
Bang Haikal tiba-tiba terjatuh dari kursi tempatnya duduk.
"Abang!" Aku berteriak histeris, untung tanganku masih berada di pundaknya, sehingga tubuh Bang Haikal tidak sampai terbentur lantai. Lantas, dengan hati-hati aku berusaha mengangkat kepalanya ke pangkuanku. "Bang...." Bibir ini tak kuasa menahan isak, melihat kondisi Bang Haikal yang memprihatinkan.
"Haikal..." Abah ikut terduduk di sampingku sambil terus menggenggam erat tangan Bang Haikal. Beliau juga sudah berderai air mata.
"Nak Haikal..." Calon ayah mertuanya pun menyusul duduk di samping kami.
Orang-orang telah mengelilingi kami. Aku melirik sekilas ke arah mereka yang sepertinya turut merasakan kesedihan. Bagaimana tidak? Melihat keadaan Abangku yang seperti ini membuat kami semua berpikiran negatif.
Bang Haikal semakin kepayahan di atas pangkuanku. "Bah, Haikal minta tolong bisa?" ucapnya, yang berusaha membuka mulut untuk berbicara dengan Abah, meski tampak kesulitan.
Aku menatap Abah yang mengangguk lemah, sambil mengusap lelehan air mata yang tak berhenti mengalir. "Bisa, Nak. Kamu mau minta tolong apa?"
"To--tolong panggil Ummi sama Aisyah," pinta Bang Haikal, ucapannya mulai tersendat-sendat.
"Iya-iya, Abah akan panggil ummi kamu sama Aisyah kemari." Abah berdiri, dan aku menatap punggungnya yang semakin menjauh. Beliau hendak menuju kamar atas, yakni kamar Bang Haikal.
Acara ijab qobul memang dilaksanakan di rumah kami. Dan, sesuai tradisi di keluarga kami, calon pengantin harus dipisah terlebih dahulu sebelum sah menjadi suami istri.
Kak Aisyah, Ummi, dan calon Ibu mertua Bang Haikal menunggu di kamar atas, sampai ijab qobul selesai.
Lalu, setelah beberapa saat kemudian mereka pun akhirnya tiba menghampiri kami. Tatapanku langsung tertuju pada Ummi. Beliau sudah bercucuran air mata, begitu pun Kak Aisyah dan Ummi-nya yang berada di belakang punggung Abah.
"Haikal... Nak...." Ummi langsung terduduk di lantai, meraih tangan Bang Haikal. Tangisannya terdengar memilukan, aku pun sampai ikut menangis lagi. Ummi menatap lekat wajah putranya, yang sedang meringis kesakitan dengan derai air mata yang tak kunjung surut.
"U-ummi...." lirih Bang Haikal, suaranya mulai terdengar semakin lemah. Kedua kelopak matanya terlihat sayu, seakan-akan ingin cepat-cepat terpejam.
"Iya, Nak...." Ummi menggenggam tangan putera sulungnya, lalu mengecupnya berulang-ulang.
Ummi memang sangat menyayangi Bang Haikal, kami berdua adalah anak kebanggaannya.
"Ma-a-fin Ha-i-kal, ka-lo se-la-ma ini Haikal belum bisa berbakti sama Ummi juga Abah," ucap Bang Haikal, yang semakin kepayahan dan kesulitan berbicara. Bibirnya membiru, tangannya pun semakin dingin.
__ADS_1
Aku pun berinisiatif menggosok tangannya yang sedari tadi ada di genggamanku. Berupaya mengurangi rasa dingin di sana. Lelehan demi lelehan terus jatuh dari manikku yang memanas.
Pandanganku mengabur, menatap Bang Haikal, lalu berucap, "Bang... Istighfar, Bang...."
"Iya, Nak. Ummi sama Abah selalu maafin kamu, Sayang," ucap Ummi. "Kita ke rumah sakit, ya, Nak, ya? Ummi mohon...." bujuk Ummi, agar Bang Haikal mau dibawa ke rumah sakit.
Bang Haikal menggeleng. "Ngga perlu, Mi. Haikal mau di sini aja," tolaknya, berusaha mengatur napas yang nampaknya perlahan menipis. "Haikal ada permintaan, Mi."
"Permintaan apa, Nak?" Ummi mengusap puncak kepala Bang Haikal, isakannya membuatku tak kuasa menahan diri untuk tidak ikut menangis.
"Haikal mau, ka-lau Haidar yang gantiin aku bu-at nikahin Aisyah."
Ucapan Bang Haikal barusan membuat manikku membulat sempurna. Lalu, aku menatap satu persatu semua orang yang berada di sana. Mereka pun sama halnya sepertiku. Terkejut dan ternganga. Sudut mataku melirik Kak Aisyah yang berada di balik punggung Ummi-nya sekilas. Tatapannya nyalang menatap Bang Haikal.
Kemudian, telingaku tak sengaja mendengar isakannya. Aku faham dan sangat mengerti, perasaan perempuan itu saat ini. Kak Aisyah pasti sedih saat mendengar penuturan calon suaminya. Sakit dan terluka.
