Menikahi Calon Kakak IparKu

Menikahi Calon Kakak IparKu
Autoimun


__ADS_3

Aisyah lantas kembali masuk kedalam kamar setelah Umi Maryam pergi. Ia mengunci pintu lalu menghampiri Haidar yang sudah merebahkan diri sambil memejamkan mata.


"Sayang ... kamu udah tidur, ya?" tanya Aisyah sambil mendudukkan dirinya di samping Haidar yang tak bergeming sedikitpun. Ia lalu meletakkan baju pemberian Umi tadi di atas nakas. "Sayang ....,' panggil Aisyah sekali lagi. Ia menyentuh wajah Haidar lalu mengusap-usap lembut pipi tirus berjambang halus tersebut.


'Ganteng ...,' batin Aisyah bermonolog sendiri sembari mengulum senyum di bibirnya yang ranum. Netranya menatap kagum, menikmati keindahan pahatan sempurna ciptaan Tuhan yang satu ini. Haidar Permana lelaki yang sudah mencuri hatinya selama beberapa bulan terakhir. Imam sekaligus pemimpin keluarga kebanggaannya.


grep!


Aisyah terlonjak kaget sebab tiba-tiba saja Haidar menarik dan memeluk erat tubuhnya. Alhasil, mereka kini sudah saling menatap dengan jarak yang sangat dekat. Bisa dibilang, Aisyah berada di atas tubuh Haidar.


Mata Aisyah melotot tajam ke arah sang suami yang malah menyeringai lebar dengan tatapan begitu menggoda. "Haidar, lepasin aku, ngga!" Aisyah meronta supaya Haidar melepas lilitan tangannya di pinggang rampingnya.


Haidar menggeleng cepat, "No ... no ...! Nggak bisa! Salah kamu sendiri udah bangunin macan tidur. Sekarang, kamu harus tanggung jawab," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Aisyah yang meronta. Haidar lantas menarik tengkuk Aisyah, "Kita lanjutin yang sempat tertunda tadi, ya ...? Nanggung ini ... emang kamu nggak berasa?" bisik Haidar di telinga Aisyah yang kini membeku di atas tubuhnya.


Perempuan berusia 29 tahun itu hanya melongo dengan ekspresi muka menggemaskan. Matanya yang bulat dan berbulu lentik itu mengerjap-ngerjap. Aisyah masih mencerna apa yang diucapkan sang suami barusan.


Haidar yang merasa gemas lantas mencium pipi mulus Aisyah yang bersemu kemerahan.


Ia yakin kalau istrinya masih belum faham dengan apa yang ia katakan. Mengingat kepolosan yang dimiliki sang istri terkadang membuatnya harus lebih sedikit agresif.


"Sayang ... tangan kamu coba deh meraba ke bagian bawah sana. Pasti kamu langsung ngerti," kata Haidar pada Aisyah yang masih terlihat bingung.


"Ba-bawah? Maksutnya yang ...?" Aisyah menelan salivanya susah payah saat sang suami mengangguk sambil tersenyum tipis dan tatapan semakin menggoda.


Tangan Haidar meraih tangan Aisyah yang berada di dada bidangnya. Kemudian ia menuntun tangan itu untuk menyentuh ke pusat tubuhnya yang sudah menegang sejak tadi.


Sontak mata Aisyah membelalak lebar, "I-ini ...?"


Haidar mengangguk sekali lagi. "Kamu nggak kasian apa sama dia? Udah seminggu kamu nggak ngasih jatah ke dia. Rasanya udah nggak tahan sayang ....," ucapan Haidar sukses membuat tubuh Aisyah meremang dan memanas seketika. Perempuan berkulit putih itu kini tersipu sekaligus malu.


"Boleh, ya?" tanya Haidar lirih.


Menggigit bibir bawahnya seraya memikirkan sesuatu, Aisyah lalu menjawab,


"emmm ... tapi ... sebaiknya kamu mandi dulu. Seperti sunah Rasul ketika hendak menggauli istrinya,"


ucap Aisyah mengingatkan soal adab suami ketika ingin menggauli istri kepada Haidar. Dan, itu langsung di sambut antusias oleh suaminya.


"Oke! Nggak masalah!"


Haidar dan Aisyah lalu bangkit dan duduk di tepian ranjang.


Aisyah mengambil baju yang ia letakkan tadi, "Ini baju kamu," lalu menyerahkan baju tersebut kepada Haidar.


"Siap cantik! Tunggu Abang, ya?" Sebelum melenggang pergi menuju kamar mandi Haidar lebih dulu mencium sekilas bibir istrinya.


Aisyah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku Haidar yang menurutnya sangat berbeda dengan Haikal.


"Dasar Haidar," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.


