
" Tolong elu periksa nih cewek!" Haidar memerintahkan dokter obgyn yang merupakan sahabatnya itu untuk segera memeriksa Tara.
Ya. Beberapa saat yang lalu Haidar telah sampai di rumah sakit. Dirinya dan Tara masuk ke ruangan dokter terlebih dulu karena memang Haidar sudah menelfon nya beberapa jam sebelum menuju ke rumah sakit.
Dan disinilah mereka berada sekarang, di ruangan khusus untuk memeriksakan kandungan.
Namun dokter yang bernama Rena itu nampak terheran dengan situasi sekarang ini. Lantaran ia tau bila istri Haidar berhijab dan selalu memakai pakaian tertutup. Sedang wanita yang dibawa Haidar saat ini sangatlah berbeda, pakaiannya terbuka dan minim dengan rambut dicat.
" Dia ... siapanya elu, Dar? Jangan bilang dia selingkuhannya elu," tanya dokter Rena dengan nada sedikit tak suka.
Haidar tertawa sarkas, " Enak aja lu bilang! Bukan! Nih cewek mantan gue, Ren. Masa elu lupa sih?" Rena langsung melongo tak percaya.
" Ini ... si Tara? Mantan lu jaman kuliah dulu?" Rena menelisik Tara dari ujung rambut sampai ujung kaki. " Gila! Gua nggak nyangka bisa ketemu lagi sama elu, Ra." ujarnya heboh. Tara hanya merotasikan bola matanya dengan malas. Ia cukup mengenal Rena dulu sewaktu masih kuliah, mereka memang satu fakultas namun dengan jurusan yang berbeda.
" Eh, tapi bukannya elu di L.E kan ya? Kenapa tiba-tiba balik ke Indonesia? Apa elu nggak tau kalo si Haidar udah nikah?" Rena rupanya masih saja kepo dengan kehidupan Tara. Haidar sampai geleng-geleng kepala melihat sahabatnya tersebut yang ternyata masih belum berubah.
Rena juga sedikit banyak tau mengenai hubungan Haidar dan Tara. Ia juga tau kalau dulu Tara mencampakkan Haidar hanya demi mengejar karir. Namun, Rena merasa bersyukur saat Haidar menikah dengan wanita baik-baik dan solehah seperti Aisyah. Walaupun ada sedikit kekurangan dalam diri Aisyah.
Belum sempat Tara menjawab, tiba-tiba Aisyah masuk ke ruangan tersebut.
" Assalamualaikum ....," ucap Aisyah yang langsung dijawab oleh Haidar dan Rena dengan serempak.
" Wa'alaikumsalam,"
Rena lantas langsung menyapa Aisyah, " Halo Syah, apa kabar?" Aisyah duduk di samping Haidar. Lebih tepatnya lagi sekarang mereka bertiga duduk di hadapan Rena.
Aisyah mengulas senyum, " Kabar aku baik, Ren. Kamu sendiri gimana?"
__ADS_1
" Aku baik kok, Syah."
Tara tiba-tiba saja berdehem cukup keras, membuat percakapan antara Rena dan Aisyah terjeda.
Haidar yang sejak tadi hanya menyimak langsung bersikap manis terhadap Aisyah. " Kamu darimana aja sih, sayang? Kok lama banget?" Haidar meraih tangan Aisyah lalu mengecupnya.
Tara cukup keki melihat adegan romantis itu, berbeda dengan Rena yang terus saja mengulum senyum seraya menggelengkan kepala. Semenjak Haidar menikah dengan Aisyah, lelaki itu berubah banyak. Yang Rena tau jika Haidar itu pria yang sangat jarang mengumbar kemesraan di depan orang lain.
" Aku tadi ke toilet bentar, dan lumayan ngantri." Aisyah mengelus lengan Haidar lembut.
Haidar balas mengelus pipi Aisyah, wajah teduh itu tampak sedikit pucat. " Kamu sehat kan, sayang? Muka kamu kok pucet banget gitu?" tanya Haidar yang merasa khawatir dengan kondisi Aisyah.
Aisyah menggeleng, " Aku nggak pa-pa kok. Paling aku cuma kecapekan aja," elak Aisyah.
" Iya, Syah. Muka kamu pucet banget loh itu, kamu nggak lupa minum obat kan?" kali ini Rena ikut mencemaskan keadaan Aisyah. Membuat Tara yang mendengar kata obat seketika merasa curiga.
