
Haidar POV.
" Ini apa Dar?" tanya Aisyah padaku seraya membuka amplop yang berisikan tiket ke Bali dan paket bulan madu.
Aku hanya mampu menelan ludah ku, mau jawab apa coba.
ck!
Ummi bener-bener udah ngerjain aku.
Setelah menyelesaikan makan siangku yang sangat nikmat itu, aku berinisiatif untuk memberitahu Aisyah tentang rencana Ummi. Yang sudah menyuruh kami berdua untuk berbulan madu dan memberi nya seorang cucu.
Nampak Aisyah termangu menatap itu, sepintas aku lihat wajahnya bersemu. Ada semburat bahagia diwajah cantiknya.
" Ini...tiket bulan madu ke Bali ya?" Aisyah ragu-ragu kembali bertanya padaku. Nada suaranya pun terdengar sangat antusias.
" Yap!!" jawabku singkat seraya mengangguk.
Wajah Aisyah bertambah bersemu merah. Apa mungkin ia marah, dan berpikiran yang tidak-tidak tentang aku.
" Kamu jangan salah faham dulu sama aku. Itu semua Ummi yang kasih, bukan keinginan aku." Aku buru-buru memberikan penjelasan padanya sebelum ia berteriak memakiku.
Seketika raut wajahnya berubah dengan alis terangkat sebelah.
" Kok Ummi? Aku pikir ini rencana kamu?" selorohnya sambil menatap ku dengan tatapan horor.
Apalagi ini ya Allah...
Dahiku mengernyit heran, kenapa Aisyah sepertinya kecewa. Kalau sebenarnya itu tiket bulan madu dari Ummi dan bukan dariku.
Seketika wajah Aisyah berubah murung. Ia mendesah berat dan menaruh tiket tersebut diatas meja, raut mukanya masam dengan tangan bersedekap didada.
Aku jadi dibuat bingung sama sikapnya ini. Kenapa dia tiba-tiba jadi marah, apa salahnya coba?
" Kamu marah?" tanyaku padanya yang masih memasang muka masam.
" Menurut kamu?" jawabnya ketus dan datar.
Alisku menaut mendengar jawaban nya yang tidak seperti biasanya.
Lantas aku mendekati Aisyah, duduk disampingnya. " Ceritanya kamu lagi ngambek nih?" Aku berusaha menggodanya. Berharap bisa meluluhkan kemarahan nya.
Tapi ngomong-ngomong kalo Aisyah lagi ngambek gini, ngegemesin banget.
Jadinya aku pengen nyium gitu...
Aisyah mendesah berat lalu berbalik badan menghadap ku. " Kamu emang nggak peka ya Dar, aku kesel!" Aku pikir Aisyah luluh, ternyata dia malah semakin ngambek.
Aku bener-bener udah dibikin pusing.
Tinggal bilang apa susahnya sih, cewek tuh emang ribet!
Makhluk yang paling nggak bisa ditebak. Maunya menang sendiri, hadeh.
" La emang aku kenapa Syah? Aku ngelakuin salah apa?" Aku bertanya pada Aisyah dengan nada selembut mungkin.
Aisyah nampak menarik nafas sebelum menyahut.
__ADS_1
" Masa iya sih Dar, soal ginian harus Ummi yang duluan bertindak. Emang kamu nggak malu apa?" Aku masih belum mengerti sepenuhnya maksud ucapan Aisyah.
" Yang jelas dong Syah ngomongnya, biar aku faham." Pungkas ku seraya menyentuh tangan Aisyah.
Gadis itu terlonjak kaget, sebab aku menyentuh tangan nya tiba-tiba.
Biarin aja dia tambah kesel, abisnya ngegemesin gitu.
" Aku pikir rencana bulan madu itu emang rencana kamu, tapi ternyata rencana Ummi." Aisyah menunduk setelah mengatakan masalah yang sebenarnya padaku. Dia mungkin merasa malu sudah mengatakan hal yang sebenarnya.
Spontan bibirku terlipat menahan tawa. Ooh..jadi ini alasannya dia marah dan ngambek. Kirain.
Eh tapi tunggu, berarti Aisyah ngga marah dong soal rencana bulan madu ini. Buktinya tadi dia ngomong gitu keaku.
Waahhh...
" Ehm! Jadi kamu marah soal itu? Aku pikir apa." Aisyah mengangguk samar dengan kepala masih menunduk.
Sudut bibir ku tertarik, melihat sikapnya yang malu-malu seperti ini membuat ku semakin gemas.
Pengen ngelahap nya disini juga. boleh nggak Thor?
Author: " Karepmu Dar!!"
" Jadi kamu setuju sama rencana Ummi? Kamu nggak marah? Kan kita masih sama-sama belum siap Syah?" Aku bertanya pada Aisyah yang masih setia menunduk didepan ku.
Gadis itu mendongak menatap ku, aku bisa melihat dengan jelas manik matanya yang hitam pekat itu. Sangat indah dan benar-benar cantik.
Jantung ku kembali berdegup kencang, darahku mulai berdesir kembali.
Ah, kebiasaan nih!!
Emang dasar murahan. anuku ini! ops.
