
" Assalamualaikum warahmatullaah.... Assalamualaikum warahmatullaah..." Kami baru saja menyelesaikan sholat subuh berjamaah pertama kami. Aisyah mencium punggung tangan ku dengan takzim, membuat hatiku menghangat mendapat perlakuan seperti itu.
Ini kali pertama kami sholat berjamaah, setelah pernikahan kami yang sudah berjalan selama tiga bulan.
Semalam usai makan malam dan berlanjut pada obrolan ringan. Kami memutuskan untuk tidur satu kamar. Ini merupakan langkah pertama kami untuk menjalani kehidupan rumah tangga yang normal seperti yang lain.
Dan aku juga memutuskan untuk memanggil Aisyah dengan sebutan sayang, tentu saja aku hanya menuruti kemauan nya.
" eemmm...gimana kalo sayang?" usulan Aisyah semalam masih terngiang di telinga ku hingga saat ini. Raut wajahnya saat itu benar-benar menggemaskan. Akupun sejenak tertegun sebelum menyetujuinya.
Tidak ada salahnya juga jika aku memanggilnya dengan sebutan itu. Sah-sah saja bukan?
Apalagi dia sendiri yang memintanya, aku bisa apa?
Sebagai laki-laki yang saat ini tengah berusaha untuk belajar menjadi suami dan Imam yang baik. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, malah aku cukup senang dengan sikap Aisyah yang seperti ini. Manja dan manis.
" Tapi maaf, aku belum bisa melaksanakan kewajiban ku yang lain. Aku belum bisa menjadikan mu seorang istri seutuhnya. Aku masih perlu waktu untuk itu, jadi kita belum bisa melakukan nya sekarang." kata-kata ku semalam pada Aisyah sebelum kami memutuskan untuk tidur satu ranjang.
" Aku mengerti, seperti halnya kamu. Akupun sampai saat ini masih belum siap, jika harus memberikan mu itu. Kita juga harus saling memantapkan hati kita terlebih dahulu, sebelum melangkah lebih jauh lagi." Ucapan Aisyah yang tak sedikitpun merasa keberatan membuat ku agak sedikit lega. Rasa bersalah yang sempat menggelayuti ku, perlahan sirna.
Aisyah memang wanita yang baik dan berhati lembut. Kenapa juga ia sampai berjodoh dengan pria seperti ku. Yang terbilang tidak cukup pantas untuk mendampinginya.
Memang benar kata orang. Kita bisa mencintai siapa saja yang kita inginkan. Tapi kita tidak bisa menolak jodoh yang sudah digariskan oleh Allah untuk kita.
Seusai sholat subuh berjamaah kami pun mengaji bersama sebentar.
" Aku mau turun dulu, mau masak buat sarapan kita." Ucap Aisyah padaku seraya merapikan peralatan sholat kami.
Aku mengangguk " Baiklah, aku mau disini dulu. Nanti kalo sempet aku bantuin kamu masak." kataku sambil memeriksa ponselku sebentar, mengecek apakah ada email yang masuk.
" Baiklah" Aisyah bergegas keluar dari kamar.
Lalu aku melanjutkan kembali pekerjaan ku
sebentar sebelum menyusulnya ke dapur untuk membantu nya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan ku, aku langsung turun menyusul Aisyah kedapur. Aroma masakan yang menyeruak keseluruh ruangan langsung hinggap dihidungku.
" Kamu masak apa? aromanya harum sekali." tanyaku sembari melongokkan kepalaku kearah wajan yang sudah berisikan masakan itu. Aisyah tersenyum tipis sambil terus membolak-balik masakan nya yang sudah hampir jadi itu.
__ADS_1
" Aku masak udang saos tiram kesukaan kamu." sahutnya, yang cukup membuat ku besar kepala.
Dahiku mengernyit heran darimana dia tau makanan kesukaan ku. " Kok kamu tau kalo itu makanan kesukaan aku?" tanya ku lagi dengan tatapan menyipit. Aisyah cuma tertawa kecil menanggapi pertanyaan ku.
