Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
Menginap di rumah Aisyah


__ADS_3

"Kabar kamu gimana, Syah? Baik-baik saja kan?" Aisyah mengangguk samar menanggapi pertanyaan dari Umi Maryam. "Kamu masih minum obatnya, kan?" imbuh Umi lagi.


Beberapa menit yang lalu mereka tiba di rumah Abi Yusuf dan Umi Maryam. Saat ini mereka tengah berbincang di ruang tamu.


Kemudian Aisyah kembali mengangguk sambil berkata.


"Masih Umi. Aisyah nggak pernah telat minum obat. Kami udah nggak sabar pengen cepet-cepet punya anak," Raut wajah Aisyah seketika menyendu, membahas soal anak membuat hatinya terasa sakit.


Bagaimana tidak. Setelah Rena mengatakan bahwa dirinya mengalami kelainan pada darahnya yaitu pengentalan darah hingga membuatnya agak sulit untuk mengandung. Aisyah merasa dirinya kurang beruntung, sebab ia begitu menginginkan untuk memiliki momongan.


Melihat istrinya sedih Haidar lantas menenangkan Aisyah. Di genggamnya erat tangan wanita yang sudah ia nikahi selama empat bulan ini.


Umi Maryam menatap putrinya dengan nyalang, ia merasa bersalah karena sudah menanyakan sesuatu yang hanya membuat putri satu-satunya itu bersedih. Sebagai seorang Ibu, beliau bisa mengerti perasaan yang dirasakan Aisyah sekarang ini.


Tiba-tiba Abi Yusuf bersuara memecah keheningan yang sempat melanda. Akibat pertanyaan sang istri yang membuat putrinya bersedih.


"Lebih baik kalian pulang besok saja. Sudah sangat larut bila kalian pulang sekarang. Sekali-kali menginap lah di sini,"


"Iya Nak. Kalian menginap saja di sini semalam. Toh, ini rumah kalian juga. Umi selalu membersihkan kamar Aisyah setiap hari, kalian nggak perlu khawatir," Umi Maryam turut menimpali perkataan Abu Yusuf.


Haidar yang merasa tidak enak akhirnya menyetujui permintaan mertuanya. Lagi pula tidak ada salahnya kan menginap di rumah istrinya.


"Baiklah, kami berdua akan menginap di sini. Gimana Syah? Kamu setuju, kan?"


Aisyah mengangguk,


"Aku setuju aja. Aku juga masih kangen sama Umi dan Abi," pungkas Aisyah. Kesedihan yang sempat melandanya sudah tidak nampak lagi.


Abi Yusuf dan Umi Maryam tersenyum bersamaan. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu dengan Aisyah, terakhir sekitar tiga minggu yang lalu.


"Lebih baik kalian langsung istirahat saja di kamar. Nanti Umi akan pinjemin baju Abi buat Haidar pakai. Kebetulan kemarin sempat beli baju tapi agak kekecilan." kata Umi Maryam sembari mengulum senyum dan melirik sekilas ke arah suaminya.


Aisyah dan Haidar lantas segera pamit menuju kamar Aisyah yang berada di lantai atas.


"Kalo gitu kami naik duluan ya, Mi, Abi," ucap keduanya bersamaan.


Abi dan Umi juga mengangguk bersamaan.


-


-


"Ini kamar kamu, Syah?" Haidar bertanya kepada Aisyah setelah sampai di kamar atas.


Aisyah yang tengah merapikan tempat tidurnya pun menjawab, "Iya, ini kamar aku sejak aku berumur 10 tahun," Haidar tertegun sejenak mendengar jawaban istrinya.


Ia lantas mendekat ke arah Aisyah lalu memeluknya dari belakang, "Kamu serius? Umur 10 tahun baru tidur sendiri?" Meletakkan dagunya ke ceruk Aisyah sambil terus mengendusnya.


Aisyah menggeliat seraya menjawab, "Serius lah, emangnya kenapa? Kok kamu kayak nggak percaya gitu sama aku?" Fokusnya sedikit buyar sebab Haidar mulai menyentuh bagian-bagian favoritnya.

__ADS_1


"Ya... aneh aja. Masa selama 10tahun kamu tidur bareng sama orang tua kamu," Haidar mulai membuka penutup kepala Aisyah perlahan, mengendus wangi rambut milik Aisyah yang menyeruak di indera penciumannya.


Aisyah mengangguk sambil menahan gelenyar-gelenyar aneh yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya. Sikap Haidar membuat suhu tubuhnya mendadak meningkat. Haidar selalu bisa membuatnya meremang panas dingin.


Pergerakan Haidar terhenti sesaat, ia lantas membalikkan badan Aisyah supaya menghadapnya, "Berarti kamu tidur di tengah-tengah Umi dan Abi selama 10 tahun itu?" rupanya Haidar masih tidak percaya dengan perkataan Aisyah.


