Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
Mati Lampu


__ADS_3

" Kalo gitu gimana kalo kita berkunjung kerumah Abi sama Ummi dulu, terus kerumah ku. Lalu kita bisa jalan-jalan deh, gimana?" Usulan Aisyah boleh juga.


Aku mengangguk " Oke, kalo mau kamu seperti itu. Aku akan turutin semuanya." Pungkas ku cepat. Aisyah sedikit tersipu mendengar ucapan ku.


" Makasih" Ucap Aisyah malu-malu.


Aku menatap nya bingung dengan alis terangkat sebelah. " Untuk apa?" tanyaku yang masih belum mengerti maksud nya.


" Untuk semuanya, untuk usaha kamu yang mau berubah dan belajar menjadi suami yang baik. Jujur, aku merasa tersanjung kamu perlakuan seperti ini. Aku pikir kalo kamu membenciku, karena sudah mengikatmu dalam pernikahan ini. Tapi ternyata pikiran aku salah. Abi dan Ummi pasti sudah mendidikmu dengan baik, sehingga kamu menjadi pria yang baik pula." Aku tersenyum mendengar penuturan Aisyah.


Jangan tanya lagi soal perasaan ku saat ini. Pasti nya aku sangat bahagia mendengar semua penuturan nya yang begitu mengagumi ku. " Tidak perlu berterima kasih, kita ini kan suami istri. Sudah menjadi kewajiban ku membuat istriku merasa senang. Tapi maaf ya, sampai saat ini kita belum..."


Aisyah memotong ucapan ku cepat. " Iya aku ngerti, ngga masalah juga buat aku."


" Emangnya kamu nggak pengen ngerasain malam pertama?" Terbesit ide diotakku untuk menggodanya dengan pertanyaan menjurus ke arah situ. Kulihat pipi Aisyah memerah dan merona.


Pasti saat dia sedang menahan malu karena godaan ku.


" emm...itu...itu... Udah ah!! Nggak usah bahas itu lagi. Aku mau siap-siap dulu dikamar, mau ganti baju." Aisyah mengalihkan pertanyaan ku dengan tersipu. Iapun beranjak dari tempatnya sambil tertunduk menutupi wajahnya yang merona.


Aku menatapnya yang berlari kecil menuju kelantai atas dengan senyum disudut bibir ku.


Ternyata dia manis juga kalo lagi tersipu. Jadi penasaran aku, pengen cepet-cepet menerkam nya. eh?


🌼🌼🌼🌼🌼


Sesuai permintaan Aisyah. Tujuan pertama kami berkunjung kerumah Abi dan Ummi. Disana kami disuguhkan berbagai macam masakan Ummi yang aku rindukan. Kami cukup lama disana, lalu kami pamit pulang. Meski sempat berdebat dengan Ummi, yang memaksa kami untuk menginap. Tapi pada akhirnya Ummi menyerah.


" Ya sudah kalo kalian nggak bisa nginep hari ini. Tapi lain kali, kalian harus nginep disini, ngga boleh nolak." kata Ummi yang akhirnya mengalah dengan kami.


Lalu kami melanjutkan kunjungan kami kerumah Aisyah. Dan disana tidak beda jauh dari rumah Abi dan Ummi. Mertuaku sempat mencegah kami untuk pulang kerumah. Lagi-lagi kami kembali berdebat kecil disana.


Setelah Aisyah berusaha menjelaskan kepada Abi dan Ummi nya. Akhirnya mereka pun mengalah.


" Ya wes nduk ndak pa-pa kalo kamu belum bisa nginep. Tapi lain kali kamu harus mau ya nginep disini. Abi sama Ummi sebenernya masih kangen sama kamu nduk." Sebenarnya ada rasa tidak enak dalam diriku. Mertuaku begitu menyayangi Aisyah. Maklumlah, dia itu anak tunggal. Jadinya dilimpahkan kasih sayang begitu berlimpah.


Tapi semenjak menikah dengan ku. Aku sama sekali belum pernah memberi nya kebahagiaan. Malah sering kali melukai hati nya dengan sengaja. Sikap ku yang tidak pernah menganggap nya, pasti membuatnya sedih.


