
Sekembalinya dari rumah sakit, Aisyah lantas menuju kantor Haidar. Dikarenakan, waktu telah menunjukkan hampir jam 12 siang. Namun, sebelum itu,wanita yang selalu berhijab tersebut mampir ke sebuah restoran terlebih dahulu untuk membeli makanan.
Sambil menunggu pesanannya siap, Aisyah duduk tepat di sebelah meja kasir sembari terus bergumam,
"Heuh, terpaksa aku beli. Padahal di hari yang membahagiakan ini aku mau masak yang spesial buat Haidar. Tapi enggak apa-apa deh. Nanti malem, 'kan juga bisa."
Bola matanya yang bulat berpendar ke seluruh penjuru ruangan restoran yang cukup ramai itu. Lalu, secara tidak sengaja pandangannya tertuju pada sosok yang duduk di ujung tempat ini.
"Tara?" Aisyah menyipitkan mata guna memperjelas pandangannya. "Iya. Itu Tara. Dia sama siapa, ya?"
"Maaf, ini pesanan Anda, Kak." Suara pelayan restoran memecah konsentrasi Aisyah yang hendak mencari tahu siapa lelaki yang duduk bersama Tara.
Aisyah lantas menatap pelayanan tersebut sambil tersenyum.
"Oh, makasih, ya?" Dia menerima dua paper bag yang disodorkan pelayan restoran, yang berisikan dua menu kesukaan Haidar.
Perempuan itu kemudian membayar tagihan makanan yang dia beli, selesai dengan urusannya Aisyah lalu pergi dari restoran itu. Niatnya yang ingin menyapa Tara harus dia urungkan, lantaran waktu semakin mepet.
Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kantor Haidar. Cuaca siang ini cukup terik, hingga Aisyah merasa agak sedikit kepanasan dan lelah.
Untung kantor Haidar tidak bertingkat seperti kebanyakan gedung-gedung perkantoran di sekitarnya. Jadi Aisyah tidak perlu bersusah payah untuk menuju ruangan kerja Haidar.
"Assalamualaikum." Aisyah mengucap salam begitu tiba di depan pintu ruangan Haidar.
"Wa'alaikumsalam wr. wb." Haidar yang kebetulan tengah berdiri di balik meja segera menghampiri Aisyah. "Loh, kok enggak ngabarin aku?" Dia menuntun istrinya masuk dan menyuruhnya duduk di sofa.
"Aku lupa. Aku takut telat. Soalnya udah siang banget. Nanti kamu malah telat makan siangnya. Ya, udah aku ke sini aja." Aisyah meletakkan apa yang dia bawa ke atas meja.
"Minum dulu. Kamu keliatan capek banget." Haidar menyodorkan botol air mineral yang baru saja dia ambil dari lemari es yang tersedia di ruangannya. Tak lupa pula dia membukakan tutupnya.
Perhatian Haidar sukses membuat rasa lelah Aisyah menguap begitu saja. Perempuan itu mengulum senyum lantas menerima botol minum dari tangan suaminya.
"Makasih." Aisyah yang memang sangat haus langsung meminum air dingin tersebut. "Alhamdulillah." Tenggorokannya seketika terasa adem dan segar.
Haidar yang sedari tadi memperhatikan, cuma menggelengkan kepala. Dia menghela napas panjang lalu berucap,
"Lain kali kabarin aku, ya, Sayang. Tuh, kamu kecapekan kayak gini. Aku jadi ngerasa enggak guna banget jadi suami." Diusapnya lembut dahi Aisyah dengan selembar tisu. Perasaan bersalah mendadak menggelayuti hatinya.
"Masya Allah ... suamiku ini perhatian banget, deh." Aisyah terkekeh lalu menggapai tangan Haidar. "Aku enggak apa-apa, Sayang. Hitung-hitung olahraga."
"Susah ngomong sama kamu." Haidar mencubit gemas hidung mancung Aisyah, lantas keduanya tertawa.