Memang ada yang lucu ya?
" Kok malah ketawa sih? Emang ada yang lucu?" aku semakin dibuat penasaran oleh sikap nya. Aisyah cuma menggelengkan kepala, sambil terus melanjutkan aktivitasnya. Memindahkan masakan yang telah matang kewadah lalu menatanya dimeja makan.
Aku mengekori nya dari belakang.
" Kok nggak dijawab? Kan aku lagi tanya?" Aku mendudukkan bokongku dikursi meja makan lalu menuangkan air putih kedalam gelas. Aku meneguknya dengan pandangan yang tak lepas dari Aisyah. Wanita itu terlihat biasa saja malah kini tengah sibuk membuat kan ku kopi.
" Mau tau aja apa mau tau banget??" Aisyah berjalan menghampiri ku dimeja makan dengan membawa secangkir kopi yang sudah ia buat lalu menyodorkan nya dihadapan ku.
Ucapannya barusan membuat mataku semakin menyipit kearahnya. Tak kusangka jika dia bisa juga menggodaku.
" Pasti dari Ummi ya?" tebakku asal membuat Aisyah langsung mengangguk.
" Oooh...pantes??" selorohku sembari menyeruput kopi buatan Aisyah. Rasanya seperti biasa. enak.
" Emang nggak boleh ya kalo aku tanya-tanya sama Ummi soal kamu?" Aisyah bertanya padaku dengan raut muka masam dan mengerucutkan bibirnya yang berwarna pink itu.
" Boleh-boleh aja, tapi lebih bagus lagi kalo nanyanya keorangnya langsung." Sahut ku sembari menyuap kan nasi berisi udang saos tiram yang sebelumnya sudah disiapkan Aisyah. Rasanya lebih enak dari buatan Ummi.
" Emang kamu kapan ada waktu? Kamu aja nggak pernah dirumah. Berangkat pagi pulang malam. Itu-itu aja yang kamu lakuin semenjak kita nikah. Ya jadinya aku terpaksa deh nanya ke Ummi." Kata-kata Aisyah seketika membuat ku mengerjap beberapa saat. Rasanya kenapa sangat nyeri didada, mendengar Aisyah mengeluh seperti itu. Secara tidak sadar aku menyentuh dadaku yang berasa berdenyut.
Aku juga bisa lihat raut wajah Aisyah memancarkan kesedihan. Parasnya yang cantik berubah menyendu.
" Maaf.." Hanya kata itu yang bisa kuucapkan untuk nya. Rasa bersalah begitu menghimpit didadaku. Suami macam apa aku ini, benar-benar mengecewakan.
" Nggak masalah, aku juga bisa maklum sama sikapmu selama ini. Kita mendadak jadi suami istri dalam keadaan yang tak terduga. Pasti itu cukup membuat mu sedikit syok, iya kan?" tanyanya dan aku hanya bisa terdiam tanpa kata.
Selera makan ku seakan enyah entah kemana. Melihat Aisyah bersedih seperti ini membuat hatiku perih. Aku benar-benar bodoh, karena sudah tak menganggapnya selama tiga bulan ini. Pasti hatinya sangat hancur mendapat perlakuan seperti itu dariku.
Aku menghela nafas panjang sebelum berbicara lagi. " Awalnya mungkin seperti itu, tapi semenjak kemarin aku sudah sadar akan kesalahan ku padamu. Kembali lagi pada rencana kita semalam, kalo kita akan memberikan kesempatan dalam hubungan ini. Kita sama-sama berjuang untuk mewujudkan impian Bang Haikal. Aku juga akan berusaha keras untuk berubah menjadi suami impianmu. Semoga saja Allah meridhoi niat kita ini." Ucapanku yang syarat akan penyesalan dan harapan langsung diamini oleh Aisyah.
Kami berdua saling melempar senyum dan beradu pandang sekilas. Aisyah terlihat salah tingkah dan tersipu-sipu, saat mataku terus saja menatapnya tanpa berkedip.
