
Satu bulan setelah kepulangan Haidar dan Aisyah dari Bali. Keadaan rumah tangga mereka kembali harmonis seperti biasa. Malahan saat ini kedua pasangan tersebut semakin mesra saja.
Nampaknya mereka sudah melupakan kejadian memalukan itu. Dimana Haidar secara tak sengaja meniduri mantan kekasihnya.
Aisyah juga sama sekali tidak pernah menceritakan masalah rumah tangganya kepada siapapun termaksud kedua orang tuanya. Ia berusaha menutupi aib sang suami dari keluarga besarnya. Sebab Aisyah tak mau jika ada orang yang menjelekkan perbuatan tercela suaminya tersebut.
' Aku akan selalu tetap berada di sisimu, walau apapun yang akan terjadi kedepannya,' kata Aisyah sewaktu di pesawat kala itu.
Aisyah sudah memikirkan hal yang akan terjadi kedepannya kelak. Mengingat apa yang sudah dilakukan Haidar, pastinya itu akan berbuntut panjang. Ia sudah siap menerima kenyataan bila suatu saat Tara tiba-tiba datang untuk meminta pertanggungjawaban dari suaminya tersebut. Meski berat ia harus bisa menerima dengan pasrah dan menjalaninya dengan penuh keikhlasan.
Dan pagi ini seperti biasa Aisyah tengah melayani sang suami yang hendak berangkat kerja. Rutinitas yang selalu ia lakukan yaitu menyiapkan sarapan pagi dan membuatkan secangkir kopi hitam kesukaan Haidar.
Keduanya berbincang begitu hangatnya,
" Oh iya Dar. Nanti siang aku ke kantor kamu ya? Boleh nggak?" tanya Aisyah. Tangannya sibuk mengolesi selembar roti dengan selai coklat kesukaan suaminya.
" Boleh dong sayang. Kenapa mesti minta izin sih? Kan kamu itu istriku." jawab Haidar. Ia baru saja menyeruput secangkir kopi buatan sang istri yang menurutnya terenak itu disusul dengan menggigit roti berselai coklat kesukaannya.
" Ya aku harus izin dulu dong. Gimana pun juga aku ini seorang istri. Hukumnya wajib meminta izin pada suami kalau mau pergi keluar. Meski itu ke kantor suaminya sekalipun," jawaban Aisyah barusan membuat senyum Haidar terukir. Istrinya itu sungguh wanita yang sangat taat pada suami. Ada rasa bangga pada diri Haidar karena memiliki istri seperti Aisyah.
Haidar manggut-manggut. " Iya istriku. Kamu itu memang istri ter-the best lah pokoknya. Udah cantik, penurut lagi sama suami," ucap Haidar seraya mengacungkan jempolnya ke arah Aisyah sambil mengedipkan sebelah matanya genit. Sedang Aisyah kini tampak merona mendapat pujian dari sang suami.
" Gombal!" cibir Aisyah. Kepalanya menggeleng seraya mencubit pinggang Haidar.
__ADS_1
" Auw! Sakit Syah," pekik Haidar seraya terus mengelus bekas cubitan Aisyah diperut six-packnya.
" Biarin! Siapa suruh pagi-pagi udah nge-gombal," Aisyah menjulurkan lidah ke arah suaminya yang tengah meringis kesakitan. Seolah sedang meledek Haidar.
Haidar bangkit dari tempat duduknya lalu balas mencubit gemas pipi mulus Aisyah. Membuat sang empunya sampai meringis.
"Auw!" Aisyah mengelus pipinya yang terasa agak panas karena cubitan Haidar. " Kok kamu bales sih Dar...., Nyebelin deh," Bibir Aisyah mengerucut hingga beberapa senti membuat Haidar malah semakin gemas.
Laki-laki itu malah tergelak. " Kasiaaann...., Istriku. Sini-sini Abang obatin," Suami Aisyah itu malah semakin menggodanya. Ia sengaja memajukan bibirnya mendekat ke pipi Aisyah. Namun belum sempat ia mencium pipi mulus itu, Aisyah segera menutup mulut Haidar yang hampir mendarat dipipinya.
" Eeh... eeh..., Kamu mau ngapain?" sungut Aisyah. Sebenarnya ia tau maksud dari suaminya itu. Hanya saja ia masih kesal. Bisa-bisanya Haidar mengambil kesempatan ingin menciumnya.
Haidar menyingkirkan tangan Aisyah yang menutupi mulutnya,
" Manis banget sih...," goda Haidar saat ciuman mereka terlepas. Pipi Aisyah kembali merona.
" Kebiasaan kamu deh. Nyebelin!"
" Siapa suruh pagi-pagi udah godain aku,"
" Kamu nya aja yang mesum!" gerutu Aisyah.
" Mesum-mesum gini tapi kamu suka kan...," ucap Haidar sambil memasang senyum termanisnya.
__ADS_1
Hal itu semakin membuat pipi Aisyah kembali merona dan mengulum senyum. Ia lupa jika kadar kepercayaan diri Haidar itu begitu tinggi.
" Udah sana berangkat. Keburu siang," cicit Aisyah.
" Iya-iya istriku. Aku berangkat dulu ya ..., Kamu nanti ngabarin kalo udah sampek kantor. Biar aku jemput di lobby." Haidar bergegas seraya kembali mengecup pipi dan kening Aisyah.
Aisyah mengangguk. " Siap suamiku," kekeh Aisyah. Sepertinya ia sudah ketularan penyakit anak muda jaman sekarang yaitu bucin. Singkatan dari budak cinta.
Mereka berjalan beriringan menuju pintu. Aisyah menatap suaminya yang sibuk masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesinnya dengan tatapan penuh cinta. Pria yang tadinya berstatus calon adik iparnya sekarang sudah berstatus suaminya. Betul-betul takdir yang tak terduga.
Aisyah melambaikan tangan ketika Haidar sudah mulai melajukan mobil itu menuju keluar rumah yang perlahan menghilang dari pandangannya.
" Hfft...," Menghela nafas panjang lalu kembali masuk kedalam rumah.
Baru saja Aisyah ingin melangkah menaiki anak tangga tiba-tiba bel dirumahnya berbunyi.
Ting tong...
Wanita berhijab itu berbalik," Pagi-pagi begini udah ada tamu. Masa Haidar balik lagi sih," monolognya seraya melangkah menuju pintu.
ceklek~
Tubuhnya seketika membeku, tatapannya pun berubah nyalang. Sosok yang tengah berdiri di hadapannya saat ini sukses membuat lidahnya kelu nyaris tak bisa berucap.
__ADS_1