
Author POV.
Dari seberang sana, Aisyah juga tampak malu-malu. Meski Haidar tidak melihatnya.
Rasanya jantungnya terus berdebar, jika bicara dengan lelaki yang sudah menjadi suami nya itu.
Tak dipungkiri, bila ia sudah terpikat oleh sosok Haidar yang telah menjadi suami sahnya. Dulu, ia menyukai Haidar hanya sebatas hubungan Kakak ipar dan adik ipar. Berbeda dengan status nya kini, dalam sekejap hubungan itu telah berubah status.
Benar-benar rahasia Ilahi yang tidak bisa ditebak. pikirnya.
Haidar masih menunggu Aisyah melanjutkan obrolan nya. Gadis itu terdiam cukup lama.
Ia hanya tidak tahu saja, kalau saat ini istrinya itu juga tengah mengatur ritme jantung yang sudah tak karuan.
" Halo? Aisyah? Kamu masih disitukah?" Haidar mencoba mengeceknya, memanggil dan menanyai keberadaan Aisyah saat ini. Mencoba memastikan kalau Aisyah belum memutus panggilan nya diseberang sana.
Aisyah terkesiap, " i--iya Dar, aku masih disini." sahut nya agak kikuk.
Haidar bernafas lega, " Aku pikir kamu kenapa-napa, dari tadi diem aja." ucapnya dengan sudut bibir tertarik keatas.
" Nggak kok, aku baik-baik aja. Aku cuma mau bilang, kalo nanti aku mau kekantor kamu. Nganter makan siang buat kamu, gimana?"
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Haidar saat ini. Hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan Aisyah.
Gadis itu sudah bersusah payah untuk mau masak dan mengantarkan makan siang untuk nya. Tentu saja, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Bisa berlama-lama menatap wajah cantik Aisyah.
" Oh boleh banget dong, kebetulan aku juga lagi males keluar." Haidar memberi sinyal persetujuan nya dengan antusias. Wajah nya yang tampan sangat berseri.
" Ya udah, ini masakan nya udah siap semua. Sekitar 20 menit lagi aku sampai."
" Ok, aku tunggu ya? See you next, Istriku." Sadar atau tidak Haidar tiba-tiba nyeletuk seperti itu. Membuat gadis yang diseberang sana tersipu mendengar nya.
" Iya, assalamualaikum."
" Wa'alaikumsalam."
klik'. Keduanya memutuskan panggilan.
Haidar geleng-geleng dengan senyum yang tersungging dibibir selepas memutus panggilan telfonnya.
oohh inikah yang dinamakan cinta? batinnya.
Haidar menyandarkan tubuhnya dikursi kerjanya.
__ADS_1
Tangan nya menyentuh dada sebelah kiri,merasakan detak jantungnya yang masih berdetak cepat.
Seperti habis marathon saja. pikirnya.
Wajah cantik Aisyah terus saja berseliweran di otaknya. Layaknya sebuah memori yang terus saja memutar-mutar dikepalanya. Seakan itu hal yang sudah mutlak untuk diingat.
Tok! tok! tok!
~krieett~
Kepala seorang pria melongok dipintu,
" Permisi Pak, boleh saya masuk?" Asisten Haidar yang bernama Vano meminta izin untuk masuk ruang kerjanya.
" Masuklah Van!" titah Haidar tanpa menoleh kearah pria itu.
Haidar masih memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya.
Vano melangkah masuk setelah mendapat izin dari Bosnya, pria itu menutup kembali pintu lalu berjalan menghampiri Haidar yang masih belum merubah posisinya.
Pria itu menunduk hormat sebagai penghormatan nya untuk Haidar.
Kemudian melangkah satu langkah lalu menyerahkan sebuah map untuk Haidar. " Maaf pak, saya perlu tanda tangan dari anda." Ucapnya sembari meletakkan map itu dimeja Haidar.
Lantas Haidar segera merubah posisinya, tatapannya menuju Vano yang tengah berdiri menjulang dihadapannya.
Map yang dibawa oleh Vano ia geser sedikit lalu berucap pada asistennya itu.
