Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
KABAR GEMBIRA BAGI AISYAH.


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian.


"Aku berangkat, ya, Sayang." pamit Haidar yang hendak berangkat ke kantor kepada Aisyah. Tak lupa sebuah kecupan mesra Haidar berikan untuk istrinya itu.


"Iya. Kamu hati-hati, ya, Sayang. Nanti siang Insya Allah habis dari rumah sakit aku ke kantor kamu. Kita makan siang bareng," kata Aisyah setelah mencium punggung tangan Haidar. Ia pun tak malu-malu lagi memanggil Haidar dengan panggilan Sayang.


"Maaf, ya, aku enggak bisa antar kamu,"


"Enggak masalah. Aku bisa naik taksi online,"


"Kamu hati-hati. Nanti kalo udah jalan ke kantor kabarin aku, ya?" ucap Haidar mengingatkan. Sejujurnya ia ingin sekali mengantar istrinya itu chek-up. Tetapi, apa daya, pekerjaannya sudah sangat menumpuk.


"Iya," Aisyah tersenyum menanggapi perhatian Haidar.


Lelaki berkemeja lengan panjang dan berwarna maroon itu pun gegas masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah dipanaskan terlebih dahulu. Kemudian ia melajukan mobilnya perlahan sembari melambaikan tangan ke arah Aisyah yang juga melambaikan tangan kepadanya.


Sepeninggal Haidar, Aisyah kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas dan ponselnya yang ia letakkan di meja makan. Memesan taksi lewat aplikasi jasa antar sebentar, Aisyah kembali keluar dan mengunci pintu utama.


🌾🌾🌾🌾


Rumah Sakit.


"Gimana hasilnya, Ren?" tanya Aisyah dengan raut wajah cemas sekaligus tegang.


Setelah hampir dua jam Rena melakukan pemeriksaan. Dari yang mengecek kandungan Aisyah sampai mengecek darah Aisyah yang mengalami kelainan. Rena meneliti hasil yang dikirimkan dari ruang radiologi beberapa saat yang lalu dengan raut muka tak terbaca.


Sehingga Aisyah menjadi gelisah lantaran Rena tak kunjung bicara. Alhasil, menyebabkan Aisyah berpikir yang tidak-tidak. Wanita berhijab itu terus memanjatkan doa supaya hari ini ia mendapat kabar baik.


Rena menutup map tersebut lalu meletakkannya di meja. Helaan napas terdengar samar dari hidung mancungnya. Kacamata yang bertengger di hidung ia letakkan di atas map tersebut. Kemudian Rena memusatkan tatapannya kepada Aisyah yang terlihat hampir menangis.


"Hasilnya... lumayan mengejutkan, Syah," papar Rena. Ia seolah sengaja menggantung kalimatnya supaya Aisyah bertambah cemas. Padahal ada kabar baik yang ingin disampaikan.


Tubuh Aisyah semakin menegang diiringi jari-jarinya yang saling meremas.


"K-katakan, Ren. Kamu jangan buat aku tambah takut," pinta Aisyah dengan tampang memelas. Wajahnya yang putih terlihat memerah begitu juga dengan bola matanya yang jernih sudah nampak berkabut.

__ADS_1


Kecemasan Aisyah justru membuat Rena ingin tertawa. Bagaimana tidak. Istri dari Haidar itu terlalu emosional dan mudah sekali menangis.


"Tenang, Syah. Tenang... rileks...," perintah Rena. Sebab terlihat kentara sekali ketegangan terpancar dari wajah Aisyah.


Wanita itu menuruti apa kata Rena. Ia menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kendati jantungnya terus memompa dengan cepat.


"Kamu cepetan ngomong, donk, Ren," desak Aisyah yang nampak sudah tidak sabaran.


Kepala Rena mengangguk seraya melipat bibirnya ke dalam.


"Jadi gini, dari hasil pemeriksaan tadi tertulis kalo kesehatan kamu cukup ada kemajuan, Syah. Pengentalan darah yang kamu alami sudah agak berkurang karena kamu rajin minum obat juga menjaga pola makan," kata Rena yang seketika disambut dengan ucapan syukur dari mulut Aisyah.


"Alhamdulillah..." ucap Aisyah seraya mengusapkan telapak tangan ke wajahnya yang telah basah karena air mata. Rasa haru bercampur dengan rasa bahagia menjadi satu.


Kabar ini serupa angin segar bagi Aisyah yang selama hampir tiga bulan lebih melakukan pengobatan secara intens. Oleh sebab itu tak lupa Aisyah mengucapkan terima kasih kepada Allah yang selama ini telah memudahkan segala urusannya.


"Itu artinya ada kemungkinan aku bisa punya anak?"


