
Haidar mencengkram erat pergelangan tangan Tara dengan kemarahan yang tak dapat ia bendung lagi. Perbuatan Tara benar-benar sudah melewati batas. Bisa-bisanya dia mengambil gambar yang tak senonoh seperti itu lalu menunjukkannya pada Aisyah. Sepertinya wanita itu sudah tak lagi memiliki urat malu. ck.
"Apa kamu tidak punya rasa malu sedikitpun Ra? Sebagai sesama wanita kamu seharusnya tidak melakukan hal ini. Aisyah itu istriku, dan kamu cuma masa laluku. Jadi jangan harap kamu bisa mempengaruhi Aisyah untuk meninggalkanku, karena semua yang kamu lakukan itu hanya sia-sia saja. Kami tidak akan berpisah apapun yang terjadi. Meskipun kamu menggunakan ribuan cara licik untuk mendapatkanku lagi," Haidar meluapkan kekesalan yang sedari tadi ia tahan. Memperingatkan Tara supaya gadis itu tak lagi mengejarnya.
Aisyah hanya terdiam, ia hanya menyimak dan mendengar semua pertikaian antara sepasang mantan kekasih itu. Ia cukup bijak, karena memberikan Haidar waktu untuk menyelesaikan masalahnya dengan Tara.
Gadis berhijab itu sudah tau semua ini pasti akan terjadi, saat pertemuan pertamanya dengan Tara di pantai beberapa hari yang lalu.
Dan semalam, rupanya Aisyah tau kalau Tara menemui Haidar. Ia juga tau kalau Tara yang memaksa suaminya untuk mengantarnya ke penginapan gadis itu. Semula Aisyah pikir Haidar akan meminta izin darinya untuk mengantar gadis itu. Tapi ternyata Haidar tak melakukan hal itu. Suaminya nekat pergi tanpa pamit ataupun izin darinya.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menunggu Haidar kembali ke resort tempat mereka menginap. Namun, sampai waktu pagi tiba tak ada tanda-tanda suaminya itu kembali. Ia lalu mendapat pesan dari nomer tak dikenal, yang mengatakan jika ia harus datang kesebuah alamat yang dikirimkan oleh sang pemilik nomer tersebut.
Aisyah cemas juga resah, sebab Haidar tak kunjung menjawab panggilan telfon darinya. Ponsel suaminya itu tidak aktif sejak semalam, lantas dengan keyakinan penuh ia mendatangi alamat tersebut. Yang ternyata adalah alamat dari apartemen milik Tara.
Ketika sampai di tempat itu, pintu Apartemen dalam keadaan tidak terkunci. Firasat Aisyah mengatakan jika semua ini sudah direncanakan oleh Tara dengan rapi. Sengaja tidak mengakses pintu supaya ia bisa begitu saja masuk dan melihat semuanya. Aisyah bukan gadis bodoh yang akan percaya begitu saja dengan apa yang baru saja ia lihat. Meski baru mengenal Haidar, ia juga sudah tau sifat Haidar seperti apa. Tidak mungkin suaminya itu akan melakukan hal yang dilarang oleh agama dan Tuhannya. Meski itu mantan kekasihnya dan sekalipun ia masih sangat mencintai gadis itu.
__ADS_1
Bahkan ia yang istri sahnya saja baru disentuhnya semalam, padahal mereka sudah sah menjadi mahram dan sudah halal. Sebagai pria normal Haidar cukup tau batasan dan ia juga di didik oleh kedua orang tuanya dengan sangat baik. Hal yang semacam itu ia sangatlah menghindari, karena ia tahu betapa dosanya orang-orang yang berzina. Jadi ia membentengi diri dengan iman dan ilmu agama yang baik supaya ia bisa menahan dirinya dari perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah.
Sebagai seorang istri hatinya cukup sakit saat melihat suaminya tengah dalam keadaan yang benar-benar sangat intim dengan mantan kekasihnya. Namun, Aisyah mencoba meyakinkan dirinya sekali lagi untuk tidak terjebak dalam semua rencana Tara. Sekali ia merasa marah dan cemburu, maka disaat itulah Tara merasa dirinya menang. Karena sudah membuat hubungannya dengan Haidar merenggang. Cukup ia menekan rasa cemburunya didalam hati dan amarah untuk nanti. Pada saat situasi yang sudah memungkinkan.
'Apa Haidar terluka? Kenapa tangannya diperban?' Netra Aisyah membulat saat melihat tangan kanan suaminya dibalut dengan perban. Kecemasan kembali menghampiri, sebenarnya apa yang terjadi semalam. Apa yang dilakukan oleh suaminya itu dengan Tara sampai tangannya terluka seperti itu.
