
Sementara itu di tempat lain yaitu di Apartemen Tara.
Selepas kepergian Haidar, Tara seperti orang yang tidak waras. Ia terus saja berteriak dan mengumpat Aisyah. Seisi kamar pun menjadi pelampiasannya saat ini. Semua barang berserakan dan sangat berantakan. Keadaan Tara baru bisa dikendalikan saat sang manager datang menjemputnya.
" Apa yang terjadi padamu Tara? Kenapa kamu sekacau ini? Semalam kamu pergi begitu saja setelah menyelesaikan syuting, lalu ponselmu juga tidak aktif. Aku kira kamu kelelahan dan ingin beristirahat, makanya kamu tidak bisa dihubungi. Tapi ini...,' Sang manager menjeda sejenak kalimatnya. Matanya menatap heran, karena keadaan kamar Tara yang sudah tak berbentuk lagi. Sedang sang artis terlihat lebih mengerikan dari penampakan kamarnya.
" Kamarmu sangat berantakan dan juga kamu terlihat mengenaskan. Apa kata para penggemar mu, jika mereka sampai melihat idola mereka kacau seperti ini. Mereka akan berpikir kalau idola mereka tengah depresi dan sakit jiwa. Apa kamu mau karirmu hancur begitu saja?" Ucapan sang manager malah semakin membuat Tara menangis histeris.
" Aku nggak peduli dengan omongan mereka Rin..., Aku nggak peduli sekalipun karirku akan hancur. Saat inipun aku sudah hancur, aku sudah hancur! Aarrghh....!!!" Tara kembali berteriak sekencang-kencangnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasibnya saat ini yang sudah tak suci lagi. Kesucian yang ia berikan pada Haidar dengan sengaja telah membuatnya malu.
Malu karena dengan mudahnya ia menyerahkan nya begitu saja. Itupun dilakukan dengan cara yang licik.
Selama ini ia sudah menjaganya mati-matian. Namun, semalam dengan mudahnya ia membiarkan Haidar merenggut mahkotanya yang paling berharga. Meski ia sendiri tau status Haidar yang sudah beristri. Dengan gelap mata dan hati yang sudah tertutup oleh obsesi, dirinya tak memikirkan dampak negatif yang akan ia terima kedepannya.
Manager Tara yang bernama Karin itu terlihat mengernyitkan dahinya. Omongan Tara barusan belum sepenuhnya meresap diotak dan pikirannya. Hingga ia memberanikan diri untuk bertanya kembali pada sang artis.
" Maksudnya apa Ra? Aku nggak ngerti sama sekali," tanya Karin seraya membantu Tara bangun dan menuntunnya ke tempat tidur.
" Aku udah nggak suci lagi Rin. Aku udah hancur!" sahut Tara dengan kembali berderai air mata. Mata Karin sontak membeliak lebar. Ucapan Tara barusan betul-betul sukses membuatnya terkejut sekaligus syok.
" Si-siapa laki-laki yang sudah memperkosa kamu Ra? Siapa? Bilang sama aku. Aku pastikan laki-laki itu akan membayar semua perbuatannya ke kamu. Bajingan!" Karin pikir kalau Tara sudah diperkosa oleh seseorang. Kesimpulan itu berdasarkan dari apa yang ia lihat saat ini. Keadaan Tara yang kacau dan kondisi psikisnya membuat manager sekaligus sahabat Tara itu meradang.
__ADS_1
Tara menggeleng lemah, " Aku bukan diperkosa Rin. Aku sendiri yang sudah memberikannya secara suka rela pada laki-laki itu. Aku yang sudah menjebaknya semalam." ucap Tara pelan.
" Apa!" Karin memekik. " Jadi maksud kamu. Kamu sendiri yang udah ngerusak diri kamu Ra," imbuhnya lagi. Karin tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu. Selama ini Tara sangat menjaga pergaulannya. Meski ia hidup di luar negeri, Tara tak pernah sekalipun terlihat bergonta-ganti pasangan. Kesibukannya sebagai model papan atas membuat gadis itu cuek terhadap laki-laki yang datang mendekatinya.
Tapi, apa yang Karin dengar langsung dari mulut Tara betul-betul diluar dugaannya selama ini.
Tara mengangguk lalu berkata,
" Iya Rin. Aku sendiri yang udah ngerusak masa depanku. Karena aku sudah dibutakan oleh obsesi ku yang ingin kembali memiliki Haidar,"
" Ma-maksudnya Haidar Permana mantan pacar kamu itu? Yang dulu kamu putusin begitu aja." Karin mengingat Haidar karena Tara pernah menceritakan kisah cintanya.