Aku masih mengingat betul kejadian malam itu. Saat pertama kali kami menempati rumah yang sudah dibeli bang Haikal. Rencananya, setelah menikah, Ia dan Aisyah akan menempati rumah baru tersebut. Tapi takdir malah berbicara lain. Sebaliknya, rumah baru tersebut akulah yang menempati nya dan Aisyah sebagai pasangan pengantin baru.


" Lebih baik kita tidur dikamar terpisah. Kak Aisyah fahamkan maksutku? Ucap ku pada malam itu. Aku pergi dari kamar kami lalu pindah kekamar tamu.


Aku juga masih mengingat bagaimana reaksi Aisyah pada saat itu. Ia hanya mematung menatap nyalang kepergianku dari kamar kami.


Lalu hari demi hari kami lewati seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu atap. Aisyah memang masih melakukan kewajibannya sebagai seorang istri. Sedang aku, sengaja menyibukkan diriku dikantor.


Dan hari ini, aku sudah memutuskan untuk merubah sikapku.

__ADS_1


Sepulang dari rumah mertuaku, aku sengaja mengajak Aisyah nonton bioskop di mall.


Bisa dibilang aku sedang mengajaknya berkencan. Seperti anak ABG lainnya.


" Kamu mau nonton film apa?" tanya ku pada Aisyah. Kami saat ini sudah berada di loket pembelian tiket film.


Aisyah nampak berfikir sejenak sebelum mengutarakan keinginannya. " Gimana kalo kita nonton film horor?" Usulan Aisyah membuat ku sedikit terkejut mendengar nya. Selera gadis ini rupanya ekstrim juga ya.


Aku mengangguk cepat " Boleh, mau judul yang mana? Film horor lokal apa internasional?" tanyaku lagi sembari menunjuk kepapan judul film yang berjejer dihadapan kami.


" Yang lokal aja deh, aku belum nonton film yang ini. Kayaknya bagus, diliat dari judulnya." Sahut Aisyah sembari menunjuk salah satu judul film yang cukup membuatku semakin terkejut.


Kafir?


Aku manggut-manggut, meskipun aku tidak yakin. Dari judulnya saja aku sudah bergidik ngeri. Aku pikir, Aisyah akan memilih nonton film romantis, atau drama percintaan yang lebih menarik. Ternyata dia lebih memilih menonton film horor. Benar-benar nggak bisa ditebak.


Kamipun membagi tugas, Aisyah membeli tiket, sedang aku kebagian membeli camilan. Seperti biasanya, biar nggak terlalu tegang waktu kita nonton nanti.


" Udah beli tiketnya?" Setelah membeli camilan aku menghampiri Aisyah yang tengah berdiri di pintu masuk. Gadis itu mengangguk lalu kami berdua segera masuk kedalam.


.


.


.


Setelah puas menghabiskan waktu bersama. Dari berkunjung kerumah Abi dan Ummi, kerumah mertua, dilanjut menonton bioskop. Dan diakhiri dengan makan malam dicafe favorit Aisyah.


Kami pulang dengan perasaan senang. Berulangkali Aisyah berterima kasih padaku. Katanya ia sama sekali belum pernah melakukan hal ini bersama bang Haikal sebelumnya.


Aku sih bisa memakluminya, mereka itukan dulu nggak ada masa pacaran. Ketemu sekali, terus Ta'aruf, lalu memutuskan melamar dan dilanjut dengan pernikahan.


Sesingkat itu hubungan mereka. Kalo aku hitung ngga sampek dua bulan mereka mengenal satu sama lain.


Jodoh, Maut, Rezeki. Itu semua memang rahasia Allah. Kita sebagai umat-Nya cuma bisa berencana, selanjutnya Dialah yang menentukan kelanjutannya.


Sebenarnya dulu aku juga sempet pacaran sama temen satu kampusku. Kami menjalin hubungan cukup lama, hampir tiga tahun kami pacaran. Tapi, memang mungkin kami belum berjodoh. Pacarku memutuskan hubungan kami, karena ia ingin mengejar impiannya menjadi seorang model. Aku yang cuma sebatas kekasih nya tidak mempunyai hak sepenuhnya untuk mencegahnya. Pada akhirnya, kami putus secara baik-baik.