Kening Aisyah mengernyit, "Ya enggak dong. Aku emang tidur satu kamar sama Umi dan Abi tapi aku tidur di ranjang sendiri. Dulu itu kamar mereka cukup luas jadi bisa buat naruh ranjang tidur punyaku. Ya kali Dar, aku tidur bareng mereka, kamu ini ...," papar Aisyah menjawab semua rasa penasaran suaminya yang saat ini malah tertawa.


"Ya kan aku nggak tau sayang. Aku pikir istriku ini jadi pengganggu orang tuanya setiap malam, soalnya masih bobok bareng mereka," Haidar mencibir Aisyah yang ternyata dulu begitu manja.


"Aku juga tau diri dong, Dar. Kamu kan tau sendiri aku itu phobia gelap. Aku nggak bisa tidur sendiri dan nggak berani kalo tiba-tiba lampu mati atau semacamnya. Jadinya ya... mereka nyuruh aku buat tidur di kamar bareng." Aisyah memberenggut kesal, ia sebal Haidar malah menertawai dirinya.


Haidar lalu mengajak Aisyah untuk duduk di pinggir ranjang seraya membelai surai panjang istrinya itu.


"Iya-iya aku ngerti, aku tau kalo kamu itu emang phobia sama gelap. Makanya waktu di rumah pas tiba-tiba listrik mati, kamu semaleman meluk aku kenceng banget. Kamu tau nggak kalo aku tersiksa banget Syah sama tingkah kamu waktu itu," Bibir Haidar menyeringai penuh arti. Ia hendak menggoda Aisyah yang terlihat begitu polos. Sangat lucu menurutnya.


Menoleh ke arah Haidar dengan alisnya yang menaut, Aisyah kemudian bertanya.


"Kok kamu nggak bilang waktu itu sama aku? Kan, aku bisa sedikit mengurangi nya, Dar. Nafas kamu pasti sesek banget ya waktu itu?"


Haidar terkekeh mendengar pertanyaan polos Aisyah, istrinya itu masih belum menyadari arah pembicaraan mereka.


"Nggak cuma nafas aku Syah yang sesek, celana aku juga sesek," Haidar berbisik lirih ditelinga sang istri yang masih menatapnya dengan tampang polos.


Aisyah beringsut mundur dengan dahi yang berkerut, "Kok bisa? Emangnya kenapa? Mungkin celana kamu yang kekecilan kali, jadinya kamu ngerasa sesek," lihatlah ekspresi muka Aisyah yang betul-betul kelewat polos.


Haidar menepuk jidatnya sendiri, istrinya itu sudah dewasa bahkan lebih dewasa darinya. Tetapi, dalam urusan yang satu itu Aisyah betul-betul masih awam.


"Kamu itu polos banget sih sayang ...," Haidar mencium sekilas bibir Aisyah.


"Polos gimana sih? Kan kamu bilang kalo celana kamu juga ngerasa sesek, ya kan kemungkinan emang celana kamu yang kekecilan. Terus salahnya dimana coba? Kamu mah aneh ..." Masih saja merasa benar dan belum sepenuhnya mengerti maksud suaminya.


"Bukan celananya yang kekecilan Aisyah ..." Haidar menjadi gemas dibuatnya.


"Terus apa dong?" Masih memasang muka polos.


"Celanaku sesek soalnya junior ku bangun, Syah. Bukan celananya yang kekecilan," jelas Haidar akhirnya.


Aisyah hanya melongo mendengarnya. Otaknya masih mencerna ucapan Haidar. Setelah ia menyadari apa maksud suaminya itu, Aisyah lantas tertawa.


Melihat istrinya yang malah tertawa membuat Haidar berdecak, "Kok malah ketawa sih?" Aisyah semakin tergelak.


"Jadi waktu itu kamu horny ya? Kenapa nggak bilang? hahaha ....," Aisyah kembali terbahak, matanya bahkan sampai berair.


"Kalo aku bilang emang kamu mau ngasih?" Haidar bersungut-sungut dengan dahi yang terlihat berkerut. Perkataan Aisyah malah membuatnya seperti orang bodoh.


Aisyah menghentikan tawanya, ia lalu menyahut dengan santainya. "Ya aku akan kasih dong, Dar. Kan itu udah jadi kewajiban aku sebagai istri kamu. Kapan pun suami aku minta aku harus siap melayaninya,"


"Tapi, kan, waktu itu kita baru akan memperbaiki hubungan kita, Syah. Aku takut kalau kamu akan nolak, jadinya aku nggak berani buat bilang sama kamu." Aisyah mengulum senyum mendengar penuturan Haidar yang ternyata selama ini begitu menghormati dan mengerti dirinya.