"Ayo makan. Aku udah beliin makanan kesukaan kamu, loh." Aisyah mengeluarkan makanan yang dia beli tadi lalu membukanya. "Tuh, masih anget. Nih." Dia menaruhnya tepat di depan Haidar.
"Cumi goreng mentega." Haidar berbinar melihat makanan favoritnya ada di depan mata. "Punya kamu mana?" tanyanya kemudian.
"Ini punyaku." Aisyah menunjukkan menu makan siangnya.
Kening Haidar sontak mengernyit.
__ADS_1
"Kok, cuma itu? Aku kira sama kayak aku," tanya Haidar yang merasa heran, lantaran menu makan siang Aisyah cuma berupa salad dan beberapa potong daging.
"Rena tadi menyarankan aku buat makan makanan yang lebih sehat. Biar aku cepet hamil," jelas Aisyah seraya mengeluarkan hasil tes kesehatannya dari Rumah Sakit yang ada di tas. "Ini. Coba diliat, deh. Pasti kamu bakalan seneng."
Kening Haidar semakin mengerut dalam, rasa penasaran terpancar dari wajahnya yang tampan. Dia membuka selembar kertas itu lalu membacanya dengan seksama.
Aisyah tak henti mengulum senyum seraya menatap suaminya. Dia tidak sabar menunggu reaksi Haidar yang sebentar lagi tahu kabar gembira ini.
Bola mata Haidar seketika berkabut dan buram. Tenggorokannya mendadak tercekat manakala mengetahui hasil tes kesehatan istrinya.
"I--ini?" Haidar beralih menatap Aisyah yang juga sudah berkaca-kaca. "Itu artinya kamu?" Lelaki berkemeja abu-abu itu meminta penjelasan lebih kepada Aisyah.
Satu anggukan kepala dari Aisyah cukup menjabarkan segala sesuatu yang ingin dia ketahui.
Lantas, secepat kilat Haidar meraih tubuh kecil Aisyah ke dalam dekapan. Dia memeluk perempuan yang sudah dinikahinya selama hampir satu tahun itu dengan derai air mata yang tak bisa dibendung lagi.
"Alhamdulillah ... alhamdulilah ... alhamdulilah, Ya Rab." Rasa haru berurai ucapan syukur Haidar panjatkan. Kabar menggembirakan ini merupakan angin segar baginya, di tengah-tengah upayanya selama ini demi mendapatkan momongan.
Aisyah juga sudah terisak di dalam pelukan suaminya. Rasanya masih seperti mimpi. Meski dia harus masih melakukan beberapa terapi lagi, guna menyempurnakan kesembuhannya.
Akan tetapi, bagi orang yang menderita autoimun, itu tidak bisa sembuh total. Penderita penyakit tersebut harus tetap mengonsumsi obat pengencer darah setiap waktu, demi menghindari berbagai macam kemungkinan yang bisa membahayakan janin pada suatu waktu.
Haidar mengurai pelukannya lantas bertanya, setelah beberapa saat tengelam dalam keharuan bercampur kebahagiaan. Dia menyeka jejak air mata di wajahnya lalu di wajah Aisyah.
"Si Rena bilang apa lagi sama kamu?"
"Rena bilang kalau aku ada kemungkinan bisa hamil sekitar satu sampai dua bulan lagi. Kita bisa melakukannya lewat proses bayi tabung," ungkap Aisyah.
"Syukurlah. Kalau memang ada jalan untuk itu. Semoga semuanya diberikan kelancaran, dan kamu juga harus jaga kesehatan. Jangan capek-capek." Dikecupnya kening sang istri dengan mesra.
"Tapi, bayi tabung itu enggak murah, loh, Sayang." Aisyah terlihat mencemaskan perihal biaya yang akan dikeluarkan untuk proses tersebut.
