Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
Honey moon


__ADS_3

Tiga hari kemudian,


Hari ini kami berangkat berbulan madu ke Bali, dengan jadwal penerbangan pagi. Sebelum itu kami berdua pamit ke rumah Abi dan Ummi. Sebab itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap anak jika ingin bepergian harus berpamitan dengan kedua orang tua, meminta doa restu supaya diberikan kelancaran. Selamat sampai tujuan dan tidak kurang suatu apapun.


Pesan-pesan yang disampaikan oleh Ummi sebelum keberangkatan kami pagi tadi betul-betul membuat aku sebagai laki-laki merasa tidak enak.


Bagaimana tidak. Hal-hal yang menurut ku sangat privasi begitu gamblang nya dibicarakan oleh Ummi. Beliau secara terang-terangan mengaku bila dia sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu.


" Kalian harus rajin-rajin ya bikinin cucu buat Ummi, kalo bisa langsung dua sekaligus alias kembar. Kan jadinya repotnya bisa sekalian, trus capeknya juga sekalian. Iya kan Bi?" Ucapan Ummi kepada kami berdua membuat semua orang yang berada disana menahan tawa sekaligus malu.


Bukan hanya Ummi dan Abi yang berada dirumah waktu tadi, melainkan ada Ayah dan Ibu mertuaku yaitu Abi dan Ummi nya Aisyah.


Juga ada beberapa kerabat dekat yang sedang menginap di rumahku.


Maklumlah, keluarga ku memang sangat lah banyak dan besar. Dan tidak bisa aku sebutkan satu persatu.


.


.


.


.


Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam lamanya, akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Tujuan pertama kami adalah resort tempat kami menginap. Yang dimana sudah direservasi jauh-jauh hari oleh Ummi.


Beliau sengaja menyewakan kami tempat itu. Katanya, supaya nantinya kami bisa lebih menjaga privasi. Betul-betul sudah direncanakan dengan baik dan matang oleh Ummi.


Saat memasuki lobby resort, kami disambut staf yang ramah berikut interior yang sangat impresif.


.



Ruangan semi terbuka ini memadukan unsur modern dan tradisional etnik Bali yang sangat khas. Selain didalam ruangan, sofa-sofa nyaman juga disediakan di gazebo yang sangat sejuk.



Saat masuk kedalam kamar bulan madu kami. Aku dan Aisyah juga dibuat takjub dengan ruangan tempat kami menginap tersebut. Kamar yang didekor dengan sebegitu indahnya, malah membuat ku dan Aisyah merasa canggung. Bukan sebaliknya, ck!

__ADS_1


Betul-betul hal yang baru bagi kami sebagai pasangan pengantin yang bisa dibilang bukan baru lagi.


hehehe... maklumlah.


" Heuh... Ummi benar-benar bersemangat ya ngerencanain ini semua buat kita. Beliau benar-benar berharap kita bisa segera ngasih cucu." Ucapan Aisyah sedikit membuat ku menelan ludah dengan susah.


Dari nada bicaranya sepertinya ia agak sedikit terbebani dengan semua ini.


Aku juga berusaha mengontrol diriku dan berusaha setenang mungkin.


" Ekhm! ya... begitulah Ummi. Beliau memang dari dulu seperti itu orangnya, apalagi menyangkut tentang anak-anaknya. Pasti harus terlihat sempurna." Sahut ku menanggapi Aisyah dengan nada sedikit sumbang.


Aisyah mengulas seutas senyum dibibirnya, sembari merapikan barang-barang bawaan kami. Pun demikian aku, membantunya menata pakaian-pakaian ganti kami kedalam lemari.


Saat membuka koper mataku membelalak dan nyaris copot. Pakaian yang sudah disiapkan oleh Ummi sebelumnya ternyata dikhususkan untuk Aisyah. Ada beberapa potong pakaian yang membuat ku sedikit berfantasi kesana kesini. Gaun malam super sexy dengan berbagai macam model ada dihadapan ku saat ini. Bagaimana kalau Aisyah memakai gaun ini.


Pikiran-pikiran kotorku mulai menjalar diotakku yang mesum. Ck!


Bagaimana Ummi bisa memiliki ide seperti ini coba, dapet ide darimana.


Pantas saja beliau melarang kami untuk membawa banyak baju, jadi ini yang sudah direncanakan olehnya.