Terkadang... ia merasa melayang dengan sikap Haidar yang seperti itu. Namun, di sudut hatinya terselip rasa bersalah lantaran belum bisa memberikan anak untuk keluarga besar mereka. Bukan karena Aisyah tidak bisa memiliki keturunan melainkan karena ada kelainan dalam tubuhnya.


Ucapan Rena beberapa minggu yang lalu masih terngiang ditelinga Aisyah. Saat dirinya divonis mengidap pengentalan darah atau bahasa medisnya Antiphospholipid Syndrome (APS).


~Flash back on...


"Kemungkinan memiliki anak akan tertunda beberapa saat. Soalnya, Aisyah mengidap penyakit Autoimun. Yang dimana, itu merupakan salah satu penyakit yang ditandai dengan adanya antibodi terhadap bagian sel darah. Kondisi ini menyebabkan tubuh membentuk bekuan darah di berbagai tempat."

__ADS_1


ucap Rena pada waktu Aisyah dan Haidar memeriksa kondisi kesehatan mereka.


"Lalu, dampaknya buruk nggak, tuh, Ren?" tanya Haidar.


"Kalo dampak yang ditimbulkan sih ... yaitu tadi. Susah hamil, dan keguguran yang berulang." papar Rena menjelaskan.


"Kok bisa gitu?"


"Ya ... karena penyakit itu yang menyebabkan sel telur yang telah dibuahi ****** sulit melekat ke dinding rahim."


"Tapi, aku masih bisa hamil, 'kan, Ren?" Aisyah mulai berkaca-kaca. Hatinya merasa cemas dan khawatir.


Rena mengangguk, "Masih bisa, kok!" Menghela nafasnya sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya. " Jikapun hamil, bekuan darah yang terjadi akibat penyakit darah kental dapat menghambat aliran darah dari plasenta ke janin. Sehingga janin menjadi kekurangan oksigen. Dan ...,"


"Dan apa, Ren?" desak Aisyah cepat. Ia begitu tidak sabar mendengar penjelasan Rena berikutnya.


"Dan pada akhirnya, proses ini akan menyebabkan terjadinya keguguran."


tes...


Cairan bening yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk mata langsung luruh seketika. Aisyah menangis. Kenyataan yang baru saja ia dengar begitu menyakitkan. Apalagi bagi seorang istri.


Haidar segera merangkul pundak Aisyah yang bergetar naik turun. "Tenanglah, sayang. Pasti kita bisa punya anak. Iya, 'kan, Ren?" tanya Haidar yang juga ikut merasakan kepiluan di hati istri tercintanya.


"Iya, Syah. Kamu tenang aja. Kamu itu masih bisa hamil, kok! Asal kamu rajin minum obat pengencer darah."


Tangisan Aisyah berhenti seketika, "O-obat?"


Rena mengangguk, "Iya,"


"Obat apa itu, Ren? Kamu punya?" Haidar bisa sedikit bernafas lega. Semoga ini jalan dari Allah.


"Emangnya harus ngapain, Ren?" tanya Haidar sambil mendengus pelan.


"Aisyah juga harus menjalani terapi,"


Keduanya segera mengangguk mengerti.


"Jadi, kalian nggak usah khawatir. Kalian akan tetep bisa punya anak. Asal kalian mau bersabar dan ikhtiar." pesan Rena dengan bijak. Ia sebetulnya juga merasa kasian pada Aisyah. Sebisa mungkin ia membantu pasangan itu. Walau kemungkinannya sangat kecil. Sebagai manusia kita hanya bisa berencana bukan(?)


Selebihnya, Allah yang menentukan.


~Flash back off...


Aisyah berjengit saat tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Aroma harum dan segar langsung menyeruak masuk ke indera penciumannya.


"Ngelamunin apa, sih? Sampe-sampe nggak nyadar kalo aku udah selesai mandi," Haidar meletakkan kepalanya di ceruk leher Aisyah yang masih tertutup hijab.


"A-aku cuma lagi keinget omongannya Rena," Aisyah menyahut dengan wajah menyendu.


Menghela nafas, Haidar lantas membalikkan badan Aisyah supaya bisa menghadapnya.


"Kamu masih mikirin itu?" tanya Haidar sembari mengecupi punggung tangan Aisyah bergantian. Kemudian mengecup lama kening wanita yang sangat ia cintai itu.


"Bagaimana aku nggak kepikiran itu. Aku ini wanita yang nggak sempurna, Dar. Aku nggak bisa ngasih kamu anak," Netra berwarna hitam pekat itu memerah dan memanas. Dada Aisyah kembali terasa sesak.


"Sssttt ..." Haidar menempelkan telunjuknya di bibir Aisyah. "Kamu nggak boleh mendahului kehendak Allah. Bukannya Rena udah bilang, ya, kalo kamu masih bisa punya anak. Asal kamu terus minum obat pengencer darah dan rutin terapi." Menarik kembali telunjuknya dan beralih mengusap lembut sisi wajah Aisyah.

