Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
AISYAH ISTRIKU YANG 'NACHAL'


__ADS_3

Cuaca malam ini begitu mendukung. Rupanya hujan ingin turut menemani sepasang suami istri itu memadu kasih. Padahal jarum jam masih menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, itu tidak menyurutkan keinginan Haidar yang telah tertahan sejak kemarin.


Ya, sewaktu di rumah Aisyah, Haidar gagal melaksanakan Sunnah Rasul yang biasa ia lakukan setiap malam Jum'at.


Tetapi hari ini ia harus melaksanakan kewajibannya itu dan menuntaskannya malam ini.


Haidar membawa tubuh mungil Aisyah ke atas peraduan dengan hati-hati ketika sampai di dalam kamar mereka. Mengganti lampu kamar dengan lampu tidur yang bercahaya temaram.


Haidar duduk di pinggir ranjang sembari menatap wajah Aisyah yang terlihat sangat cantik bila malu-malu seperti ini.


Tangannya terjulur, menyentuh sisi wajah Aisyah yang juga menatapnya.


"Sayang..." Haidar mengecup pipi Aisyah yang telah memanas lantaran desiran darahnya semakin menjalar hingga ke pipi mulus itu.


Tatapan sayu keduanya seolah menandakan jika sekarang ini mereka benar-benar saling membutuhkan.


Bibir Aisyah terkatup sempurna, rasa gugup tiba-tiba melandanya malam ini. Padahal ia sudah sering melakukannya dengan Haidar. Tetapi, malam ini sungguh berbeda rasanya. Aisyah baru tahu jika suaminya itu memiliki sisi yang lain.


Entah kenapa Aisyah merasa bila Haidar tidak seperti biasa. Perlakuannya sejak di bawah tadi, sama sekali tidak pernah Aisyah bayangkan sebelumnya.


Seperkian detik berlalu, Aisyah dapat merasakan benda kenyal nan hangat menyapu kening dan puncak kepalanya. Kelopak mata Aisyah refleks terpejam, meresapi suara Haidar yang terdengar samar-samar tengah melafalkan niat bersenggama.


"Sudah siap?" tanya Haidar dengan suaranya yang terdengar parau dan berat. Lelaki itu menghujani wajah Aisyah dengan kecupan-kecupan manis, hingga sang empunya terkekeh geli.


"Haidar..." Aisyah menahan wajah Haidar yang hendak mendarat di lehernya.


Sontak Haidar menjauhkan wajahnya lalu bertanya,


"Ada apa?" Bola mata Haidar menelisik Aisyah yang tampak ingin mengatakan sesuatu tapi ragu-ragu.


"emm, kali ini biar aku yang melayanimu...." lirih Aisyah seraya menggigit bibirnya sendiri guna menyingkirkan rasa malu yang teramat sebab ucapannya yang terkesan na-kal.


Haidar mengangkat satu alisnya diiringi seringai di bibir.


Aisyah yang biasa hanya menurut dan pasrah kini menawarkan diri untuk melayaninya di atas ranjang. Itu sesuatu yang di luar dugaan—pikir Haidar.


"Yakin?" tanya lelaki itu, tanpa sepengetahuan Aisyah rupanya ia sudah membuka kancing piyama wanita itu satu persatu.


Aisyah mengangguk sembari mengusap pipi Haidar lalu mengecupnya.


"Yakin." ucapnya dengan tatapan mata yang tak terbaca.


Biarlah malam ini ia yang melayani Haidar. Tidak ada larangan bukan istri yang memimpin permainan. Kendati jantungnya mulai tak bisa diajak berkompromi.

__ADS_1


'Aku pasti bisa dan harus bisa melakukannya.' Begitulah hati Aisyah menyeru.


Di detik selanjutnya, posisi keduanya telah berubah. Haidar berada di bawah Aisyah yang telah polos dan kini dengan lihai sedang membuka satu persatu kancing piyama tidur yang masih melekat di tubuhnya.


Haidar menatap Aisyah yang berada di atasnya tanpa berkedip sedikit pun. Kecantikan Aisyah memang tidak ada duanya.


Jemari Aisyah mulai beraksi, menyentuh, meraba dan membelai. Haidar merasakan sensasi yang lain dari sentuhan tangan istrinya yang berubah na-kal dan li-ar.


Memanjakan semua anggota tubuh miliknya tanpa ada yang terlewat satu pun. Haidar pasrah, membiarkan Aisyah bermain-main di bawah sana untuk waktu yang cukup lama. Jelas sekali jika pria itu begitu menikmati setiap sapuan dan sentuhan lidah Aisyah.


"Sayang..." Suara lenguhan itu pun lolos begitu saja dari bibir Haidar yang mulai tak terkendali dengan permainan yang disuguhkan Aisyah.


Entah belajar dari mana istrinya itu, sehingga mampu membuatnya melayang seperti ini. Lembut dan hangat itulah yang Haidar rasakan di bawah sana.