" Emang sampai kapan kita harus nunggu siap Dar? Aku nggak mau ngecewain Ummi dan Abi kita. Mungkin, ini jalan yang udah ditentukan oleh Allah buat kita. Langkah selanjutnya untuk menuju keluarga yang berkah dan diridhoi Allah. Insya Allah aku siap Dar, jika memang ini semua udah takdir nya." Aisyah begitu tenang menjelaskan nya padaku. Ia tak nampak sedikit pun terbebani dengan semua ini.
Gadis cantik ini selalu bisa membuat hatiku hangat dengan setiap pemikirannya yang selalu positif thinking.
" Aku pikir kamu akan marah dan salah faham sama aku, tapi ternyata malah sebaliknya." Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku.
Menatap wajah cantik itu, yang selalu terlihat damai.
Aisyah mengulas senyum tipis dibibir mungilnya. " Ya nggak dong, masa aku marah sih? Aku malah marah soalnya ini semua bukan rencana kamu, tapi malah rencananya Ummi." Ucapan Aisyah membuat ku semakin terkejut.
Apa memang dia sangat menginginkan bulan madu dengan ku.
Apa itu arti nya dia sudah mengukir namaku dihatinya.
Semoga saja itu benar adanya, ya Allah.
Aku mencubit lembut hidung mancung miliknya. " Waah...ada yang udah nggak sabar bulan madu nih?" celetuk ku asal.
Pipi Aisyah bersemu merah, " Apaan sih Dar!? Kamu kebiasaan deh, suka banget godain aku." Aisyah mencubit perut ku dan spontan aku memekik kesakitan.
" Auw!! Sakit Syah! Ampun!!" Aku berusaha menghindar dari cubitannya. Namun Aisyah masih saja mencubit perut ku.
" Biarin! abisnya kamu ngeselin!!" Aisyah terus saja mencubit perut ku dengan gemasnya.
__ADS_1
Bibirnya yang mungil tergelak mentertawaiku yang meringis kesakitan akibat ulah nya.
" Stop Syah! Stop! Kalo nggak mau stop, aku cium nih!?" Aku mencoba mengancamnya supaya dia mau berhenti mencubiti perutku.
" Coba aja! nggak takut tuh!?" Aku pikir dia akan takut tapi nyatanya malah nantangin.
Waah... Haidar kok ditantang.
Jangan salahin aku ya, kalo aku nyium terus kamu keenakan. eh.
Aisyah tidak mau berhenti dan malah semakin tergelak seraya mencubiti perutku terus menerus.
Aku menangkis tangannya lalu tanpa menunggu lama aku mencium bibirnya.
Awalnya Aisyah terkejut dan berusaha melepaskan ciuman ku. Tangan ku yang kiri tak begitu saja diam, aku menekan tengkuknya supaya ia tidak bisa lepas dari ciumanku.
Aku memagut bibirnya yang benar-benar terasa sangat manis. Mencecapnya dan menghisapnya lembut. Diluar dugaan, Aisyah ternyata membalas pagutanku. Memang aku sengaja memancing nya supaya membalas ciuman ku. Yah meskipun masih sangat kaku, tapi menurut ku ini benar-benar manis. sangat manis.
Hampir sepuluh menit kami larut dalam ciuman pertama kami. Ciuman yang awalnya biasa kini semakin panas dan menuntut. Saling memagut dan menghisap lembut, membuat darahku seketika mendidih. Jiwa kelakianku meronta-ronta dibawah sana.
Segera aku menyadarkan diri, sebelum aku lepas kendali dan menelanjangi Aisyah diruangan ini. Nafas kami terengah dan tersengal, berusaha meraup pasokan oksigen yang hampir menipis. Akibat ciuman panas kami barusan. Kening kami saling bersentuhan, hidung kami pun sangat dekat.
Nafas Aisyah menyentuh wajah ku dengan hangatnya. Aku mengikis jarak sedikit dan menatap lekat wajah yang sudah bersemu kemerahan itu.
" Maaf." Ucapku seraya mengusap bibirnya yang basah dengan ibu jariku lalu berpindah mengusap pipinya lembut.
Aisyah menggeleng " It's ok, ngga masalah. Kan kita udah sah? Nggak dosa juga, iyakan?" sahut Aisyah dengan entengnya. Aku kira dia akan memakiku.
Senyum ku melebar mendengar ucapan nya.
Ini ciuman termanis yang pernah aku rasakan, tentunya dengan pasangan yang sudah halal.
Berbeda dengan ciuman ku dengan mantan kekasih ku yang dulu. Rasanya tak semanis ini.
.
.
.
๐บ๐บ๐บ
*Apapun yang kita lakukan jika dengan pasangan yang sudah halal bagi kita, semuanya akan terasa lebih indah dan manis.
Perlakuan pasanganmu dengan sebaik-baiknya. Sesungguhnya itu sebagian dari ladang pahala untuk suami dan istri.
Maka Allah akan senantiasa memberikan keberkahan dalam rumah tangga kalian*.
****
Terimakasih buat yang sudah mampir dan memberi dukungan ๐๐
Jangan lupa tinggalin jejak ya...
Like dan komen cerita ku ini.
Salam sayang dari akyuu ๐๐
__ADS_1