' Obat? Apa Aisyah sakit? ' Dalam hati Tara bermonolog sendiri. Ia mulai merasa ada sesuatu yang menarik tentang Aisyah. Maka dari itu, ia tak mau melewatkan kesempatan untuk mencari tau semuanya.
Rena mengangguk, " Oh, oke. Jangan sampai kamu lupa ya, Syah. Itu penting banget soalnya," ucap Rena mengingatkan sekali lagi.
Aisyah mengangguk cepat, " Iya, Ren."
" Bisa kita lanjutkan yang tadi?" Haidar menginterupsi Rena dengan pertanyaan.
" Oh, iya. Bisa ... bisa. Jadi ini gimana maksudnya, aku harus meriksa Tara gitu? Emangnya dia lagi hamil ya?" tanya Rena to the point, ia lalu segera beranjak menuju lemari kaca yang berisikan berbagai macam perlengkapannya sekaligus mempersiapkan alat tes kehamilan untuk Tara.
" Katanya sih, iya. Tapi nggak tau, dia beneran hamil apa enggak." Haidar menjawab dengan nada sedikit mengejek. Sedang Tara sudah mulai merasa gelisah.
__ADS_1
Rena melongo mendengar kalimat yang dilontarkan Haidar, " Loh? Bentar-bentar, ini maksudnya apa nih? Gue belom ngerti loh ini," Dokter bertubuh semampai itu meminta penjelasan dari Haidar. Ia masih belum bisa memahami situasi sekarang ini.
Sebelum menjawab Haidar lebih dulu melirik ke arah Aisyah, " Ceritanya panjang, Ren. Ntar gue jelasin kalo ada waktu," ucap Haidar singkat.
Menurutnya, ia tak perlu menjelaskan lebih lanjut lantaran ia ingin menjaga perasaan sang istri yang mungkin akan kembali terluka.
Rena seolah sudah faham saat melihat Aisyah yang kini tampak terdiam dan tertunduk dalam. " Oke. Ya udah, sini, Ra! Elu tiduran disini," Rena menginterupsi Tara untuk berbaring di ranjang, karena ia ingin melakukan USG pada wanita itu.
Tara sedikit tersentak, " I-iya," Berjalan dengan gerakan sedikit kaku, Tara mendekat ke arah Rena yang saat ini sudah siap dengan perlengkapannya.
" Tapi, sebelum kita USG mending elu periksa dulu deh, Ra. Elu pipis dulu di sini trus elu celupin deh tuh testpack ini ke urine yang udah elu tampung," Rena menyodorkan testpack beserta tabung kecil untuk menampung urine Tara.
Tara hanya mengangguk lalu segera masuk ke dalam toilet yang sudah tersedia di ruangan Rena.
Selagi menunggu, Rena kembali meminta penjelasan pada Haidar. " Sorry ya, kalo gue banyak nanya. Ini aslinya gimana ceritanya bisa si Tara kesini trus elu nyuruh gue buat periksa dia. Emangnya si Tara lagi hamil anaknya siapa sih, Dar?" Rena mencerca Haidar dengan pertanyaan yang sejak tadi bersarang di kepalanya.
" Tara hamil anaknya Haidar, Ren." Tiba-tiba Aisyah yang menjawab pertanyaan Rena.
Dokter berambut pendek itu seketika terkejut dengan matanya yang membulat sempurna, " What's!! Tara hamil anaknya Haidar? Kok bisa sih? Gimana ceritanya itu? Waahhh .... nggak beres elu, Dar! Brengsek juga elu ya?" Rena menjadi geram. Ia merasa tak terima lantaran Haidar ternyata se- brengsek itu.
" Ya makanya gue nyuruh elu periksa tuh cewek. Soalnya gue nggak yakin tuh cewek beneran hamil. Ya ... meskipun-" ucapan Haidar terjeda saat ia melihat Tara keluar dari toilet.
Pria itu langsung beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Tara, " Gimana? Coba gue liat!" Haidar bahkan tak segan berbicara menggunakan kata elu gue ke Tara.
" Iya, coba liat!" Rena juga ikut menimpali.
Tara menyerahkan benda pipih kecil dan panjang tersebut kepada Rena dengan tangan yang gemetar. " I-ini," Haidar langsung merampasnya dengan kasar.
__ADS_1
Aisyah yang sejak tadi hanya diam kini ikut berdiri dan mendekati ketiga orang tersebut yang masih terlihat tegang.
Ketiga orang di ruangan tersebut terperangah saat melihat hasilnya. Mata Aisyah mulai berkaca-kaca, sedang Haidar berdiri kaku dengan tatapan mata yang tak lepas menatap benda pipih tersebut.