Haidar kembali berteriak dan itu sukses membuat Aisyah kembali terkejut. Ia kembali melihat kemarahan sang suami kepada Tara.
"Tara! Ingat ini baik-baik, aku sudah tidak memiliki rasa apapun terhadapmu. Aku sudah menikah dan hanya Aisyah istriku. Jangan pernah bertindak gila lagi seperti ini! Dan jangan ulangi tingkah konyolmu itu! Faham!" ancam Haidar dengan tegas dan penuh penekanan. Wajahnya yang putih sampai memerah akibat amarah yang meledak.
Tara hanya bungkam dengan tatapan mata penuh kebencian. Ia benci pada Aisyah karena sudah merebut cinta Haidar darinya. Tentu saja ia tidak akan mundur begitu saja. Ia sudah terlanjur memberikan apa yang sudah ia jaga selama ini kepada Haidar semalam. Meski Haidar melakukannya tanpa kesadaran penuh. Tapi ia seperti masih bisa merasakan kalau Haidar masih mencintainya. Sentuhan dan perlakuan Haidar semalam padanya begitu hangat. Haidar juga sempat meracau, andai saja ia tidak pergi mungkin saat ini mereka sudah menikah dan hidup bahagia. Sungguh perkataan Haidar semalam sudah membuat Tara merasa bersalah kepada lelaki itu. Haidar dulu begitu mencintainya. Namun cinta itu sudah tidak lagi untuknya melainkan untuk wanita lain.
"Kenapa diam? Apa kamu sedang merencanakan sesuatu yang lebih licik lagi? hah!" bentakan Haidar membuat Aisyah terpaksa turun tangan. Haidar sudah diluar kendali, kemarahannya sudah melebihi batas. Jangan sampai Haidar melukai Tara yang nantinya akan berujung penyesalan.
"Haidar cukup! Istighfar lah Haidar.... Kamu sudah dikuasai oleh amarah. Lebih baik jika kamu lepaskan cengkraman tanganmu. Tara pasti merasa kesakitan," Aisyah menyentuh bahu Haidar lembut, melirik sekilas ke arah Tara yang nampak meringis kesakitan. Lengannya memerah dan agak lebam, sebab Haidar begitu erat mencengkramnya.
__ADS_1
Suaminya itu hanya tertawa sarkas lalu berkata pada Tara, "Kamu lihat! Aisyah begitu menghawatirkan wanita licik sepertimu, yang jelas-jelas sudah berbuat curang demi merebut suaminya. Apa kamu tidak merasa malu, hah!" Melepas lalu menghempas lengan Tara kasar, Haidar berbalik dan meraih telapak tangan Aisyah yang berada dipundaknya untuk ia genggam. Tersenyum sekilas dengan tatapan mata yang menghangat. Sangat kontras dengan tatapannya saat menatap Tara yang begitu terlihat dingin.
Tara semakin panas dibuatnya, berulang kali ia mendengkus. Tatapan matanya tak lepas dari kedua insan yang berada dihadapannya itu. Betul-betul sangat memuakkan baginya. Rasa nyeri yang ia rasakan tak sebanding dengan rasa sakit dihatinya. Saat ia harus melihat tatapan yang dulu diberikan hanya untuknya kini diberikan kepada wanita lain.
"Lebih baik kita pergi dari sini secepatnya, aku tidak ingin kamu melihat kegilaan wanita ini lagi," melirik sekilas ke arah Tara dengan tatapan sinis, Haidar lantas membawa Aisyah pergi dari kamar panas itu. Berada lama-lama disana bisa-bisa membuat dirinya menjadi gila.
"Haidar tunggu! Kamu tidak bisa pergi begitu saja, kamu harus bertanggung jawab atas semua ini. Haidar! Haidar!" Tara berusaha mencegah kepergian Haidar, namun lelaki itu tak menggubrisnya sama sekali. Ia tetap melenggang dari tempat itu sambil menggenggam erat tangan Aisyah.
Ketika punggung Haidar sudah menghilang dari balik pintu, seketika Tara menjerit-jerit seperti orang yang tidak waras.
"Aaarrgghhh...!!! Kamu tidak bisa pergi begitu saja Haidar tidak bisa! Kamu hanya milikku, dan selamanya akan menjadi milikku!" Tara berteriak histeris dan melempar barang-barang yang ada disekitarnya dengan brutal. Gadis itu nampak kacau dan tak terkendali.
Obsesinya untuk kembali memiliki Haidar telah benar-benar merubahnya menjadi wanita egois. Ia tidak peduli dengan status yang telah disandang oleh mantan kekasihnya itu. Ia harus bisa menjadikan Haidar suaminya, bila perlu ia akan menyingkirkan semua yang akan menjadi penghalang baginya. Termaksud Aisyah sekalipun.
_
__ADS_1
_
_