
" Assalamualaikum ..." Haidar mengucap salam setelah itu masuk kedalam rumah.
" Wa'alaikumsalam," Terdengar suara Aisyah yang membalas salam Haidar dari arah dapur.
Haidar mengulum senyum saat mendapati sang istri tengah di sibukkan oleh aktivitas memasaknya.
Ia pun mendekat kemudian memeluk tubuh ramping Aisyah dari belakang dengan mesra, sampai membuat Aisyah sedikit berjengit.
" Sibuk banget sih. Sampek aku pulang ngga disambut," ucap Haidar seraya mengecup pipi Aisyah dari samping.
Istrinya hanya terkekeh, " Ya abis lagi nanggung banget ini. Ntar kalo aku tinggal jadi gosong." cicit Aisyah tanpa menoleh sedikitpun. Tangannya masih sibuk membolak-balik masakan yang sedang ia buat.
" Udah sana mandi dulu. Abis itu sholat maghrib sekalian. Selanjutnya kita makan malam." sambung Aisyah lagi, menginterupsi sang suami yang saat ini malah tengah asyik mengendus-endus lehernya. Aisyah beberapa kali sampai berjengit karena geli. Perlakuan Haidar membuat fokusnya buyar seketika. Kalo dibiarkan bisa-bisa Haidar kebablasan.
" Hmm ... Iya bentar lagi. Masih kangen aku sama istriku yang cantik ini. Yang katanya tadi bilang mau ke kantor tapi malah nggak jadi. Trus tiba-tiba aja nggak ada kabar sama sekali. Ponselnya juga mati. Bikin orang cemas aja tau nggak, kamu itu." celoteh Haidar panjang lebar. Ia sebenarnya tak pernah mempermasalahkan kalau Aisyah ingin bepergian kemana saja yang istrinya itu suka. Namun laki-laki itu khawatir dan cemas kendati Aisyah tak memberinya kabar sama sekali.
Ucapan Haidar membuat Aisyah terhenyak dan tiba-tiba menjatuhkan spatula yang sejak tadi ia pegang. Aisyah jadi teringat kembali dengan janjinya pada Tara yang akan memberitahu kabar kehamilan wanita itu pada Haidar.
Hati Aisyah kembali merasa sesak.
Haidar yang melihat itupun langsung berhenti dari kegiatan yang secara tidak langsung sudah menyulut hasratnya. Ia membalikkan tubuh Aisyah supaya bisa menatap wajah cantik istrinya itu.
Ditatapnya dengan penuh cinta wanita yang sudah hampir lima bulan menjadi istrinya. Aisyah tiba-tiba berubah murung membuat bibir Haidar terasa sangat gatal untuk melontarkan pertanyaan.
" Kamu kenapa? Kok tiba-tiba murung?" tanya Haidar seraya mengecup kening Aisyah sekilas lalu menuntun istrinya untuk duduk ke meja makan.
" Duduklah," titah Haidar. Yang kemudian ikut duduk disebelah Aisyah.
Sedang istrinya itu masih saja murung dengan kepala tertunduk. Haidar hanya tidak tau jika saat ini Aisyah tengah menahan air matanya yang sebentar lagi akan tumpah. Meremat jari-jarinya dan menggigit bibirnya dalam. Aisyah berusaha meredam kesedihan yang bergejolak didadanya. Sudah cukup ia menangis sepanjang perjalanan pulang tadi. Aisyah tidak mau menangisi hal yang menurutnya sudah menjadi kehendak Allah untuk rumah tangganya. Baginya ini adalah sebuah ujian yang harus Aisyah jalani bersama Haidar.
__ADS_1
" Sayang ...," panggil Haidar. Dengan sikap Aisyah yang seperti itu membuat Haidar menjadi khawatir. Pasti ada suatu hal yang sedang mengganggu pikiran sang istri. Sebab tidak biasanya Aisyah murung seperti sekarang ini.
Jari Haidar terulur mengusap wajah Aisyah yang masih saja datar tanpa ekspresi sedikitpun. Haidar lalu bertanya lagi, " Sebenarnya apa yang lagi kamu pikirin? Aku ngerasa kalo kamu lagi nggak baik-baik aja. Tadi siang juga kamu habis kemana? Ponsel kamu juga mati nggak bisa di hubungi. Aku telfon Abi dan Umi kamu, kata mereka kamu nggak main kesana. Aku khawatir sama kamu sayang. Cerita dong ... jangan diem kayak gini," Haidar bingung kalau Aisyah dalam mode seperti ini. Istrinya itu dari dulu suka memendam masalahnya sendiri. Terkadang Haidar sampai pusing dibuatnya.
