Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
Kopi Buatan Aisyah


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, yaitu apartemen Tara. Sepulangnya dari rumah sakit, wanita berkulit eksotis itu tidak henti-hentinya meracau. Keadaannya sekarang terlihat sangat menyedihkan. Tara meminum minuman beralkohol. Ia merasa frustasi dan kalah, lantaran Haidar sudah membuatnya malu di hadapan Aisyah.


"Haidar brengsek! Bisa-bisanya dia bikin aku malu di depan istrinya yang sok baik itu. Aku benci kamu Haidar! Aku benci! Apa kurangnya aku? Hah! Apa?!" Mulut Tara terus saja mengumpat Haidar. Ia kesal sekaligus marah pada mantan kekasihnya itu. Tara tidak terima dengan perlakuan Haidar sewaktu di rumah sakit tadi.


Beberapa botol kaca yang isinya sudah habis tak bersisa tampak begitu berantakan di mini bar milik Tara. Perempuan itu sudah menghabiskan tiga botol minuman sekaligus. Kemarahan sudah membuatnya hilang akal dan membawanya pada jalan yang bisa saja menyesatkan. Rasa cintanya pada Haidar yang masih bersemayam di lubuk hati dalam sekejap telah berubah menjadi kebencian.


Tara sebetulnya bukanlah perempuan jahat. Kebetulan ia hanyalah korban dari obsesinya sendiri. Penyesalan yang datang terlambat karena ia lebih memilih untuk mengejar karir. Telah memaksanya menjadi seorang perempuan yang egois. Selama ia tinggal di luar negeri dan meniti karir sebagai model profesional tak pernah sekalipun ia melakukan hal-hal yang yang kemungkinan bisa saja merusak nama baiknya.


Bila saja Haidar mau menunggunya. Mungkin ceritanya akan berbeda. Sewaktu Tara mendapatkan tawaran untuk menjadi model iklan dari produk ternama yang mengharuskan ia kembali ke Indonesia. Ia sebenarnya memiliki harapan bisa bertemu dan merajut kembali jalinan cintanya bersama Haidar.


Namun, harapannya ternyata tak sesuai dengan kenyataan yang ia lihat saat itu. Haidar rupanya sudah melupakan dirinya dan menikah dengan wanita lain.


Sungguh, Tara menyesal karena dulu ia mencampakkan Haidar begitu saja. Ia bahkan rela memberikan hal yang paling berharga dalam hidupnya demi mendapatkan cinta Haidar kembali. Sampai-sampai ia pun melakukan hal konyol yaitu memalsukan surat keterangan palsu yang menyatakan bahwa dirinya tengah hamil.


"Aarrgghh ...!!!" Tara melempar gelas yang masih berisikan setengah minuman berwarna merah itu ke lantai.


Prang!!!


Cairan berbau khas tersebut langsung menodai marmer mahal yang menjadi lantai apartemennya. Pecahan-pecahan gelas terlihat berceceran dimana-mana.


Dengan langkah kaki yang gontai Tara beranjak dari duduknya. Jalannya bahkan sampai sempoyongan sebab pandangannya mulai mengabur. Ia tak tau akan pergi kemana. Berada di dalam sini sangat membuatnya sesak. Tara butuh udara segar sekaligus teman untuk berbagi keluh kesah. Ia ingin sekali pergi ke suatu tempat yang dimana ia bisa mendapat hiburan. Supaya otaknya bisa lebih fresh.


Sesampainya di lift kepalanya tiba-tiba saja berdenyut dan terasa sangat pusing.


"Auw!! Arghh ...!" Pekiknya sambil meremas rambut yang sudah sangat berantakan. Tara melupakan statusnya yang sebagai model terkenal. Ia sama sekali tidak perduli dengan imej yang ia jaga selama ini. Penampilannya benar-benar sangat kacau dan berantakan.


"Sial! Kepala ku kenapa sangat sakit. Arghh ...!"


Tara berusaha mengerjap-ngerjapkan matanya yang mulai berkunang-kunang. "Kenapa tombolnya jadi banyak begini?" umpatnya kesal saat melihat tombol lift yang ada di depannya menjadi sangat banyak dan berganti-ganti.


Sesekali tubuhnya hampir limbung, beruntung keadaan di lorong lift sedang sepi. Hanya ada satu laki-laki yang sejak tadi memperhatikan Tara dari belakang.


