
Tengah malam aku terbangun, karena suara bising yang terus saja mengganggu tidur ku. Bel dikamar kami menginap berulang kali berbunyi. Entah orang mana yang sedang kurang kerjaan, tengah malam begini bertamu dan mengganggu istirahat seseorang. Lihat saja, besok pasti akan aku komplain.
Tubuh ku lumayan lelah setelah pergumulan panas tiga ronde bersama Aisyah. Gila gak tuh, itu doyan apa maniak. hihihi.
Dan nampaknya Aisyah juga terlihat sangat kelelahan, terbukti dia sama sekali tidak terusik dengan suara berisik bel kamar yang terus saja berbunyi.
Dengan perlahan aku turun dari ranjang supaya tidak mengusik istri ku yang sedang bobok cantik. Pakek banget. Kulirik sekilas jam yang bertengger didinding, waktu menunjukkan hampir pukul satu malam.
ck! Emang bener-bener, nih orang lagi ngelindur kali yak?! Pasti abis ini bakalan gua semprot.
Langkah kaki ku tertatih akibat rasa kantuk yang masih mendera. Dengan hati dongkol pula aku menuju pintu kamar dan segera membukanya.
ceklek~
" Elu itu kira-kira dong..." Nada suara yang semula hampir meninggi mendadak kupelankan. " Ta-ra...??" Mataku mengerjap berulang kali memastikan bahwa yang aku lihat didepanku saat ini memang betul-betul Tara mantan kekasih ku. Kejutan yang cukup membuat ku terkejut sekaligus syok.
Dari yang aku liat penampilannya sangat berantakan dan kacau. Matanya sembab dan raut wajah penuh ketakutan.
Entah apa yang sedang dialaminya.
" Haidar..." Gadis itu tiba-tiba memelukku dengan sangat erat. Bahunya bergetar hebat pertanda ia sedang menangis dan ketakutan.
Bukan maksudku untuk tidak sopan, namun dengan perlahan aku menjauh kan tubuhnya yang menempel ditubuh ku. Mengikis jarak diantara kami berdua, sebab kami bukanlah Mahram.
" Maaf Ra, ini kalo dilihat orang nggak enak apalagi kalo Aisyah sampai tau, pasti dia akan sangat cemburu. Sekali lagi maaf." Dengan sangat hati-hati aku menjelaskan nya pada Tara bahwa apa yang barusan dia lakukan sangat lah tidak pantas.
Tara hanya menunduk dan mengangguk lemah. " Maafin aku Dar, sebab aku udah ganggu kamu. hiks..hiks.." Ia kembali menangis tersedu-sedu.
Sebenarnya ada rasa tidak tega menggelayuti hatiku. Biar bagaimanapun juga wanita yang ada dihadapan ku saat ini pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan ku. Dia dulu belahan jiwa ku, separuh nafasku. Tapi karena keegoisannya, kami pun berpisah dan terpaksa mengakhiri hubungan kami. Butuh waktu yang sangat lama untukku bisa move on dari nya.
__ADS_1
Dan kini setelah aku berhasil menyingkirkan semua rasa yang telah tercipta. Kini dia hadir kembali disaat dan waktu yang tidak tepat. Andai saja, belum ada hati yang harus aku jaga perasaan nya. Mungkin saat ini aku sudah merengkuh tubuhnya yang bergetar kedalam pelukanku dan memberinya ketenangan dan kenyamanan.
" Memangnya kamu kenapa Ra? Kamu kayak orang lagi ketakutan." Tanya ku halus seraya melirik ke kanan dan kiri bermaksud untuk mencari tau apakah ada seseorang selain Tara. Ternyata dia sendirian tanpa siapapun yang menemani nya.
" A-aku diteror Dar sama Heathers. Di-dia mau bunuh aku kalo aku nggak mau nurutin kemauan nya. Ja-jadi aku keluar tanpa sepengetahuan manager aku dan asisten aku." Meskipun terbata Tara berusaha menceritakan semuanya kepada ku tentang apa yang baru saja dia alami.
Tanpa sadar aku mengepalkan tangan ku disisi tubuh ku sambil terus mengumpat pada orang tersebut. Ini yang aku takutkan sebelumnya, diantara banyaknya penggemar pasti terselip Heather yang tidak menyukai kita. Aku tidak tau kenapa aku jadi ikut merasa kesal dan kasihan dengan apa yang telah dialami Tara.