Rena menanggapinya dengan anggukan kepala.


"Insya Allah ada. Jika kamu selalu rajin minum obat pengencer darah, terus makan makanan sehat, pola tidur dan istirahat juga enggak boleh terlewat. Ingat, jangan terlalu capek. Kalo bisa kamu betress di rumah," ucap Rena menyarankan sekaligus mengingatkan.


"Tentu, Ren. Aku akan lakukan semua saran kamu," sahut Aisyah dengan penuh semangat. Segala kesedihan yang hinggap telah enyah dan berganti dengan semangat yang tak terhingga.


Rena mengacungkan jempolnya lalu berkata,


"Sip! Aku seneng punya pasien yang selalu semangat kayak kamu ini, Syah." pujinya.


Bibir Aisyah melengkungkan senyuman.


"Ini semua juga berkat kamu, Ren. Kamu selalu mengingatkan aku dan menyemangati aku untuk berjuang. Ditambah dengan dukungan dari Haidar dan keluarga besarku," papar Aisyah memuji dukungan yang ia dapatkan selama ini.


"Kamu beruntung punya suami kayak Haidar. Meski kalian dipersatukan dengan cara yang tidak disangka-sangka, namun dengan segala kelapangan hati kalian yang menerima pernikahan dadakan itu, kalian bisa melewati hampir satu tahun mengarungi kehidupan rumah tangga,"


Aisyah lantas menyahut,

__ADS_1


"Iya, Ren. Tadinya aku pikir kalo rumah tanggaku enggak akan bisa bertahan sampai sejauh ini. Mengingat, usia dan status kami diawal,"


Rena manggut-manggut mengerti. Bagaimana pun ia tahu bagaimana kehidupan Haidar dulu sebelum bersama Aisyah.


"Haidar dan Almarhum Bang Haikal itu adik kakak yang solid, Syah. Mereka dari kecil dididik dengan baik oleh Abah dan Uminya. Maka enggak heran kalo Haidar bisa menyikapi perbedaan kalian dan status kalian dengan kedewasaan."


Semua itu memang ada benarnya. Rena juga mengenal Haikal kendati tidak terlalu dekat. Oleh sebab itu Rena merasa perlu mengatakan hal itu. Sempat mempunyai pikiran jika Haidar tidak akan pernah bisa move on dari Tara.


Namun, dugaan Rena ternyata salah. Walau dulu ia sangat tahu betapa cintanya Haidar kepada mantannya itu. Tetapi, dengan hadirnya Aisyah, ternyata lambat laun mampu mengikis sisa-sisa cinta di hati Haidar.


"Bahkan sampai sekarang aku kadang masih belum percaya kalo jodohku itu Haidar bukannya Haikal," celetuk Aisyah tiba-tiba. Dalam benaknya yang paling dalam masih terukir nama Haikal di sana. Walau porsinya tak sebanyak Haidar.


Haidar dan Haikal dua orang yang berbeda kendati mereka bersaudara.


Rena membuka senyum mendengar penuturan Aisyah.


"Jodoh itu emang rahasia Tuhan yang enggak bisa ditebak, ya, Syah?" ucapnya yang langsung diangguki Aisyah.


"Oke, kalo begitu aku pulang dulu, ya, Ren. Aku ada janji makan siang bareng sama suami berondongku, hahaha...." Aisyah tergelak sendiri dengan ucapannya disusul dengan Rena yang ikut terbahak.


"Cie...Cie... udah mulai berani, nih, ceritanya? Gimana... gimana? Udah dipraktekin belum saran aku, hem?" goda Rena.


Wajah Aisyah seketika bersemu digoda Rena seperti itu. Malu-malu kepala Aisyah bergerak ke atas dan ke bawah.


"Waahh... Haidar pasti klepek-klepek, tuh! hihi..." celetuk Rena. Idenya itu rupanya berhasil membantu Aisyah yang merasa kurang percaya diri perihal urusan ranjang.


Tangan Aisyah sontak terjulur ke depan seiring tubuhnya yang beringsut maju untuk mencubit lengan Rena yang terus saja menggodanya.


"Apaan, sih Ren? Udah, ah! Aku mau pergi aja. Keburu kesiangan, kasian Haidar pasti dia udah nungguin di kantor." Aisyah bangkit dari duduknya.


"Ngomong-ngomong makasih, ya, Ren, untuk hari ini." sambung Aisyah lagi seraya berpelukan dengan Rena.


"Iya, sama-sama. Kamu hati-hati ya..." pesan Rena setelah mengurai pelukannya.


"Iya," Aisyah berjalan mendekat ke arah pintu lalu melambaikan tangan sebelum benar-benar keluar dari ruangan Rena.

__ADS_1


_


_


__ADS_2