Aisyah mulai bereaksi. Mengangkat wajahnya perlahan kemudian menatap Haidar sendu. Ritme jantungnya mulai tak beraturan, Aisyah merasa gugup untuk menyampaikan masalah yang tengah menimpa rumah tangganya. Ia bingung harus memulainya darimana.
" Tadi pagi Tara kesini," ucap Aisyah singkat. Dan seketika membuat senyum dibibir Haidar memudar. Rahangnya mengetat beriringan dengan giginya yang saling gemeletuk. Nama yang membuat otaknya mendadak terasa panas.
" Dia kesini mau ngapain? Dia nggak ngomong macem-macem kan sama kamu?" tanya Haidar dingin.
" Tara hamil, Haidar." Dua kata yang terlontar dari mulut Aisyah barusan sukses membuat Haidar syok. Bak petir yang menyambar di siang bolong, berita Kehamilan Tara betul-betul sudah menjungkirbalikkan dunianya saat ini.
' Ha-hamil? Tara hamil,'
Masih dengan keterkejutannya, Haidar semakin di buat syok saat Aisyah memberikan beberapa bukti berupa surat keterangan dari dokter dan alat tes kehamilan Tara.
" Ini apa, Syah?" tanya Haidar dengan ekspresi wajah yang sangat datar seraya mengambil bukti itu.
Haidar lantas segera membacanya dengan teliti, " Kenapa kamu tidak memberitahu ku kalau Tara datang ke rumah ini. Dia tidak menyakiti kamu kan, Syah?" Haidar bertanya pada Aisyah sembari membaca surat keterangan dari dokter.
" Baterai ponselku habis. Tara tidak menyakiti ku sama sekali," jawab Aisyah singkat.
Haidar lalu meremat kertas itu dengan amarah yang terpancar dari matanya, " Besok aku akan menemuinya. Aku akan menyuruhnya untuk menggugurkan anak itu," ucapan Haidar sontak membuat mata Aisyah membola.
" Istighfar Haidar istighfar! Tara itu lagi hamil anak kamu. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu? Hah?" Aisyah marah. Ia benar-benar merasa tidak percaya, Haidar memiliki pikiran jahat seperti itu. Ia tega menyuruh Tara untuk menggugurkan anaknya sendiri.
Kepala Haidar rasanya mau pecah, pikiran lelaki itu betul-betul kalut. " Lantas kamu nyuruh aku buat bertanggung jawab, iya? Sampai kapanpun aku nggak akan nikah sama Tara. Nggak akan, Syah." Haidar tersulut emosi. Ia merasa kalau dirinya benar-benar pria brengsek.
Lalu, apa kabar dengan hati Aisyah saat ini.
__ADS_1
Aisyah lah yang menjadi korban dalam masalah antara mantan kekasih tersebut. Istri mana yang bisa menerima kenyataan pahit saat mendengar jika suaminya menghamili wanita lain.
" Kalau kamu memang tetap ingin menyuruh Tara untuk menggugurkan bayinya. Lebih baik aku pergi dari kehidupan kamu saat ini juga. Aku nggak mau punya suami yang tega membunuh anak kandungnya sendiri. Itu sama saja aku menikah dengan seorang pembunuh," ucap Aisyah tegas. Walau sebenarnya ia merasa berat untuk mengatakan hal itu. Namun ia juga tak mau kalau sampai Haidar membunuh anak kandungnya sendiri.
Hati Haidar mencelos mendengar ucapan Aisyah, " Ka-kamu nggak serius kan, Syah? Kamu nggak boleh pergi tinggalin aku, Syah. Nggak boleh, nggak!" Haidar menarik Aisyah ke pelukannya. Ia merasa takut kalau sampai Aisyah membuktikan ucapannya.
Aisyah masih terdiam, ia enggan membalas pelukan Haidar. Hati Aisyah terlalu sakit untuk mengikhlaskan semua ini. Ia hanya lah manusia biasa, ia juga seorang wanita yang memiliki hati yang lemah.
