
Di kantor Haidar terlihat sangat gelisah. Berulang kali ia menatap angka pada arloji yang bertengger dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul tiga sore, namun Aisyah tak kunjung tiba di kantor suaminya tersebut. Ponsel Aisyah juga tidak aktif, hingga membuat kecemasan Haidar bertambah menjadi dua kali lipat.
" Kamu dimana Syah. Kenapa ponsel kamu tidak aktif. Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu," Haidar terus saja mencoba melakukan panggilan telfon. Namun ponsel Aisyah tak kunjung aktif.
Haidar mondar-mandir layaknya setrikaan. Ponselnya juga terus menempel ditelinga pria berkulit putih itu. Tak lupa ia juga menghubungi orang tua dan mertuanya. Berharap mereka tau keberadaan Aisyah saat ini.
" Iya Umi, baik. Nanti kalo Aisyah main kesitu tolong langsung hubungin Haidar ya. Makasih Umi. Assalamualaikum." ucapnya pada sang ibu mertua. Tubuhnya kembali lemas saat mengetahui jika Aisyah tidak berada di rumah orang tuanya.
Haidar pun tak kehabisan akal. Ia mencoba menghubungi orang rumah yaitu security yang bertugas menjaga keamanan rumahnya.
" Iya. Wa'alaikumsalam Pak," security tersebut mengucap salam terlebih dulu dari seberang sana. Lalu Haidar membalas salam tersebut.
Tanpa basa-basi lagi Haidar langsung bertanya tentang keberadaan Aisyah. Jawaban yang ia dengar dari mulut security itu membuatnya termangu sejenak. Yang mengatakan jika Aisyah tadi pergi dari rumah tak berselang lama setelah dirinya berangkat ke kantor.
" Seorang perempuan? Siapa ya ... Tapi, ciri-cirinya seperti ...?" Haidar mencoba mengingat ciri-ciri wanita yang disebutkan oleh security di rumahnya. Seorang wanita yang sempat bertamu kemudian meninggalkan rumah dan pergi bersama Aisyah.
" Apa itu temennya Aisyah ya. Tapi kok Aisyah nggak minta izin dulu ya sama aku. Biasanya kan, dia selalu minta izin." Haidar terlihat masih berpikir keras tentang siapa perempuan yang bertamu ke rumahnya lalu pergi bersama Aisyah. Ia juga heran, karena Aisyah tak ada menghubungi dirinya untuk meminta izin. Biasanya Aisyah tak pernah absen untuk memberi kabar.
Berusaha tetap tenang meski hatinya merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Baru kali ini Aisyah pergi tanpa pamit, mengingat pagi tadi istrinya itu meminta izin untuk pergi ke kantornya. Namun, sampai sekarang tak kunjung datang dan malah tak ada kabar.
Haidar hanya bisa berdoa semoga Aisyah tetap dalam lindungan Allah dimana pun ia berada saat ini. " Semoga kamu baik-baik aja ya Syah. Dimana pun kamu saat ini, semoga selalu dalam lindungan Allah." ucap Haidar lalu mengamini doanya sendiri didalam hati.
***
Cafe X
__ADS_1
Sementara itu di sebuah Cafe Aisyah sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Tatapan matanya seakan kosong dengan pikiran yang carut marut. Di hadapannya kini ada seorang wanita yang mengaku tengah mengandung anak dari suaminya, yaitu Haidar.
Wanita yang sebulan lalu sudah menjebak suaminya bahkan secara tak sengaja menidurinya. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Tara. Mantan kekasih Haidar yang kembali terobsesi ingin memiliki Haidar kembali.
Ya. Pagi tadi selepas keberangkatan Haidar ke kantor. Tara mendatangi rumah Haidar dan mengajak Aisyah keluar sebentar karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan pada wanita berhijab itu.
Dan disinilah mereka saat ini. Tengah berbincang di sebuah Cafe terdekat. Hampir setengah hari Aisyah dan Tara berada di Cafe tersebut. Mereka membicarakan sesuatu hal yang sepertinya sangat penting dan serius. Hingga membuat Aisyah lupa untuk mengabari Haidar dan juga ternyata baterai ponselnya habis. Jadi ia belum sempat memberi kabar kepada suaminya itu yang saat ini tengah mencemaskan keadaannya.
