.
Maka mau tidak mau Alya harus mencari uang tambahan untuk biaya sehari-hari. Karena rasa cintanya kepada Galih begitu besar, Alya rela melakukan hal itu.
Namun, suatu ketika Alya dipertemukan dengan Marcell yang notabene adalah murid bimbingannya. Cowok paling tengil dan Omesh (otak mesum) yang Alya kenal.
Marcel berusia lebih muda dari Alya.
Usia Alya 27 tahun sedangkan Marcell baru 22 tahun. Cukup jauh bukan(?)
Tetapi, perbedaan umur tidak membuat Marcel mundur. Ia secara terang-terangan mengatakan kalau dirinya menyukai Alya yang katanya sangat seksi dan menggoda.
Suatu ketika Marcel secara blak-blakan bilang kepada Alya kalau ia ingin menjadi suami Alya.
Alya~
"Kamu itu masih kecil, lebih baik kamu belajar aja yang rajin biar cepet lulus. Jangan ngurusin hidup aku. Tau!"
Marcel~
Aku itu emang masih kecil, tapi aku punya cita-cita yang besar,"
Alya~
"Emang cita-cita kamu pengen jadi apa? Bocah!"
Marcel~
"Cita-cita aku pengen jadi suami kamu,"
Alya~
"Dasar bocah gendeng! Somplak!"
Akankah hati Alya kuat menahan godaan yang terus saja diberikan oleh Marcel?
Di satu sisi Alya harus mempertahankan rumah tangganya dengan Galih yang ternyata seorang pembohong besar.
Kalian pasti taulah ya...itu logonya di aplikasi mana..hihi😁
cusss! mampir bagi yg punya aplikasinya, koinnya murah kok!!🤭
Maacih....😘😘
__ADS_1