Pria berpenampilan rapi tersebut tengah mengamati gerak-gerik Tara dalam diam. Ia tak ada niat sama sekali untuk bertanya atau sekedar basa-basi.


"Bukannya ... dia itu Tara?" Dalam hatinya ia bermonolog sendiri. Pria tersebut sepertinya mengenali Tara.


"Aarrghh!! Sial! Ini kenapa nggak bisa-bisa. Mana kepala aku sakit banget lagi," Terus-terusan mengumpat pada tombol lift yang tidak bersalah sedikitpun padanya. Berkali-kali ia memencet tombol tersebut tapi lift tak kunjung terbuka. Tara merasa kesal, kenapa dirinya hari ini begitu sial. Sudah dipermalukan sekarang lift-pun tengah mempermainkannya.


Dengan tak sabaran Tara terus saja menekan tombol-tombol itu. Sedang lelaki yang masih menatapnya malah tersenyum. Ia merasa kasihan sekaligus lucu. Bagaimana tidak. Mau sampai lebaran monyet pun pintu lift tidak akan pernah terbuka. Kalau yang di tekan bukan tombol yang seharusnya.

__ADS_1


Jari telunjuknya terus saja menekan dengan gerakan sembarangan. Sesekali ia menyentuh kepalanya yang semakin terasa nyeri. Mulutnya meringis sekaligus tak henti-hentinya mendesis.


Sampai pada akhirnya, Tara yang sudah tidak kuat menahan denyutan di kepala mendadak limbung ke belakang dan beruntung dengan sigap pria tersebut menangkap tubuh Tara.


grep!


Sontak wajah pria itu berubah masam dan mendengus berulang. Bau alkohol menyeruak masuk ke indera penciumannya.


Shitt!!


"Ternyata dia abis minum," Pria itu lantas membopong tubuh Tara yang sudah lemah dan tak sadarkan diri. "Mendingan gua bawa ke apartemen gua aja deh." gumamnya sembari melangkahkan kaki menuju apartemennya.


Pria tersebut menatap lekat-lekat wajah Tara.


"Kamu masih cantik seperti dulu, Ra." ucapnya sambil mengulum senyum penuh arti.


***


Keesokan harinya.


Di dalam sebuah kamar dua pasang suami istri baru saja menunaikan ibadah sholat subuh. Mereka memilih untuk mengaji sebentar. Setelah selesai mengaji, keduanya lantas membereskan perlengkapan sholat sambil berbincang-bincang.


"Sayang, gimana kalo kita pulangnya nanti sore aja?" tanya Haidar pada Aisyah yang masih sibuk membereskan tempat tidur mereka.


"Emang kamu nggak kerja?" Bukannya menjawab, Aisyah malah balik bertanya.


"Kebetulan kerjaan aku lagi nggak banyak," sahut Haidar sambil merangkul pinggang sang istri yang kembali melanjutkan kegiatannya. "Aku lagi pengen berduaan sama istriku yang cantik ini." Haidar mulai usil. Tangannya tak bisa dikondisikan bila sudah menyentuh tubuh Aisyah.


Sedangkan yang di sentuh mulai merasa jengah. "Jangan mulai deh ..." Aisyah berusaha menyingkirkan tangan nakal suaminya yang sudah bergerliya kemana-mana. "Mending sekarang kita turun ke bawah aja yuk! Nggak enak sama Umi." usul Aisyah. Lebih tepatnya ia sedang berusaha menghindar. Kalau terus dibiarkan, bisa-bisa Haidar bertindak lebih jauh.


Haidar sontak menghentikan gerakannya, "Yang semalem masih kurang sayang. Nanti malem lagi, ya?" Ia kini sudah berdiri dan memeluk tubuh Aisyah dari belakang. Meletakkan dagunya di ceruk leher Aisyah. Menghidu aroma feromon yang sudah menjadi favoritnya.


Aisyah mengelus jambang halus Haidar dengan tangan kanannya sementara tangannya yang lain mengusap tangan Haidar yang melingkar di pinggangnya.


"Iya-iya, nanti malem lagi. Sekarang mendingan kita cepetan turun. Udah siang ini. Aku, 'kan, harus bantuin Umi masak," Aisyah cukup mengiyakan saja keinginan Haidar. Sebab kalau tidak pasti akan berbuntut panjang. Soal nanti malam itu bisa diatur lagi. Yang terpenting sekarang ia tidak harus berdebat dengan suami manjanya ini.


