
Mataku mengerjap perlahan saat sinar matahari mulai terasa menyengat di pori-pori kulit wajahku. Memicing seraya mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul. Aku merasa ada yang aneh ketika pertama kali aku mencium aroma kamar tempat ku menginap bersama Aisyah. Sepertinya bukan aroma dari kamar ku, melainkan aroma lain dan tentunya dari kamar orang lain.
Aku menoleh kesamping dan tidak kudapati istriku Aisyah disebelah ku. Melainkan Tara mantan kekasih ku yang tengah tertidur dengan pulas nya. Namun saat aku lebih memperjelas lagi penglihatan ku mataku kian membelalak dengan jantung yang memompa begitu cepat. Pemandangan yang ada dihadapan ku saat ini bukanlah pemandangan yang layak bagi dua orang insan yang belum sah menjadi mahram.
Berjengit mundur sampai aku terjatuh dari ranjang tidur. " Argh!" Rasanya kepalaku berdenyut sangat sakit.
" Astaghfirullah!" Lagi-lagi aku dibuat syok dengan penampilan ku saat ini. Aku tidur tanpa mengenakan sehelai benangpun yang menutupi tubuh ku.
" I-ini? Nggak! Nggak mungkin!" Teriakkan ku rupanya mengganggu Tara yang masih tertidur.
Gadis itu bangun dengan santainya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa pada kami. Dan aku berharap juga seperti itu.
" Haidar? Kok kamu bisa ada disitu sih? Kamu jatuh?" Tara mencoba mendekati ku dan berniat menolong ku. Tapi dengan lantang aku kembali berteriak dan meng-interupsinya supaya jangan mendekat.
" Stop disitu Ra! Jangan mendekat ke arah ku, kita bukan muhrim!" Titah ku tegas seraya mencoba mencari-cari keberadaan pakaian ku yang semalam aku pakai.
"Ketemu!" Aku pun segera mengenakan kaos yang ternyata sudah teronggok dilantai bawah ranjang. Setelah itu aku beranjak dari tempat itu menuju kamar mandi dengan selimut yang masih kupegang dengan erat supaya menutupi bagian bawah tubuh ku yang sama sekali tidak mengenakan apapun.
__ADS_1
Tentunya aku juga memunguti celanaku yang tercecer di lantai kamar tersebut. Meninggalkan Tara yang masih membeku diatas ranjang tidur nya karena keterkejutannya. Mungkin ia baru pertama kali ini melihatku begitu marah.
Selama kami menjalin hubungan, sekalipun aku tidak pernah membentak atau marah padanya. Aku selalu bersikap lembut dan sangat menyayangi gadis itu. Namun keadaan kami saat ini yang tidak mengenakkan sehelai kain pun dan tidur dalam satu ranjang benar-benar membuat naik darah. Aku benar-benar marah kepada diriku sendiri, bisa-bisanya aku melakukan hal sehina ini sedangkan statusku adalah seorang suami dari wanita lain. Wanita yang begitu baik dan penyabar, wanita yang sangat mencintai ku begitupun aku yang sangat mencintainya.
" Aarrghh!!!" Didalam kamar mandi aku berteriak sekencang-kencangnya. Membayangkan wajah Aisyah yang pastinya akan terluka jika sampai ia mengetahui kelakuan bejatku ini.
" Maaf Aisyah maaf..." Meremas rambut dan mengusap wajahku dengan kasar. Mataku memanas seketika, nafas ku mulai tercekat di tenggorokan. Rasa sesak tiba-tiba menyeruak menghimpit dadaku. Sekalipun aku tidak pantas mendapatkan maaf dari Aisyah. Dosa yang ku perbuat benar-benar telah menodai kesucian pernikahan kami.
Mirisnya lagi, pernikahan yang bahkan baru kami bangun pondasinya. Kini harus runtuh karena kesalahanku sendiri. Harusnya semalam aku berpikir dua kali saat Tara memintaku untuk mengantarnya ke penginapan miliknya. Atau aku seharusnya tidak usah memperdulikan nya lagi. Mengingat kami sudah tidak memiliki hubungan apapun.
Brengsek!!! Bajingan kau Haidar!!
Sebutan itu mungkin memang pantas disematkan pada diriku saat ini. Pria brengsek yang meniduri mantan kekasih nya disaat statusnya sudah menjadi seorang suami. Sialan!!
Aku terus saja mengumpat diriku sendiri, memaki hingga tanpa sadar aku memukul kaca dihadapan ku.
Prang!!
__ADS_1
Seketika kaca itu retak lalu kemudian pecah, dan itu mengundang perhatian dari Tara yang berada diluar.
" Haidar!! Ka-kamu baik-baik aja kan? Aku mohon jangan sakiti diri kamu sendiri, plisss...kita bicarakan ini baik-baik." Tak kuhiraukan ocehan Tara yang berada dibalik pintu sambil terus menggedor nya berulang.
Terdengar dari nada bicaranya yang sangat khawatir. Samar-samar aku mendengar isakannya dari balik pintu.
Seolah menulikan telinga, saat ini aku tidak ingin memperdulikan nya lagi. Aku masih tidak bisa mengendalikan emosi ku, aku hanya takut tidak bisa menahan diri untuk tidak menyakiti nya. Lebih baik aku memilih diam disini untuk sementara waktu sampai keadaanku benar-benar kembali tenang.
Aku meringkuk lemah layaknya orang yang kehilangan kesadaran. Bahkan darah segar yang menetes dari sela-sela jari ku kubiarkan begitu saja. Rasanya mungkin sakit, tapi jika dibandingkan dengan rasa sakit yang harus dirasakan Aisyah ketika tahu kabar ini, semua rasa sakit ini tak ada apa-apanya.
Pria brengsek seperti ku memang patut mendapat kan ini. Tak bisa menjaga kepercayaan satu orangpun. Jika Bang Haikal masih hidup ia pasti sangat marah dan kecewa padaku, karena tidak bisa memenuhi janji untuk selalu membahagiakan Aisyah.
"Maafin Haidar Bang, Haidar ngga bisa pegang janji Haidar ke Abang. Haidar pria brengsek! Haidar udah nyakitin hati Aisyah. Haidar udah ngancurin kepercayaan nya." Terserah jika dunia mau menyebutku sebagai laki-laki cengeng, karena menangisi hal yang sudah terlanjur terjadi.
Aku tergugu menyesali perbuatanku yang entah dengan sengaja atau tidak aku melakukannya. Meraung seperti anak kecil yang kehilangan mainan nya.
***
__ADS_1