__ADS_1


Aisyah berdehem samar guna mengurangi rasa sesak yang begitu menghimpit rongga dadanya. "Bukannya aku mau mendahului kehendak Allah. Aku cuma takut, kalo aku nggak bisa sembuh." Cairan bening itupun akhirnya lolos tanpa permisi menyusuri wajah sendunya.


Haidar lantas menyeka air mata Aisyah dengan kedua ibu jarinya. "InsyaAllah kamu pasti sembuh. Kalau pun nggak, aku juga nggak masalah, kok! Mau kamu punya anak apa enggak. Buat aku itu nggak penting sama sekali. Karena bagi aku kebahagiaan berumah tangga itu tidak diukur dari seberapa banyak kita punya keturunan dan harta yang kita miliki. Melainkan seberapa kita mampu mensyukuri apa yang Allah berikan untuk rumah tangga kita. Faham? Hmm ...,"


Membawa tubuh mungil Aisyah ke dalam dekapan, Haidar kembali berucap.


"Selagi aku bisa sama kamu terus. Aku nggak perlu anak untuk melengkapi kebahagiaan kita. Yang harus kamu tau, anak itu adalah rezeki. Dan, rezeki datangnya dari Allah. Mau itu setahun bahkan sepuluh tahun ke depan. Kalo emang belum rezekinya kita bisa apa. Masa iya kita mau marah-marah, terus-terusan nyalahin takdir dan keadaan. Kan, nggak mungkin. Itu sama aja kita melawan kehendak Allah yang sudah digariskan buat kita,"


Perasaan Aisyah jauh lebih tenang dari sebelumnya karena ucapan Haidar yang mampu menggetarkan hatinya sekaligus membuatnya sadar. Jika, sebagai manusia kita wajib berdoa dan tak lupa berikhtiar.


Usianya memang sangat jauh bila dibandingkan dengan Aisyah. Akan tetapi, Haidar memiliki pikiran yang cukup luas dalam menanggapi setiap masalah.


Padahal dulu, setau Aisyah suaminya itu tidak seperti ini. Ia dulu lebih bersikap kekanak-kanakan. Suka seenaknya dan egois. Itulah yang Aisyah simpulkan waktu pertama kali mengenal Haidar sebagai calon adik ipar.


Lantas, Aisyah pun langsung menarik kata-katanya kembali. Yang mengatakan kalau Haidar mempunyai sifat yang berbeda jauh dengan Haikal. Itu semua tidak benar.


Nyatanya, Haidar begitu dewasa, walau terkadang ia sering kali bersikap frontal dan menyebalkan. Hal itu lah yang membuat Aisyah yakin bila Haidar adalah pria yang tepat untuknya.


Sejenak keheningan tercipta, dan beberapa menit berlalu Haidar pun kembali bersuara.


"Emmm ... ngomong-ngomong. Kita jadi nggak nih, anu-anunya."


Pertanyaan konyol Haidar membuat Aisyah tak bisa menahan senyumnya. Ia lantas menarik tubuhnya dari dekapan Haidar.


"Jadi donk ..." Sahutan Aisyah membuat Haidar langsung menyeringai lebar. Namun, beberapa detik kemudian seringaian itu surut waktu Aisyah melanjutkan perkataannya lagi.


"Tapi aku mau mandi dulu, ya ...? hehehe ..." Aisyah melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Haidar yang tampak menahan kesal.


"Kenapa tadi nggak sekalian mandi bareng aku sih, sayang ...? Jadinya, aku nggak harus nunggu lagi kayak gini. Heuh ...!!" ucapnya frustasi. Haidar mengacak-acak rambutnya sendiri. Lalu menghempaskan tubuhnya yang masih mengenakan bathrope ke tempat tidur.


"Aisyah ... oh ... Aisyah ...! Kamu sudah membuatku hampir gila ...!!"


Mendengar teriakan sang suami, Aisyah hanya terkekeh geli di dalam kamar mandi.


_


_


_


Hola...!! Ada yang masih nungguin Bang Haidar sama neng Aisyah ngga nih??


Maafin author ya... Karena author lagi sibuk ngurus novel author yang lain di platform sebelah. Lagi ngejar target ceritanya. hihihi 😁


Tapi, yang dikejar malah ngecewain. hiks...hiks...🀧🀧


Kalian pada tau aplikasi baca baru kan? yg logonya warna pink sama putih. πŸ˜…


Nah... ntu! Author juga lagi nulis disitu 😝


Jadi terpaksa Author Hiatus disini. ^_~


Sekali lagi mohon maaf πŸ™


Buat yang masih setia nungguin cerita recehku ini, aku ucapin terima kasih sebanyak-banyaknya karena udah berbaik hati ngasih like dan komennya.


Semoga kalian sehat selalu...

__ADS_1


Salam sayang dari Akyuuu...😘😘


__ADS_2