Mendapat lampu hijau, Haidar lantas menyunggingkan senyuman sambil mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi Aisyah. "Makasih ya sayang. Kamu memang istri terbaik dan penurut."


"Amiiin ..."

__ADS_1


Menyenangkan hati suami itu sebenarnya perihal yang mudah. Asal kita bisa menjadi istri yang baik dan penurut. Itu saja sebenarnya sudah cukup. Ditambah dengan cara kita memperlakukan suami sebagaimana mestinya.


Selama menikah dengan Haidar, Aisyah lebih banyak belajar. Dari hal-hal yang sepele sampai hal yang penting. Karena ia merasa perlu melakukan hal itu. Menurutnya, pernikahan bisa berjalan dengan baik apabila diantara suami dan istri bisa saling memahami sepenuhnya sifat-sifat dan menerima kekurangan dari pasangan kita.


Sewaktu ia menjalani ta'aruf dengan Haikal. Aisyah tidak bisa banyak tau tentang calon suaminya itu. Lantaran ia dan Haikal hanya beberapa kali bertemu. Itupun hanya sebentar dan dalam pengawasan orang tua masing-masing.


Kalau sekarang ia sudah sah menjadi istri. Jadi, Aisyah lebih leluasa untuk mencari tau tentang apa yang disukai dan tidak disukai Haidar.


Setelah keduanya memutuskan untuk turun, ternyata Umi Maryam sudah sibuk di dapur bersama ART yang membantunya.


Aisyah mendekat ke Umi Maryam sedang Haidar memilih untuk duduk di ruang keluarga bersama Abi yang sedang menikmati secangkir teh hangat sambil menonton televisi.


"Umi mau masak apa nih? Ada yang bisa Aisyah bantu?" tanya Aisyah kepada Umi Maryam yang sibuk memotong kentang.


"Nggak usah sayang. Kamu mending buatin minuman aja sana buat suamimu," Umi Maryam menyahut tanpa menghentikan aktivitasnya memotong kentang. "Umi cuma mau masak semur ayam dicampur kentang sedikit. Ini juga udah ada Mbak Yuni yang bantu."


Aisyah memberenggut mendengar ucapan Umi. "Kok gitu sih, Umi? Masa Aisyah mau bantuin nggak boleh," ucapnya lirih.


Umi Maryam hanya tersenyum menanggapi keluhan putrinya. "Bukannya nggak boleh, nak. Kamu juga, 'kan, harus melayani suamimu dulu. Buatin dia minum, biasanya Haidar suka minum apa kalo pagi-pagi gini." ucap Umi menjelaskan pada Aisyah. Putrinya itu tidak pernah berubah.


"Haidar sih biasanya aku buatin kopi, Mi."


"Ya udah sana. Buatin kopi dulu baru kamu bantuin Umi masak." Umi Maryam mulai menumis bumbu semur yang tadi sudah diulek Mbak Yuni. Kentang yang tadi dipotong juga sudah dicuci bersih olehnya.


Aisyah mengangguki perintah Umi. Ia pun segera mengambil cangkir lalu wadah bundar berwarna biru yang berisikan bubuk kopi. Sambil senyum-senyum Aisyah memasukkan satu setengah sendok makan bubuk kopi ke cangkir.


"Awas, jangan lupa kasih gula," selorohan membuat Aisyah tertawa.


"Ya iya dong, Umi. Aisyah nggak mungkin lupa. Kan, udah biasa buat." seru Aisyah sembari menambahkan dua sendok teh gula pasir.


Kemudian ia memanaskan sedikit air di panci dan setelah mendidih baru air panas tersebut dituangkan kedalam cangkir.


Umi Maryam mengulum senyum saat memperhatikan putrinya yang begitu cekatan membuatkan kopi untuk suaminya. Rupanya, Aisyah betul-betul sudah menjelma menjadi seorang istri yang baik dan patuh. Sempat merasa khawatir sebab menikahkannya dengan pria yang bukan dicintainya.


Namun, kekhawatiran itu perlahan memudar seiring berjalannya waktu. Dimana sekarang beliau menyaksikan sendiri bagaimana keadaan rumah tangga Aisyah yang terlihat begitu harmonis dan bahagia.


Dalam hati, Umi Maryam selalu memanjatkan doa supaya Aisyah cepat sembuh dan segera di anugerahi momongan.


_

__ADS_1


_


_


__ADS_2