" Jadi bagaimana. Apa kamu mengizinkan Haidar untuk bertanggung jawab dan menikahi ku?" suara dari Tara membuat Aisyah terkesiap dari lamunannya.
Ketegangan yang dirasakan Aisyah begitu kentara saat mulutnya menjawab pertanyaan Tara dengan gugup.
" Untuk saat ini ak-aku belum bisa memutuskan hal itu. Tapi kamu jangan khawatir. Secepatnya aku akan bicara dengan keluarga besar kami dan memberi tahu keadaanmu pada Haidar," Aisyah berusaha mati-matian untuk tidak menangis saat mengucapkan hal itu. Meski pandangannya saat ini sudah mengabur akibat air mata yang siap meluncur detik itu juga.
Contohnya saat ini. Aisyah lagi-lagi dihadapkan oleh situasi sulit. Dimana ia harus merelakan Haidar untuk menikahi Tara yang kini tengah mengandung benih dari suaminya itu.
Tara terus menatapnya dengan tatapan sinis. " Kenapa nggak sekarang aja kamu memberi tahu keluargamu dan juga Haidar." ucapnya ketus.
Tara memang sengaja memberi tau Aisyah terlebih dulu. Supaya Tara bisa membalas rasa sakit hati yang dirasakan sebulan yang lalu saat Haidar memilih pergi meninggalkannya dalam keadaan kacau.
Karena hampir sebulan itu Tara seperti orang yang hampir gila. Menangisi Haidar setiap waktu dan berharap lelaki itu mau menghubunginya. Hingga keputusan untuk mengakhiri hidup pun terbesit dalam pikirannya saat itu. Sampai pada akhirnya Tara mengetahui jika dirinya tengah mengandung benih dari lelaki yang sangat ia cintai. Dan disinilah Tara berada saat ini. Membawa bukti berupa alat tes kehamilan dan surat dari rumah sakit yang menyatakan bahwa dirinya memang tengah hamil.
Aisyah menggeleng cepat. " Jangan sekarang. Pelan-pelan aku akan memberi tau mereka. Soal Haidar. Pasti aku akan langsung memberi taunya. Kamu tidak perlu khawatir. Haidar pasti mau bertanggung jawab." ucap Aisyah meyakinkan Tara.
Tara mengangguk, " Ok. Kalo emang itu mau kamu. Aku kasih waktu satu minggu supaya kamu bisa segera menyelesaikan masalah ini. Kalau tidak ...," Tara menggantung kalimatnya.
__ADS_1
" Kalau tidak apa?" sela Aisyah.
Tara mengusap perutnya lalu kembali berucap. " Kalau tidak aku akan menggugurkan bayi ini." tegas Tara dengan seringai licik dibibirnya.
" Jangan! Aku mohon ....," Aisyah memohon dengan sangat supaya Tara mengurungkan niat untuk menggugurkan kandungannya. Tangannya meraih tangan kiri Tara yang menjulur ke meja. " Aku janji. Aku pasti akan meyakinkan Haidar supaya mau menikah dengan mu. Kamu bisa pegang kata-kata ku." ucapnya lagi dengan penuh keyakinan.
" Baiklah. Aku akan pegang kata-katamu." Akhirnya Tara mau menunggu dan memberikan waktu untuk Aisyah.
" Syukurlah. Terimakasih karena kamu mau memberi ku waktu. Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Karena hari sudah semakin sore." Aisyah beranjak lalu membereskan dan memasukkan surat bukti kehamilan Tara ke dalam tas miliknya.
" Ok." Tara hanya menjawabnya singkat dan kembali bersikap acuh.
Akhirnya Aisyah pun pamit undur diri, " Assalamualaikum." ucap Aisyah seraya berlalu dari hadapan Tara.
" Wa'alaikumsalam. " sahut Tara dengan nada sedikit ketus. Matanya tak berhenti memandangi punggung Aisyah yang perlahan menghilang dari pandangannya lalu keluar dari Cafe tersebut. Tara nampak menarik sudut bibirnya. Entah apa yang ada pikiran wanita berambut cokelat itu.
_
_
_
*Selesai membaca jangan lupa tekan like ya... Lebih bagus lagi klo sekalian ngasih komen atau Vote đź¤
Terimakasih buat kalian yang sudah mampir dan memberi dukungan nya 🙏🤗*
__ADS_1