Aisyah merangkak naik lalu ganti mengecup bibir Haidar yang sedikit terbuka.


"Sayang..." lirih Aisyah dengan suara yang terdengar mendayu menggelitik rongga telinga Haidar.


Kelopak mata yang semula terpejam kini terbuka sempurna. Pemandangan indah langsung tersuguh di depan mata Haidar. Wajah Aisyah memerah dengan deru napas yang terdengar putus-putus.


Telapak tangan Haidar refleks mengelus rambut Aisyah dan mendaratkan kecupan di bibirnya yang merekah.


"Kenapa, hem?" tanyanya.


"Lanjutkan, Sayang... Aku suka permainanmu," ucap Haidar yang seolah tahu apa yang dipikirkan istrinya itu.


Kepala Aisyah sontak mendongak, sorot matanya memancarkan binar kebahagiaan.


"Benarkah?"


Haidar hanya mengangguk sambil mengusap bibir Aisyah dengan ibu jarinya.


Pernyataan Haidar tentu membuat semangat Aisyah yang ingin melayani suaminya menjadi semakin berkobar.


Tanpa malu-malu lagi Aisyah menuntun Haidar yang kembali pasrah dengan permainannya untuk duduk bersandar di kepala ranjang.


Mungkin Aisyah ingin melakukan gaya women on top— pikir Haidar.


Aisyah memimpin permainan malam ini dengan gaya yang terduga. Wanita itu benar-benar membuat Haidar hampir gila dengan semua perlakuannya. Aisyah begitu lincah bergerak maju mundur dengan ritme yang sedang namun memabukkan. Hingga beberapa menit kemudian Haidar merasakan miliknya terasa hangat seiring tubuh Aisyah yang bergetar dan suara lenguhan panjang lolos dari bibirnya yang mungil.


Di detik berikutnya Haidar menyusul dengan suara lenguhan yang tak kalah panjang dan terdengar seksi.


Dengan napas yang terdengar memburu dan tersengal, Aisyah menjatuhkan tubuh berpeluhnya di atas dada bidang Haidar.

__ADS_1


Pria itu tersenyum kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Aisyah lalu ia mengecup kening istrinya yang nampak kelelahan itu dengan hangat dan perasaan membuncah.


"Terima kasih, Sayang.... Untuk pelayananmu malam ini," ucapnya seraya mengeratkan pelukannya di pinggang Aisyah.


Aisyah hanya mengangguk dalam dekapan Haidar dengan mata terpejam. Senyum kepuasan terbit di bibirnya. Akhirnya ia bisa menyempurnakan tugasnya sebagai seorang istri untuk pertama kali.


Memuaskan Haidar di atas ranjang. Terdengar konyol memang. Tetapi, ini sesuatu yang paling membanggakan bagi dirinya.


Mungkin setelah ini Haidar tak lagi men-cap dirinya sebagai istriku yang polos dan mengganti sebutannya menjadi istriku yang nakal.


🌼🌼🌼🌼


Suara adzan subuh telah berkumandang dengan indahnya tepat pukul 04.15 pagi. Haidar yang semula terlelap seketika terbangun dan melirik ke samping di mana Aisyah masih terlelap dengan pulasnya di atas lengannya.


Senyuman bahagia terbit dari bibirnya manakala mengingat kejadian semalam. Setelah Aisyah melayaninya, ia pun tidak mau kalah. Alhasil akibat perbuatannya Aisyah kelelahan dan langsung tertidur ketika Haidar menuntaskan permainan keduanya.


"Aisyah istriku yang na-kal," Haidar menjawil hidung mbangir Aisyah lalu mengecupnya hingga membuat sang empunya yang masih terlelap menggeliat kala tidurnya terusik.


Kelopak mata Aisyah bergerak-gerak lalu terbuka secara perlahan.


"Haidar..." gumamnya dengan suara terdengar serak.


Haidar segera menampilkan senyum termanis yang selalu mampu menggetarkan hatinya.


"Morning... istriku yang... nakal." Haidar mengecup sekilas bibir Aisyah yang tersipu malu karena julukannya yang baru. "Oh, iya. Mulai hari ini kamu jangan memanggilku dengan nama saja. Aku suka kamu yang memanggilku dengan sebutan Sayang..."


Haidar beringsut maju lalu berbisik di telinga Aisyah,


"Seperti semalam." sambungnya lagi dan sontak disambut dengan cubitan di perutnya.


"Haidar... jangan begitu. Aku malu, tau?!" Aisyah menutupi wajahnya dengan selimut. Ia benar-benar merasa malu dengan kejadian semalam.


Haidar terkekeh. "Malu-malu tapi liar juga, ahay!" Pria itu segera berlari menuju kamar mandi sebelum mendapat amukan dari istrinya lagi.


"Haidar!!!" teriak Aisyah dari dalam selimut.


_


_


_


cie... cie... yang udah mulai berani nachal!! 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2