
Malam ini aku kembali dari kantor sangat larut, pekerjaan yang menumpuk membuat ku terjebak di sana.
Beruntung aku punya asisten yang bisa diandalkan, ia siap membantu pekerjaan ku.
Dia juga yang sudah membimbing ku supaya lebih tau tentang seluk beluk perusahaan Abang ku.
Hari ini tubuh ku benar-benar rasanya remuk semua. Rasanya aku ingin sekali berendam di air hangat malam ini. Untuk mereleksasi tubuh dan pikiran ku.
Seperti biasa, aku mengucap salam sebelum masuk kedalam rumah. Tapi Aisyah tidak menyambut kedatangan ku seperti biasa, mungkin ia sudah tidur. Sebab waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Sore tadi aku sudah mengabari dirinya, kalau malam ini mungkin aku akan pulang larut. Dan aku menyuruhnya untuk tidak usah menungguku.
Kulangkah kan kaki menuju dapur terlebih dulu sebelum naik kelantai atas. Tenggorokan ku rasanya kering dan aku ingin minum.
Kubuka lemari es yang berada disudut ruang dapur, kuambil satu botol kaca berisi air putih dingin. Aku menutup kembali pintu lemari es tersebut lalu berjalan menuju kursi meja makan dan kududukan bokong ku sebelum meminum air dingin yang tengah aku bawa.
" Arghh... Alhamdulillah nikmat nya." Ucapku setelah meneguk air dingin itu.
Segera aku beranjak bergegas naik kelantai atas dengan perlahan.
Aku takut mengganggu Aisyah yang mungkin saja saat ini sudah terlelap.
Tapi...
Beberapa langkah menuju kamar kami, aku mendengar suara tangis seseorang dari balik pintu. Samar-samar aku mendengar suara Aisyah yang ternyata masih belum tidur dan sepertinya ia habis melaksanakan sholat malam.
Perlahan aku membuka pintu yang memang agak sedikit terbuka, kutajamkan pendengaran ku untuk mendengarkan untaian doa yang tengah dipanjatkan oleh istriku.
" Ya Allah berikanlah ridho Mu dalam rumah tangga ku, jadikanlah rumah tangga kami Sakinah Mawadah dan Warahmah. Tuntun dan bimbinglah aku, agar menjadi istri yang selalu membawa keberkahan bagi suami ku. Hamba tau, pernikahan kami sangat lah mendadak dan tidak pernah terduga sebelumnya. Tapi hamba yakin, jika ini memang takdir untuk ku. Hamba akan ikhlas menjalani takdir ini dan menerima sepenuhnya Haidar dihati hamba. Meski pada kenyataannya, hamba masih belum bisa melupakan Haikal. Cinta pertama hamba dan namanya akan selalu terukir indah dihati ini.
Haidar memang pria baik bahkan sangat baik. Sampai sekarang ia juga belum meminta haknya pada hamba, meski hamba tau itu adalah sebuah dosa. Kami juga sudah sepakat untuk mengenal satu sama lain lebih dulu, baru kami bisa melanjutkan kelangkah selanjutnya. Hamba mohon tumbuhkan lah rasa cinta pada hati kami masing-masing, supaya kami bisa segera menyempurnakan ibadah kami ini. Kabulkan lah doa hambamu yang rapuh ini, amin."
Doa yang dipanjatkan oleh Aisyah terdengar begitu tulus dan membuat hatiku seketika menghangat. Betapa ia juga berusaha untuk masa depan rumah tangga kami. Meski hati ini agak sedikit kecewa saat Aisyah mengatakan bahwa ia masih belum sepenuhnya melupakan Bang Haikal dan masih mengukir indah nama itu dihati nya.
Ada sedikit rasa cemburu yang tiba-tiba mencuat dari hatiku. Aku juga belum bisa mendeskripsikan tentang perasaan ku yang sebenarnya pada Aisyah.
Mungkin kah aku sudah mulai menyukai nya? Jadi aku merasa cemburu pada Abangku sendiri yang jelas-jelas sudah tiada.
__ADS_1
Jika itu memang benar, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk memupuk rasa cinta ini. Agar dapat tumbuh dengan subur dan berkembang dengan indah.