" Nanti aku akan tandatangani ini. Kamu bisa mengambil nya lagi sebelum pulang. Sebentar lagi, istriku akan kesini. Aku tidak mau ada yang mengganggu kami, termasuk pekerjaan ini." Ujar Haidar dengan senyum semringah dibibirnya. Membayangkan wajah Aisyah saja sudah membuat harinya semakin berwarna seperti ini.
Vano hanya mengangguk patuh lalu segera pamit undur diri. " Baiklah, saya mohon izin pamit keluar pak." Haidar mengangguk kan kepalanya cepat sebagai tanda ia memberi izin pada asistennya untuk keluar. Tak berselang lama Vano pun keluar dari ruangan kerjanya.
Haidar kembali melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. " Sebentar lagi Aisyah sampai." gumamnya sambil tersenyum tipis.
Benar saja, ternyata wanita yang ia tunggu-tunggu kedatangannya telah tiba. Malah kurang dari waktu yang dijanjikan. Aisyah tiba dikantor nya sekitar delapan belas menit lebih dua puluh detik.
Begitu perkiraan Haidar.
" Hari ini memang ada yang spesial ya? kok tiba-tiba kamu kekantor? bawain aku makan siang segala?" Haidar berbasa-basi sedikit untuk mengurangi rasa kecanggungan yang menderanya saat ini.
Siang itu penampilan Aisyah begitu cantik dan terlihat elegan. Membuat ia sedikit terpana tadi. ralat! bukan sedikit tapi sangat.
Saat gadis itu masuk keruang kerjanya dengan senyum mengembang dibibir mungilnya.
__ADS_1
Aisyah hanya tersenyum sembari masih sibuk menata makanan yang ia bawa dimeja yang terletak disudut ruangan kerja Haidar.
" Aku itu tadi belajar bikin ini, daging se'i sapi asap sambal matah." Aisyah menyendokkan nasi beserta lauk yang telah ia masak kepiring Haidar lalu menyodorkan nya dihadapan suaminya itu.
Haidar tersenyum bangga. Ia suka dengan perlakuan Aisyah yang manis itu, selalu membuatnya merasa dihargai sebagai seorang suami.
Dengan wajah yang semakin berseri ia mengambil piring yang disodorkan Aisyah.
" Waah... kayaknya enak nih? Aku langsung makan ya?" Tanpa menunggu lama ia langsung menyuapkan makanan racikan istrinya itu kedalam mulutnya.
Yang memang terlihat sangat enak.
" Emm, ini enak! enak banget malah!" serunya yang masih mengunyah makanan didalam mulutnya.
Senyum Aisyah mengembang lebar mendapat pujian dari Haidar. Suami nya ternyata menyukai masakannya. Malah terlihat sangat lahap.
Sedikit banyak Aisyah sudah mengetahui tentang Haidar. Dari makanan kesukaan dan apa saja yang pria itu sukai.
Aisyah tak pernah absen bertanya pada ibu mertuanya. Ia sudah bertekad untuk menjadi istri yang mengurus segala kebutuhan Haidar dengan tanggung jawab sepenuhnya.
Kebetulan, Haidar bukan tipe pria yang rewel dalam hal makan. Ia pasti menyantap apa saja yang dimasak oleh Aisyah.
Bagi Aisyah itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Dihargai lalu dipuji. Itu yang selalu dilakukan Haidar setelah lelaki itu makan masakan Aisyah yang rasanya memang sangat enak. Bahkan masakan Ummi nya saja kalah dengan masakan Aisyah.
Begitulah menurut Haidar.
♥️♥️♥️
*Sejatinya, pujian dari suami itu sangat tak ternilai harganya. Meski sepele, tapi bagi seorang istri itu sebuah kata yang tak terhingga maknanya.
Maka, sering-seringlah memberi pujian untuk pasangan kita. Insya Allah, itu bisa semakin mempererat hubungan suami istri*.
Terimakasih buat yang sudah mampir dan memberi dukungan nya🙏🙏
Jangan lupa kasih Akuuh booster ya...
caranya, dengan like dan komen cerita aku.
Biar aku tambah semangat nulisnya..🤗
__ADS_1
Semoga para reader's selalu dalam lindungan Allah SWT dan sehat selalu....
Salam sayang dari akyuu 😘