Bagaimana pun, dia sangat mencintai Bang Haikal. Mereka berdua sudah merajut mimpi bersama, menjalani hidup sebagai sepasang suami istri. Menua bersama sampai menuju Jannah-Nya.
Lantas, kini mimpi itu tinggal asa yang tak akan pernah terwujud. Bahkan sebelum mereka memulainya.
Bang Haikal terus saja berbicara hal yang menurutku konyol..Mana mungkin aku menikahi calon Kakak iparku sendiri? Sekali pun itu cuma dalam mimpi.
Aku melarikan pandanganku ke arah Kak Aisyah yang terduduk di samping ummi-nya. Wanita berhijab itu terlihat hancur dan nampak terluka. Wajahnya yang cantik sudah berubah menjadi wajah sembab dipenuhi air mata.
"A-aku maafin kamu, Mas, dan a-aku—" Kak Aisyah semakin terisak di pelukan Ummi-nya. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Permintaan Bang Haikal pasti membuatnya serba salah.
"Ka-kamu setuju 'kan, Dar? Menikah sama Aisyah?" Pertanyaan Bang Haikal membuatku kembali menatapnya. "Cuma kamu yang abang percaya buat jagain Aisyah. Kamu pasti bisa menjadi sosok imam dan suami untuknya. Waktu abang udah nggak lama lagi, Dar. Aaarrgghhh...." Bang Haikal semakin memekik kesakitan.
Sungguh, aku tidak tega melihatnya seperti ini. Menahan rasa sakit sambil memohon padaku untuk menggantikan posisinya. Aku dilema benar-benar tidak bisa berpikir lagi.
"Nak... abah mohon, kamu kabulkan keinginan abangmu yang terakhir ini." Abah tiba-tiba saja angkat bicara. Manik tuanya seakan menyorot penuh harap padaku.
Astaghfirullah... Aku harus apa? Detik ini, ada dua laki-laki yang selalu menjadi panutanku sedang memohon padaku.
__ADS_1
"Iya, Nak Haidar, kalo itu memang keinginan Nak Haikal saya setuju. Menikahkan kamu dan putri saya Aisyah." Giliran Abah-nya Aisyah ikut menimpali ucapan Abah.
Aku pun semakin merasa bimbang dan bingung. Haruskah aku menolak keinginan terakhir Abangku?
Seumur hidup aku pasti akan merasa bersalah dan berdosa pada Bang Haikal jika aku tidak menuruti keinginannya yang terakhir.
Lantas, dengan mengucap Bismillah dalam hati, aku pun mengangguk yakin. "Baiklah Bang, jika itu keinginanmu. Aku akan mengabulkannya." Lelehan air mata tak dapat kubendung lagi.
"Alhamdulillah...." Bang Haikal nampak bahagia mendengar jawabanku. Bibir pucatnya menyematkan senyum, seraya menjulurkan tangan mengusap kepalaku.
"... Terimakasih Haidar, semoga kamu bisa amanah, dan menjaga Aisyah dengan sebaik-baiknya, sebagaimana janjimu sama abang," kata Bang Haikal lagi dengan penuh harap padaku.
"In Sya Allah, Bang." Aku mengelus kepala Bang Haikal dengan senyum tipis. Kemudian melirik sekilas wajah Kak Aisyah yang masih tersedu-sedu di pelukan ummi-nya.
Calon Kakak iparku sebentar lagi akan menjadi calon istriku. Kenapa takdir Allah tidak bisa ditebak seperti ini. Kemarin aku memanggilnya dengan sebutan Kakak Ipar, mulai besok aku akan memanggilnya Istri.
Sungguh takdir yang tak terduga bagiku....
Tak berselang lama aku pun melangsungkan ijab qobul yang sempat tertunda beberapa saat. Disaksikan oleh Bang Haikal yang sudah berpindah ke pangkuan Ummi.
Lalu setelah selesai mengucap kalimat terakhir, tiba-tiba aku dikejutkan dengan teriakan Ummi, yang memanggil-manggil nama Bang Haikal. Aku pun segera bangkit, dan mendekati Ummi yang sesenggukan.
"Innalilahi wa Inna ilaihi roji'un," ucap Pak Penghulu yang baru saja mengesahkan pernikahanku dengan Kak Aisyah. Beliau menempelkan kedua jari ke leher Bang Haikal, yang kemungkinan sudah tak berdenyut lagi.
Kami semua merasa sangat hancur, melihat orang yang paling kami sayangi harus pergi di saat hari bahagianya. Isakan semua orang mengiringi kepergian Bang Haikal untuk selamanya,
Tak pernah kusangka jika pernikahannya, justru menjadi pernikahanku sendiri.
Selamat jalan Bang Haikal...
Semoga amal ibadahmu diterima dan diberikan tempat terbaik disisi-Nya.
Kami semua akan selalu mengingat dan mendoakanmu...
__ADS_1
Flashback off....