Dan setelah putus darinya, aku sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lagi. Sampai pada akhirnya aku mendadak menikahi Aisyah. Calon kakak ipar ku sendiri.


" Haidar" panggilan Aisyah membuatku menghentikan pekerjaan ku. Aku tengah sibuk berkutat didepan laptop untuk mengecek pekerjaan ku hari ini.


Aku menoleh kearah nya. " Iya, ada apa?"


Mataku membelalak lebar melihat pemandangan indah di depan ku. Aisyah cuma memakai piyama tidur berlengan pendek dan bercelana panjang berwarna nude tanpa mengenakan hijab. Rambut panjang nya basah dan menguarkan aroma shampo yang sangat wangi. Baru kali ini aku melihatnya tanpa mengenakan hijab. Benar-benar sangat cantik.


Aku melongo tak berkedip sedikitpun, rasanya enggan saja melewatkan kesempatan ini. Kapan lagi coba.

__ADS_1


" Kamu... nggak keberatan kan,kalo aku tidur dengan berpakaian seperti ini?" Pertanyaan Aisyah yang tampak ragu dan aneh membuat ku menyunggingkan senyum. lucu.


Ia berdiri di depan ku dengan kepala tertunduk sambil memilin ujung piyamanya.


Lantas aku menghampirinya dan menuntun nya untuk duduk dipinggir ranjang. Saat menyentuh tangan nya, darahku kembali berdesir. Irama jantung ku semakin cepat dan rasanya ingin loncat. Bagian inti tubuh ku juga bereaksi lagi.


Membuat kepalaku mendadak berdenyut. pusing.


sial!!!


Kami duduk saling berhadapan. Aisyah masih betah menunduk. Aku melirik ke bawah, ternyata rambutnya yang basah masih meneteskan air. Lalu aku berinisiatif untuk mengeringkan rambutnya itu.


Aku beranjak lalu mengambil handuk kecil dari dalam lemari. Selanjutnya aku mengarahkan handuk kecil itu ke kepala Aisyah.


Wanita itu sedikit berjengit lalu beringsut mundur. " Kamu mau ngapain?" tanyanya dengan polos. Kuperhatikan wajahnya berubah memerah. Seperti kepiting rebus.


Aku menelan ludah ku dengan susah payah. Menatap wajah Aisyah dari jarak dekat seperti ini, membuat ku agak aneh.


Pikiran mesumku mulai berkelana kesana kemari saat tatapanku jatuh pada bibir berwarna pink itu. Rasanya pasti sangat manis jika aku mencicipinya sedikit.


boleh nggak ya.. eh?


" Kamu tenang aja, aku cuma mau mengeringkan rambut mu. Kalo tidak dikeringkan nanti kamu bisa masuk angin." Aku berusaha menjelaskan niatku padanya.


Aisyah cuma ber'oh ria saja.


Ia lalu kembali memposisikan tubuhnya didepanku. Aku berdiri menjulang dihadapannya lalu memulai niatku untuk mengeringkan rambutnya.


Wangi shampo yang menguar benar-benar membuat ku kehilangan fokus. Ditambah dengan pemandangan yang tak pernah kuduga.


Piyama bagian belakang tersebut basah dan aku lihat daleman berwarna hitam yang digunakan Aisyah tercetak jelas di sana. Terpampang jelas pengait bra yang dikenakan nya. Membuat otak mesum ku kembali aktif.


shitt!!


Bisa-bisanya aku berpikiran mesum seperti ini.


" Sudah" Sengaja aku menyelesaikan nya dengan cepat. Kalo kelamaan bisa-bisa aku kehilangan kendali dan menerkam Aisyah saat ini juga.


" Makasih" Ucap Aisyah padaku. Aku hanya mengangguk dan melempar senyum.


" Tidurlah, kamu pasti lelah. Seharian ini kita udah jalan-jalan." Ujarku seraya menaruh handuk ke keranjang baju kotor.


" Iya" Aisyah lalu membaringkan tubuhnya ketempat tidur. Kemudian disusul dengan ku yang ikut merebahkan tubuh ku disebelahnya.


Mendadak listrik padam dan membuat Aisyah sedikit menjerit.


" Haidar, a-aku takut gelap."

__ADS_1


__ADS_2