" Terus sekarang orangnya kemana? Jangan bilang dia nggak mau bertanggung jawab Ra," tanya Karin.
" Dia udah nikah Rin. Haidar udah pergi sama istrinya mungkin." jawaban Tara terdengar sarkas. Matanya kembali memanas dan hatinya kembali terasa nyeri.
Karin hanya menggeleng seraya menanggapi omongan Tara dengan tawa sumbang. " Kamu bercanda kan Ra? Kamu pasti bohong. Kata kamu Haidar sangat mencintaimu dan juga nggak bisa move on dari kamu,"
" Itu dulu Rin. Sekarang dia udah mencintai wanita lain. Hal itu juga yang udah bikin aku jadi seperti ini. Aku nggak terima kalau Haidar udah ngelupain aku dan menikah dengan wanita itu. Lalu aku berniat untuk merebut hatinya kembali-,"
" Dan kamu menjebaknya semalam, sengaja memberinya obat perangsang. Supaya dia mau menyentuhmu. Begitu?" Karin melanjutkan ucapan Tara begitu tepat. Karena ia melihat sebuah botol yang tergeletak di bawah kolong tempat tidur Tara. Ia segera menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah obat.
__ADS_1
Tara hanya terdiam tak berani mengiyakan pertanyaan Karin. Dan dari diamnya Tara membuat Karin semakin yakin jika sahabatnya itu memang sudah melakukan hal licik semacam itu.
" Ck! Ya ampun Ra. Kamu ini kayak nggak ada cowok lain deh. Masa laki orang mau kamu embat? Kamu itu kan cantik Ra. Kamu bisa ngendapetin seribu cowok macam Haidar di luar negeri. Lalu kenapa juga kamu harus repot-repot melakukan hal licik semacam itu. Sekarang kamu juga kan yang nanggung akibatnya," cerocos Karin. Mulutnya memang agak sedikit pedas namun Karin sebenarnya berhati baik. Ocehannya barusan hanya berniat untuk menghibur sang sahabat. Meski ia juga merasa sedikit kesal dengan tindakan bodoh yang sudah dilakukan oleh sahabatnya tersebut.
" Iya Rin. Aku ini memang bodoh! Aku terobsesi untuk mendapatkan Haidar lagi. Sehingga tanpa sadar aku sudah menghancurkan masa depan ku sendiri." Tara kembali menangis.
Karin memeluk tubuh Tara yang bergetar karena tangisannya. " Ssssttt...., Udah Ra.... Udah. Ini semua udah terlanjur terjadi. Lain kali kalau ada apa-apa kamu itu cerita dulu sama aku. Jangan asal maen ambil tindakan bodoh seperti ini. Sekarang kamu sendiri kan yang terluka," ucap Karin seraya menepuk-nepuk punggung Tara.
Tara melepas pelukan Karin lalu berkata,
" Terus gimana nasib aku selanjutnya Rin? Kelak aku pasti akan hamil, karena semalam aku membiarkan Haidar menabur benih didalam sini," ucapnya sambil menyentuh bagian perutnya.
Karin tampak memijit pelipisnya. Ia benar-benar dibuat pusing dengan masalah Tara.
" Aku juga bingung Ra mau jawab apa. Mau nyuruh kamu minta tanggung jawab sama Haidar juga nggak mungkin. Posisinya Haidar saat ini kan suami orang. Emang dia mau gitu tanggung jawab? Terus istrinya gimana? Aku pusing Ra. Mikirin masalah kamu," Karin tampaknya betul-betul sudah menyerah. Ia bingung harus memberi solusi apa untuk Tara.
" Aku akan tetep minta Haidar untuk bertanggung jawab Rin. Aku yakin kalau dia pasti mau. Kita tunggu saja waktu yang tepat," ucap Tara yakin.
Karin hanya bisa menggeleng dan mengedikkan bahu. " Terserah kamu Ra! Aku sebagai sahabat cuma bisa ngingetin kalau obsesi kamu itu suatu saat akan benar-benar menghancurkan hidupmu," Ia kesal karena Tara rupanya masih tetap pada pendiriannya untuk merebut Haidar kembali.
' Dasar keras kepala!' Karin hanya berani mengucapkan itu didalam hati.
__ADS_1