" Sudah kamu laporkan ke pihak yang berwajib Ra? Biar bagaimanapun ini kasus serius, kamu harus melaporkan nya. Jika tidak, orang tersebut pasti akan terus menerormu." Aku mencoba memberi solusi atas permasalahan yang tengah menimpa dirinya. Tapi, jawaban Tara membuatku sedikit merasa aneh.
" Eemm... itu.. kalo soal itu aku nggak berani melaporkan nya Dar. A-aku takut kalo dia semakin menjadi jika aku sampai melaporkan nya. Maka dari itu sampai saat ini aku mencoba menanganinya sendiri." Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh Tara. Aku sangat mengenalnya jauh melebihi dirinya sendiri.
Kami bersama hampir tiga tahun lamanya sebelum memutuskan untuk berpacaran kami dulu adalah sahabat semasa sekolah menengah atas. Jadi, sifat dan sikapnya aku sudah hafal betul. Saat dia sedang berbohong atau saat dia sedang berkata jujur.
" Dar.." Tara mendekat dengan raut wajah memelas.
" Ada apa?" Tanyaku datar.
Ucapan Tara membuat keningku mengernyit seketika. Maksud nya saat ini dia sedang memintaku mengantar nya kekamar nya gitu.
" Ma-" Ucapan ku terpotong karena Tara menyelanya terlebih dulu.
" Pliss Dar... aku mohon?? Kamu nggak mau kan besok pagi-pagi denger berita aku meninggal dunia?"
" Tara...!!" Entah kenapa aku merasa tidak suka mendengar Tara berbicara seperti itu.
Aku berpikir sejenak kemudian menengok kebelakang sebelum memutuskan untuk mengantarnya kembali ke kamarnya. " Oke, aku antar." Raut muka Tara berubah dengan mata berbinar setelah mendengar ucapan ku.
" Thanks Dar thanks." Mungkin karena terlalu senang Tara hampir saja ingin memelukku kembali tapi dengan cepat aku mencegah nya.
__ADS_1
" Ops! Sorry aku refleks, karena kamu masih mau peduli sama aku. Aku terlalu senang Dar. Makasih banget makasih."
" It's oke ngga' masalah, tapi jangan dibiasakan peluk-peluk seseorang."
" Iya "
Dan akhirnya aku mengantar Tara kembali kekamar nya. Itupun aku sengaja tidak meminta izin Aisyah terlebih dahulu. Aku takut kalo dia merasa cemburu dan terluka. Jika dia tau kalo aku masih perduli dengan mantan kekasih ku.
_
" Masih jauh Ra? Dari tadi kok nggak sampek-sampek?" Tanyaku sambil terus menyusuri jalan yang ditunjukkan oleh Tara.
Kami saat ini berada diluar resort tempat ku menginap. Aku pikir Tara menginap di tempat yang sama dengan ku. Jadi dia bisa tau dimana tempat ku berada. Ternyata dugaan ku keliru. Tempat nya menginap berada disebelah resort penginapan ku.
" Sebentar lagi kok Dar, itu tempatnya." Sahutnya sambil menunjuk kearah bangunan yang menjulang tinggi beberapa centi dari tempatku berdiri saat ini.
" Kamu tinggal di apartemen? Bukan dihotel?" Aku pikir Tara menginap dihotel ternyata dia tinggal di apartemen.
" Iya, kebetulan produser yang nawarin aku iklan adalah pemiliknya. Jadi dia ngasih satu unit apartemen sebagai bonus. Katanya dia sangat berterima kasih karena aku udah mau jadi bintang iklan yang disponsori oleh dia. Dan udah rela jauh-jauh kesini. Kamu kan tau sendiri, aku udah tinggal di L.E dan menetap disana."
Aku merasa waow mendengar penuturan Tara. Berati honornya sebagai model profesional tidaklah sedikit. Bahkan sampai dikasih apartemen dengan cuma-cuma sama produsernya.
" Tapi kamu nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh kan Ra sama produser itu?" Bisa-bisanya aku malah mencurigai Tara melakukan hal aneh-aneh diluar pekerjaan nya sebagai model.
Tara hanya tertawa menanggapi pertanyaan konyol ku itu. " Hahaha.... ya nggak lah Dar! Emangnya aku model plus-plus yang nyari sampingan jadi simpenan om-om." Kelakarnya sambil menepuk bahuku sekilas.
" Iya kali kamu udah berubah jadi cewek seperti itu. Cuma gara-gara pengen dapetin popularitas kamu sampai rela menjual diri kamu."
_
__ADS_1
_