" Kamu kenapa Dar? Kok ngelamun?"


" Aduh! mati aku!? Gimana ini..?" Aisyah mendekat dan bertanya pada ku yang masih terpaku dengan pikiran mesumku.


Aku menelan ludah ku dengan susah payah sebelum menjawab Aisyah, " I-ini Syah, Ummi.." ucapan ku tergagap karena menahan malu atas kelakuan dan ide jahil Ummi yang satu ini.


Mataku tak lepas dari koper yang berada di depanku.


Lantas Aisyah melongokkan kepalanya kearah koper didepannya itu,


" Apa?" Aisyah yang penasaran langsung melihatnya sendiri. Sedang aku semakin salah tingkah.


Aisyah berdehem, aku rasa saat ini dia juga menahan malu. Terlihat dari wajahnya yang bersemu kemerahan dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


" A-aku emang harus pakai itu ya Dar?" Pertanyaan konyol mendadak meluncur dari bibir nya. Tanpa menatap kearahku ia memberanikan diri untuk bertanya padaku.


" Kalo kamu ngerasa nggak nyaman atau belum siap, aku nggak masalah. Aku nggak akan maksa kamu buat pakai ini. Lagipula kita juga masih sama-sama belum siap. Betulkan?" Aku berusaha menjawab pertanyaan Aisyah tanpa menyudutkan dirinya. Aku tahu jika semua ini masih sangat mendadak untuk kami.

__ADS_1


Gadis itu langsung menoleh kearah ku dan duduk disamping ku. Kami berdua saling berhadapan saat ini.


" Insya Allah aku siap Dar. Aku nggak bisa ngecewain orang tua kita. Apalagi Ummi kamu, yang udah susah payah nyiapin ini semua buat kita." Tangan Aisyah menyentuh telapak tangan ku dengan lembut, tutur katanya membuat hatiku menghangat dan jantung ku berdebar kencang.


Entah apa yang dipikirkan oleh wanita ini.


Netranya yang indah seakan menghipnotis diriku. Wanita ini benar-benar begitu sempurna bagiku. Aku merasa tidak sebanding jika disandingkan dengan bidadari sepertinya.


" Baiklah, jika memang itu sudah keputusan mu. InsyaAllah sebagai suamimu, aku juga akan memberikan hak yang satu ini untuk mu."


Aku membalas genggaman tangannya sebelum melanjutkan kalimatku, " Kalo gitu, apa boleh aku cium kamu?" imbuh ku dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Aisyah.


cup!


Ku kecup kening wanita solehah dihadapan ku ini. Ada perasaan bahagia, kala mendapat persetujuan dari nya. Hatiku berbunga-bunga dengan rasa yang kian membuncah.


" Kita akan jalani ini pelan-pelan, dan kita juga akan belajar sama-sama untuk menjadi pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. Pasangan yang saling mendukung dan memberikan kepercayaan pada pasangan nya. Aku mau, kamu selalu mendampingi ku."


Kusentuh pipinya dan kuusap lembut, membuat Aisyah tersipu dan menunduk.


Entah kenapa, aku selalu tidak bisa menahan diri jika berdua dengan nya. Tanganku seolah bergerak sendiri tanpa aku menyuruhnya. Aku mengangkat dagu Aisyah perlahan dan kutatap manik matanya yang indah. Melihat wajah cantik Aisyah selalu sukses membuat jantung ku berdebar tak karuan.


Netra teduh itu perlahan terpejam seolah memberiku izin untuk melakukan hal lebih. Tentu saja aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.


Aku mendekatkan bibirku ke bibirnya yang mungil dan terlihat manis. Ku kecup sekilas lalu selanjutnya ku pagut perlahan dan lembut. Aisyah membalas pagutanku dengan baik dan cukup cepat diluar dugaan ku. Rupanya gadis itu sudah belajar tentang bagaimana cara berciuman dengan baik dan benar.


Hari ini menjadi pengalaman pertama bagi kami untuk saling menerima satu sama lain.


Aku pun sudah tidak ragu menunjukkan sikap ekspresif ku pada Aisyah. Dan beruntung, Aisyah menerima nya dengan senang hati.


Tapi aku tidak akan melahap istri cantikku sekarang ini, mungkin klimaks nya baru akan terjadi nanti malam. hmm..


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2