" Kalau begitu kamu harus bertanggung jawab, Dar. Kamu harus menikahi Tara," ucap Aisyah lirih seiring cairan bening yang keluar dari sudut matanya. Dadanya terasa sesak saat mengatakan hal itu. Apakah ia benar-benar sudah rela jika sampai di poligami oleh Haidar. Apakah Aisyah betul-betul sudah siap memiliki seorang madu. Pertanyaan-pertanyaan yang membuat hatinya semakin terluka.
Aisyah menangis di dekapan Haidar, ia menumpahkan semua perasaan yang bercampur aduk jadi satu. Dan itu membuat perasaan bersalah Haidar semakin bertambah berkali-kali lipat. Lelaki itu juga ikut menangis, hatinya juga merasa perih. Ia telah gagal membahagiakan Aisyah, ia juga sudah membuat hati wanita itu terluka begitu dalam.
Haidar tidak mau Aisyah pergi meninggalkan nya, lebih baik ia menuruti keinginan istrinya itu. Walau sebenarnya ia juga tak ingin bila hal itu sampai terjadi. Menikahi Tara sama saja ia harus berpoligami.
Lama keduanya larut dalam perasaan masing-masing. Sampai pada akhirnya Haidar mengurai pelukannya. " Maafin aku, Syah. Aku benar-benar pria brengsek. Aku pantas mendapatkan hukuman darimu," Haidar tiba-tiba bersimpuh di bawah kaki Aisyah.
Aisyah yang terkejut langsung beringsut mundur dan segera menuntun suaminya itu untuk berdiri. " Bangunlah, Haidar! Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak boleh seperti ini, aku ini istrimu. Dan kamu tidak pantas bersujud dikaki ku." Aisyah semakin terisak. Haidar terlihat begitu menyedihkan, laki-laki itu sama terlukanya.
Haidar tertunduk dalam, air mata masih membanjiri wajahnya yang tampan. " Aku malu pada mendiang almarhum bang Haikal, Syah. Aku tidak bisa memenuhi janjiku pada nya, untuk selalu membahagiakan kamu," Aisyah sedikit terkesiap mendengar nama Haikal. Pria pertama yang sudah berhasil membuat dirinya kagum pada pribadi yang dimiliki oleh lelaki itu. Haikal juga cinta pertama Aisyah, pria soleh dengan kepribadian yang luar biasa.
" Bagaimana dengan orang tua kita, Syah? Mereka pasti akan murka kalau sampai mengetahui hal ini. Terutama orang tua kamu, mereka pasti terluka kalau tau anak perempuan satu-satunya tersakiti seperti ini dan malah akan di poligami." Haidar melanjutkan ucapannya tadi dengan perasaan kian berkecamuk. Bayangan kemarahan kedua orang tua dan mertuanya terlintas dipikiran pria itu.
Aisyah menatap nanar suaminya yang terlihat sangat menyedihkan saat ini, " Kita akan menghadapinya sama-sama, Dar. Kita akan menanggung kemarahan mereka juga sama-sama. Kamu tenang aja, mereka pasti mau mengerti dan memaafkan kamu." ucap Aisyah meyakinkan suaminya itu. Aisyah mengusap air mata yang masih mengalir di pipi nya dan juga air mata Haidar.
Haidar meraih tangan Aisyah yang menempel di wajahnya, " Kamu betul-betul wanita berhati malaikat, Syah. Terbuat dari apa sebenarnya hati kamu itu. Beruntungnya aku memiliki istri sepertimu. Aku harap kamu mau menjawabnya dengan jujur, Syah. Apa kamu yakin akan keputusanmu yang menyuruhku untuk menikahi Tara? Apa kamu sudah siap jika kamu harus dimadu?" tanya Haidar pada Aisyah.
' Katakan tidak, Syah. Aku mohon.' ucap Haidar dalam hati. Ia berharap Aisyah mengatakan tidak untuk pertanyaannya itu.
Aisyah masih terdiam lantaran dirinya harus memantapkan hatinya untuk menjawab pertanyaan Haidar.
__ADS_1
Sejenak keheningan membentang diantara keduanya. Sampai akhirnya Aisyah kembali bersuara.
" Aku siap, Dar. Aku siap bila harus dimadu," ucapnya yakin, meski pada akhirnya air mata kembali menetes di pipinya.