Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
Persetujuan Aisyah


__ADS_3

Aisyah POV.


Aku sangat-sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Haidar padaku. Pria ini betul-betul membuat ku terus merona malu karena ulahnya.


" Kamu?! Kenapa selalu seperti ini sih!!? Curi-curi cium dari aku. Bikin kesel tauk!!?" Aku langsung menutupi wajahku yang mungkin sudah memerah dengan telapak tanganku.


Sedang Haidar, dia malah terkekeh lalu semakin gencar menggodaku.


" Abis kamu gemesin. Kan aku jadinya pengen nyium kamu." Cicitnya sembari menarik tangan yang masih menutupi wajahku dengan lembut.


Pria itu malah semakin tersenyum lebar saat melihat pipiku yang mungkin sudah berubah seperti tomat.


hfft... laki-laki ini.


" Aisyah .." panggil nya dengan nada suara yang sangat lembut. Dari yang aku lihat, netranya seakan memancarkan sesuatu hal yang ingin dia ungkapkan.


Aku menyahut seraya menatapnya lekat " Iya, ada apa? Apa ada yang mau kamu omongin ke aku?" tanya ku to the point. Dan Haidar pun langsung mengangguk.


" Terimakasih, karena kamu mau dengerin penjelasanku. Karena kamu mau bersedia dengerin semua ceritaku. Aku.. " Haidar menjeda ucapannya sejenak.


Tingkahnya semakin aneh menurut ku.


Pun begitu diriku, ada apa dengan jantung ku ini. Seakan debarannya semakin cepat hingga hampir loncat.


Apa dia akan menyatakan perasaannya padaku?


Apa dia akan meminta haknya sebagai suami?


Ooh..Come on Aisyah, rileks.. rileks..


Batinku terus berseru, seolah memberiku semangat dan mengingatkan diriku akan sikapku.


Cepat atau lambat, Haidar pasti akan meminta haknya sebagai suami. positif thinking.

__ADS_1


Aku pun berusaha bertanya padanya. " Aku apa Dar? Kak-kamu mau ngomong apa ..?" Telapak tangan ku saling meremat satu sama lain. gugup.


Sorot mata Haidar seakan berbicara sesuatu. Lantas tangannya kembali menggenggam erat tanganku.


" Tangan kamu kok dingin? Kamu nggak kenapa-napa kan Syah?" Haidar ini, dia nggak ngerasa apa kalo tanganku dingin karena menahan gugup yang tiba-tiba melandaku.


hfft...


" Ak-aku .. ngga pa-pa kok?" Bohong ku.


Haidar pun bernafas lega. " Syukurlah, aku pikir kamu sakit. Soalnya telapak tangan kamu dingin begini, aku takut kalo kamu demam." Punggung tangannya menyentuh dahiku sejenak.


Lantas aku menarik tangannya yang menempel di dahiku pelan. " Kamu tenang aja, aku sehat kok." Kusuguhkan senyum termanis ku.


" Oh iya, kamu tadi mau ngomong apa? Kok nggak dilanjutin?" Aku yang masih penasaran langsung bertanya kembali padanya perihal kelanjutan kalimat yang sempat ia jeda beberapa saat yang lalu.


Haidar menggaruk kepalanya nampak berpikir.


" eemmm... aku...aku..."


" Aku ... laper Syah." Haidar meringis memamerkan deretan giginya yang putih.


Kecewa? Pastinya aku merasa kecewa. Kupikir dia akan menyatakan perasaannya padaku. Tapi ternyata dia cuma mau bilang laper. hfft...


Sebisa mungkin aku menutupi kekecewaan ku dengan ekspresi muka yang biasa. Bola mataku berputar malas. " Oohh... kirain mau ngomong apa. Ternyata cuma mau bilang laper to??" selorohku dengan nada sedikit menyinggung.


Kening Haidar menaut. " Emangnya kamu kira aku mau ngomong apaan? Kok ekspresi kamu kayak orang kecewa gitu?"


Aku menelan ludah dengan susah payah. mati aku! aku harus jawab apa coba.


" Eeh...itu... nggak kok! nggak ada apa-apa. Ya udah, mendingan sekarang kita pesen makanan. " Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, dan segera beranjak dari tempat duduk ku.


" Syah tunggu!! " Haidar membuntuti ku dari belakang.

__ADS_1


" Pria ini, kapan sih pekanya? Bikin aku kege-eran terus sukanya. hfft..." Gumamku seraya terus berjalan tanpa memperdulikan Haidar yang terus memanggil ku.


***


Malam harinya kami berencana untuk tinggal dikamar saja. Mengingat hari ini banyak sekali hal yang tidak terduga terjadi pada kami.


Ingatkan, waktu Haidar nggak sengaja ketemu sama mantannya yang model itu. Sebenernya aku merasa cemburu sewaktu Haidar tidak menolak untuk dicium oleh Tara mantan pacar nya itu. Bagaimanapun aku ini istrinya, dan Haidar suami sah ku.


Meskipun diantara kami sama sekali belum pernah melakukan hubungan suami istri yang sesungguhnya. Tapi tetap saja, kami ini sepasang suami istri yang sah. Sedang si Tara cuma mantan dan bagian masa lalunya.


Kami duduk santai dibalkon kamar sambil menikmati keindahan hamparan pantai yang terletak tepat di depan resort kami menginap.


" Aisyah." Haidar memanggil nama ku pelan.


Tatapan ku yang semula menghadap laut, seketika beralih menatapnya. " Apa?" Sahutku singkat.


Haidar menggenggam tanganku erat. " Malam ini, bolehkah aku meminta hakku? Itupun jika kamu sudah merasa siap dan tidak keberatan." Ucapnya dengan nada sedikit memohon dan dengan tatapan mata menyendu.


Jantung ku kembali berdebar kencang. Bibirku mendadak kaku seolah ada lem yang menempel. Mataku tak berhenti mengerjab.


" Eemm... soal itu? Eemmm.." Aduh.. gimana ini. Kenapa tiba-tiba aku jadi seperti orang bodoh. Bukankah ini yang seharusnya terjadi pada setiap pasangan suami istri yang tengah berbulan madu.


Aku menggigit bibir bawahku. Dengan helaan nafas panjang aku berucap Bismillah dalam hati. Kuanggukkan kepalaku seraya tersenyum tipis. Wajah ku yang memanas mungkin karena efek malu dan gugup.


Senyum Haidar mengembang tatkala mendengar persetujuan dari ku, " Alhamdulillah, makasih sayang terima kasih.cup!" Haidar memelukku dan mencium keningku bertubi-tubi. Membuat pipiku semakin merona dibuatnya. Ditambah dengan kata-kata sayangnya padaku. Hatiku semakin berbunga-bunga rasanya.


Ya Allah.. Mungkin ini sudah waktunya aku melaksanakan kewajiban ku sebagai istri dan memberikan Haidar haknya. InsyaAllah hamba siap untuk menyempurnakan ibadah ini.


Batinku.


Sebahagia inikah dia, mendapat persetujuan dariku.


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2