__ADS_1


Aisyah lantas memeluk Haidar dengan erat, "Maafin aku ya, Dar. Sebagai istri aku ngerasa nggak berguna waktu itu, karena udah biarin suamiku merasa tersiksa menahan hasratnya sendiri," Lirih Aisyah menyesali dirinya yang dulu lantaran tidak peka dengan keadaan waktu itu.


Sudut bibir Haidar tertarik, penyesalan Aisyah membuat hatinya tersentuh. Haidar lalu mengusap punggung Aisyah pelan sambil berujar.


"Aku nggak pernah mempermasalahkan soal itu, Syah. Aku cuma mau menghormati keputusan kamu, makanya aku nggak bilang sama kamu. Lagi pula aku nggak mau maksa kamu buat melayaniku disaat hubungan kita baru saja membaik. Rasa cinta juga belum tumbuh dihati kita masing-masing pada saat itu. Ya ... walaupun aku harus merasa tersiksa semalaman karena hasrat yang nggak bisa aku salurkan. Tapi itu nggak masalah buat aku soalnya sekarang aku bisa menyalurkan nya kapanpun aku mau, karena kita sudah bisa saling menerima diri kita masing-masing. Kita juga sudah saling mencintai, iya nggak? hem?"


Aisyah langsung menarik tubuhnya dari dekapan Haidar, "Maksud kamu?" matanya memicing tajam ke arah Haidar.


Haidar hanya menaik turunkan kedua alisnya.


"Ya ... kamu tau lah nggak usah aku jelasin secara detail juga."


"Jangan bilang kalo sekarang kamu lagi ...?"


Haidar mendekat ke arah Aisyah lalu berbisik, "Aku udah horny ...," mengecup telinga Aisyah lalu mengendus leher jenjang Aisyah yang begitu harum.


"Dar ...," Tubuh Aisyah kembali meremang karena perlakuan Haidar yang masih mengendus aroma tubuhnya dengan rakus bahkan sudah meninggalkan jejak kissmark di sana.


"Aku ... mau kamu malam ini, Syah," bisik Haidar sekali lagi, suaranya sudah terdengar parau dan berat. Tatapan matanya juga mulai sayu, deru nafas Haidar yang hangat menerpa tengkuk Aisyah yang sudah semakin terlena.


Sesaat keduanya saling menatap lalu saling mengunci pandangan. Perlahan namun pasti tangan Haidar meraih tengkuk Aisyah dan membenamkan bibirnya ke bibir Aisyah yang selalu terlihat menggoda. Mata Aisyah terpejam saat Haidar mulai memperdalam pagutannya, dan semakin berhasrat untuk mengecapnya. Naluri Aisyah menuntunnya untuk mengalungkan tangannya ke leher Haidar supaya mereka bisa saling memagut lebih dalam lagi.


Namun di saat suasana semakin terasa panas tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari luar.


tok...tok...


Pagutan keduanya seketika terlepas dengan kening yang saling menempel.


"Kenapa harus ada gangguan sih?" ucap Haidar dengan nafas yang masih terdengar memburu.


Aisyah hanya mengulum senyum, "Mungkin itu Umi. Biar aku bukain pintu dulu," Aisyah bergegas berdiri namun Haidar langsung menghentikan langkah Aisyah.


"Tunggu Syah. Pakai dulu kerudung kamu, buat nutupin leher kamu itu. Aku nggak enak sama Umi." Aisyah mengangguk lalu mengenakan jilbabnya dan bergegas membuka pintu.


ceklek~


"Iya, Umi." tanya Aisyah sesaat melihat Umi Maryam yang sudah berdiri di depan pintu dengan membawa beberapa baju.


Umi Maryam mengulas senyum tipis lalu menyerahkan baju yang di bawanya kepada Aisyah. "Maaf, Umi ganggu ya?" Aisyah menggeleng cepat. "Umi cuma mau ngasih ini buat Haidar, biar dia bisa ganti baju." Aisyah mengangguk lalu menerima baju itu.


"Makasih ya, Umi. Aisyah malah ngerepotin Umi."


Umi Maryam mengusap lembut wajah putrinya itu, "Santai saja, Syah. Umi seneng kamu mau nginep di sini. Umi kangen sama anak Umi yang solehah ini," Umi Maryam memeluk Aisyah dengan mata berkaca-kaca. Beliau baru sadar kalau ternyata putri kecilnya sudah menjadi seorang istri.


"Aisyah juga kangen sama Umi. Maafin Aisyah ya, Mi. Selama Aisyah nikah Aisyah jadi jarang nengokin Abi sama Umi," Netra Aisyah juga ikut mengeluarkan cairan bening. Ia merasa sedih lantaran belakangan ini jarang memperhatikan kedua orangtuanya.


_


_

__ADS_1


_


__ADS_2