Dan menyempurnakan ibadah berumah tangga ini. Seperti apa yang diharapkan Aisyah.
Aku sengaja berdehem dan mengucapkan salam. " Ehm! Assalamualaikum.." kaki jenjang ku melangkah masuk kedalam.
Hatiku kembali berdebar setiap aku menatap wajah cantik Aisyah. Calon bidadari surga ku.
Eh, kan udah?
belumlah, kan masih belum buka segel.
hmm...??
Aisyah menoleh kearah ku dengan senyum yang terbit dari bibir berwarna pink miliknya.
" Eh, udah pulang?" tanya Aisyah padaku dan kujawab dengan anggukan tak lupa kubalas senyumannya yang manis itu.
Aku terpesona melihat kecantikan nya,
" Masya Allah... cantiknya wanita ini." gumamku dalam hati. Mataku tak berhenti memandang nya.
Bukan hanya paras nya yang cantik, akhlak dan hatinya juga sangat cantik dan indah. Tutur sapa dan perilaku nya juga tak kalah sempurna.
The best lah pokoknya!
Terkadang aku masih belum percaya, benarkah dia jodohku. Istri pilihan Allah untuk ku.
Wanita yang akan akan menjadi makmum ku seumur hidupnya.
Ia menghampiri ku dan mencium punggung tangan ku dengan takzim setelah membereskan peralatan sholat nya.
" Keliatannya capek banget, aku siapin air hangat ya? biar badan kamu bisa rileks lagi." kata Aisyah sembari membantuku melepaskan jas yang aku kenakan.
Begitu hangat perlakuannya, dan ini bisa dibilang yang kedua kalinya ia membantu ku.
__ADS_1
Sebelum kami memutuskan untuk berusaha dan mengenal satu sama lain. Kami memang jarang berkomunikasi layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Benar-benar seperti orang asing yang tinggal dalam satu atap.
" Boleh, aku juga sebenernya udah berencana untuk berendam air hangat tadi. Ternyata kita sepemikiran ya?" Sahut ku antusias.
Tak kusangka jika kami sepemikiran. Apa mungkin hanya kebetulan. entah lah.
" Ya udah aku siapin airnya dulu ya. Abis itu aku siapin makan malam, pasti kamu belum makan kan?"
Kuanggukkan kepalaku sekali " Iya nih, aku laper banget. Tadi aku cuma makan siang dikantor, terus belum sempet makan malam." ucapku sambil menyentuh perut ku yang kebetulan berbunyi, meminta jatah untuk diisi.
Aisyah menyentuh bahu ku dan berkata dengan lembut nya. " Lain kali jangan dibiasain, sibuk kerja boleh, asal jangan sampai melewatkan makan. Kesehatan itu mahal lho harganya. Jangan kamu sia-siakan waktu kamu cuma untuk mengejar dunia." Kata-katanya seolah membiusku. Aku hanya mampu mengangguk didepannya tanpa sepatah katapun.
Tak kusangka kalau Aisyah sangat memperhatikan dan mengkhawatirkan ku.
Manis sungguh manis.
Ia lalu berjalan menuju kamar mandi menyiapkan air hangat untuk ku berendam. Meninggal kan diriku yang masih memaku ditempat tanpa berhenti memandangi nya, hingga punggung nya menghilang dari balik pintu kamar mandi.
Perlakuan manis yang ia tunjukkan benar-benar membuat ku merasa beruntung dan terus bersyukur. Memilikinya dalam hidup ku yang tidak berarah. Menjadi lentera yang menyinari kelamnya kehidupan ku.
Aisyah Putri, meski usia kita terpaut jauh.
Aku akan berusaha untuk mengenyahkan perbedaan itu, menjadikan dirimu wanita satu-satunya dalam hidup ku.
Sekarang dan mungkin untuk selamanya.
๐บ๐บ๐บ
Cinta bisa tumbuh dengan seiring berjalannya waktu. Karena seringnya bersama dan merangkai setiap detiknya dengan orang yang sama pula.
Terimakasih buat yang sudah mampir ๐๐
Jangan lupa beri dukungan untuk Akuuh.
**Caranya dengan memberikan Like Komen dan bila berkenan beri Vote juga. hehe..canda ya๐
__ADS_1
Salam hangat dari akyuu...๐๐**