" Makannya ngga dilanjut nih? Dari tadi malah ngeliatin aku.." selorohan Aisyah membuat ku sedikit kelabakan. Aku pura-pura berdehem dan melanjutkan ritual makanku.
__ADS_1
Sejenak suasana menjadi hening hanya suara dentingan sendok yang terdengar di ruangan tersebut.
Aku meneguk air putih setelah menghabiskan makananku. Begitu pun Aisyah. Ia juga sudah menghabiskan sarapannya dan langsung bergegas membereskan piring kotor bekas makan ku dan makan nya.
" Biar aku bantuin, boleh kan?" Aku menawarkan diri untuk membantunya, Aisyah cuma mengangguk dan tersenyum.
Aku berinisiatif untuk mencuci piring kotor tapi Aisyah langsung mencegahku melakukan hal itu. " Eh nggak usah, biar aku aja. Kamu kan harus berangkat kerja? Udah siang lho?? Nanti kamu bisa telat." Aisyah mendorong tubuh ku pelan agar menjauh dari tempat cuci piring.
Aku bersender di samping Aisyah yang masih sibuk mencuci piring. Tiba-tiba aku memutuskan untuk libur sehari dari kantor.
" Hari ini aku memutuskan untuk libur sehari. Pengen ngajak Istriku ini jalan-jalan, maukan??" Ucapan ku membuat Aisyah menghentikan aktivitas nya sejenak lalu menoleh kearah ku yang masih berdiri bersandar disampingnya.
" Kamu...serius?? Nggak lagi bercanda kan?" tanyanya sambil meneruskan aktivitas nya yang sempat terhenti, mencuci piring.
Kedua alisku menaut, respon yang ditunjukkan oleh Aisyah cukup membuatku sedikit kecewa. Aku pikir dia akan senang dengan keputusan ku yang libur dan ingin mengajak nya jalan-jalan. Tapi ternyata, nihil.
" Kamu nggak mau nih aku ajak jalan-jalan?" Aku mencoba memastikan nya sekali lagi, mataku memicing tajam kearah nya.
Aisyah yang sudah menyelesaikan pekerjaan nya, mengelap tangan nya dengan kain serbet lalu berdiri di depan ku dengan tangan bersedekap.
Bisa kulihat dengan jelas tonjolan didadanya yang cukup membuat fokus ku teralihkan kesitu. Lumayan besar juga. batinku.
Entah mengapa pemandangan itu membuat darahku berdesir dan mendadak kepalaku terasa pusing.
Jujur saja sebagai pria normal, disuguhkan pemandangan seperti itu membuat pusat tubuh ku sedikit berdenyut.
Padahal penampilan Aisyah seperti biasanya, memakai pakaian tertutup dan memakai hijab yang lumayan panjang. Menutupi setengah dadanya.
Mungkin otakku yang sudah terkontaminasi oleh hal-hal mesum, jadi aku punya pikiran ngeres macam ini.
ck! ada-ada saja.
" Hello...???" Aisyah mengibas-ngibaskan tangan nya kewajah ku. Sontak saja membuat fantasi liar ku mengabur menguap entah kemana. Haidar... Haidar...
" Eh.. i--iya gimana?" Aku seperti maling yang sedang kepergok. Tingkah ku kelabakan sendiri. Aku pura-pura berdehem menghilang kan rasa canggung yang tiba-tiba muncul.
" Kamu serius hari ini mau libur dan ngajak aku jalan-jalan?" Aisyah menanyakan keseriusan ku yang tiba-tiba ingin libur dan mengajaknya jalan-jalan. Aku mengangguk mantap dan Aisyah nampak berbinar dengan senyum mengembang.
" Serius?? Waah... emang kamu mau ngajak aku kemana?" tanya nya seraya kembali duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
" Terserah kamu, pengen nya kemana. Aku nurut aja." Jawab ku seraya menyusulnya duduk di meja makan.