Haidar tersenyum tipis melihat kecemasan Aisyah, lalu dengan cepat dia memberi penjelasan supaya istri cantiknya ini tidak merasa cemas lagi.
"Kalau untuk masalah itu kamu enggak usah khawatir, Sayang. InsyaAllah aku ada tabungan, yang sangat-sangat cukup untuk membiayai semua itu. Jadi kamu enggak usah cemas lagi. Oke."
"Tapi, Sayang."
"Ssstttt ... udah. Enggak usah dipikirin. Itu semua udah jadi tanggung jawab aku sebagai kepala rumah tangga. Cukup kamu mendoakan aku biar rejekiku terus mengalir dan enggak pernah putus." Haidar meraih kedua tangan Aisyah lalu mengecupnya bergantian.
Aisyah segera mengamini ucapan Haidar sambil tersenyum. Dia merasa beruntung dan bersyukur memiliki suami seperti Haidar. Meski di dalam hatinya ada rasa tidak enak, karena sudah merepotkan.
"Ya udah kita makan sekarang. Keburu dingin." Aisyah lantas menyendok makan siang Haidar lalu menyodorkannya di depan mulut suaminya itu. "Aaa ..."
"Disuapin nih ceritanya?" Haidar terkekeh.
"Iya. Aku mau nyuapin suami aku yang baik dan ganteng ini. Boleh, kan?"
Haidar menyeringai lebar.
__ADS_1
"Boleh banget dong ...." Kemudian dia membuka mulutnya lebar-lebar dan melahap makanan yang disodorkan Aisyah. "Aku juga mau nyuapin kamu." Lelaki itu menyendok salad dan daging, lalu menyodorkannya ke depan mulut Aisyah.
"Kamu kenyang makan beginian doang?"
"Kenyang. Kan aku juga beli ini." Aisyah mengeluarkan satu menu makanan lagi dari paper bag.
"Wah ... puding buah. Keliatannya enak."
"Enak dong."
Keduanya saling suap menyuap makanan masing-masing. Diselingi canda tawa dan obrolan ringan. Makan siang yang berkesan.
Usai menyantap makanan berat. Aisyah dan Haidar lalu mencicipi puding aneka macam buah yang nampak menggiurkan.
Tiba-tiba Aisyah teringat sesuatu.
"Oh, iya. Tadi pas di restoran aku enggak sengaja liat Tara."
Mulut Haidar yang sedang mengunyah seketika berhenti.
"Tara?" Kedua alisnya terangkat.
Aisyah mengangguk.
"Iya, Tara. Dia lagi makan siang sama cowok."
Haidar yang merasa berita itu tidak penting cuma mengedikkan bahu, dan kembali melanjutkan makan puding.
"Kok kamu keliatannya cuek gitu, sih?"
Pertanyaan Aisyah sontak membuat Haidar tertawa. Istrinya ini benar-benar konyol dan sangat polos.
"Terus aku mesti gimana, Sayang? hem?" Haidar mencubit pipi mulus Aisyah.
"Ya kamu pura-pura kaget atau terkejut gitu?" Aisyah mencebik. Dia mulai tidak jelas dan hal itu membuat Haidar semakin ingin tertawa.
"Kamu lucu." Haidar mencubit pipi Aisyah lagi. "Aku, 'kan enggak ada hubungan apa-apa sama dia. Masa iya aku harus bereaksi berlebihan kayak gitu. Ada-ada aja kamu ini." Kepalanya menggeleng, tak habis pikir dengan sikap Aisyah yang menurutnya aneh.
"Ish!" Aisyah lantas mencubit pinggang Haidar sambil mengerucut. "Enggak asik!"
Haidar semakin tergelak.
####
Hola! Aku kembali 🙈😆
Maaf ya kelamaan 🤭🙏
__ADS_1
Bagi yg suka baca Hot² pop mampir donk ke novel baru aku🙈😅yah!yah!yah!??? plisss....😢
Maacih 😘❤️