
"Pakai saja motorku Bay, lagipula disini tidak ada angkutan yang lewat, toh besok kamu kan kesini lagi", pinta Shinta.
"Iya Nak Bayu, besok setelah dari perusahaan kita langsung ke showroom untuk membeli gantinya", ucap Kakek.
"Nggak usah Kek, Bayu nggak apa-apa kok, ini adalah teguran dan ujian. Bayu akan bekerja lebih giat agar bisa menabung untuk membelinya lagi.
"Sudah jangan menolak rezeki, lagipula sepeda motormu kan hilang gara-gara kami juga", ucap Shinta.
"Keluarkanlah sepeda motornya Nak, panaskan mesinnya sebentar, soalnya sudah lama kan tidak dipakai, jangan-jangan bensinnya juga habis", perintah kakek.
Shinta meninggalkan kamar Kakek, ia ke garasi untuk mengeluarkan sepeda motornya. Sementara kesempatan ini dipergunakan oleh Kakek untuk berbicara dengan Bayu, Kakek ingin menanyakan tentang keputusan Bayu dan juga orang tuanya.
Kemudian Kakek berkata," Jadi bagaimana keputusan kamu Nak tentang perjodohan kalian? Apakah orang tuamu setuju?", tanya Kakek kepada Bayu.
"Inshaallah Kek, Bayu akan memperjuangkan cinta Shinta, Bayu tidak rela jika Shinta jadi milik Irfan tapi jika ia mendapatkan laki-laki yang baik, Bayu ikhlas. Mengenai orang tua Bayu, mereka setuju saja yang penting Bayu sanggup untuk menjalaninya", jawab Bayu.
"Alhamdulillah, sekarang Kakek bisa tenang. Terimakasih Nak Bayu, kamu adalah pemuda yang terbaik buat cucuku. Sekarang tinggal giliran kakek mencari waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini kepada Shinta. Mulai besok kamu belajar dan fokus mengurus perusahaan karena itu milik kalian", ucap Kakek.
"Iya Kek, Bayu pamit, Inshaallah besok jam tujuh pagi Bayu sudah sampai sini", ucap Bayu.
Bayu pun meninggalkan rumah kediaman Kakek Permana dengan mengendarai sepeda motor Scoopy milik Shinta.
Saat tiba di rumah Bu Widya merasa heran, kenapa Bayu tidak mengendarai sepeda motornya malahan memakai sepeda motor orang lain, kemudian Bu Widya bertanya," Lho...di mana sepeda motormu nak? lantas sepeda motor siapa itu yang kamu pakai?", tanya Bu Widya yang merasa heran.
"Sepeda motor Bayu hilang Bu saat di rumah sakit", ucap Bayu langsung menceritakan bagaimana kejadiannya sebelum sang ibu bertanya.
"Owalah Nak, kok apes banget nasibmu, sudah coba kamu tanyakan kepada security rumah sakit? siapa tahu mereka melihatnya!", tanya Bu Widya.
"Sudah bu, tapi tidak ada yang melihatnya", ucap Bayu yang merasa menyesal atas keteledorannya.
"Hasil jerih payahmu mencari dan menjual kayu bakar hilang dalam sekejap Nak!", ucap Bu Widya yang merasa iba dengan kesialan putranya.
__ADS_1
"Kakek Hakim berjanji besok akan mengganti dengan sepeda motor yang baru", ucap Bayu.
"Kenapa musti Kakek yang mengganti, itukan bukan salah Beliau", jawab ibu.
"Memang bukan salah Beliau tapi Kakek dan Shinta bersikeras Bu, mereka mengatakan hal itu terjadi secara tidak langsung karena Bayu mengkhawatirkan Kakek dan Shinta", tutur Bayu.
"Ya sudah Nak, bersyukur dan berterimakasihlah kepada Allah bahwa di balik musibah yang menimpamu ada kebaikan di baliknya", ucap Bu Widya lagi.
Bayu juga menceritakan bahwa mulai besok ia tidak lagi mencari kayu bakar, tapi ia akan bekerja mengelola perusahaan milik keluarga Kakek Hakim Pradana.
Bu Widya yang mendengar cerita Bayu sangat terkejut, beliau ragu apa mungkin putranya yang hanya tamatan Sekolah Menengah Umum bisa mengurus perusahaan. Namun beliau tetap bersyukur dan mendoakan agar masa depan Bayu lebih baik daripada kehidupan mereka sekarang.
Kemudian Bu Widya mengajak Bayu masuk karena beliau ingin meneruskan memasak, soalnya sebentar lagi Ayah Arif pulang dari ladang untuk sholat Dzuhur dan makan siang.
Bayupun membantu ibunya walau hanya sekedar membersihkan sayur dan ikan, sementara itu Bu Widya bertugas menyiapkan bumbu.
Sejak kecil Bayu memang seorang anak yang penurut dan suka membantu orang, terutama orang tuanya.
Selesai memasak, Bu Widya langsung menata masakannya di meja makan dan Bayupun pergi membersihkan diri, bersiap hendak melaksanakan sholat berjamaah di masjid.
Bayu dan Ayah pergi bersama-sama ke mesjid menjalankan ibadah sholat Dzuhur, sekembalinya dari sana barulah mereka berkumpul di ruang makan.
Mereka makan dengan hening hanya suara dentingan sendok saja yang terdengar. Selesai makan barulah Bu Widya mulai bercerita kepada Ayah tentang hilangnya sepeda motor Bayu dan tentang keinginan Kakek agar Bayu mengurus perusahaannya.
Ayah memberi semangat dan saran kepada Bayu, yang intinya Bayu harus jujur, bertanggung jawab terhadap pekerjaannya dan loyal terhadap perusahaan.
Selesai memberi wejangan Ayah kembali ke ladang dan kali ini Bayu memilih ikut ayah daripada istirahat di rumah. Mereka mulai menanam bibit jagung, cabe dan juga ubi jalar.
Sore hari mereka kembali ke rumah untuk beristirahat, dan malam hari Bayu pergi mengunjungi para pemuda berandal yang sering mangkal diujung gang, di sana Bayu mengarahkan para pemuda itu agar mempunyai penghasilan tanpa meminta kepada orang-orang yang lewat di sana.
Untuk saat ini Bayu hanya bisa memberi saran agar mereka mencari kayu bakar seperti dirinya lalu menjualnya kepada bos yang menampung kayu bakar hasil pencarian Bayu dulu. Namun ia juga berjanji suatu saat akan memikirkan serta mengusahakan lowongan pekerjaan yang pas untuk mereka.
__ADS_1
Hari semakin larut, Bayu memutuskan untuk kembali kerumah dan beristirahat karena besok ia sudah harus mulai bekerja.
Pagi pun tiba, setelah menjalankan sholat subuh Bayu bersiap diri, ia memakai stelan kemeja berwarna cream dipadu dengan celana keper berwarna hitam dan sepatu hitam.
Bayu belajar mengubah penampilannya yang biasanya hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans kali ini berpakaian casual ala kantoran.
Ibu dan Ayah yang melihat penampilan putranya merasa kagum, mereka tidak menyangka jika Bayu bisa setampan itu hanya dengan mengubah sedikit penampilannya.
Bayu berpamitan dan memohon restu dari kedua orang tuanya agar dirinya tidak mengecewakan harapan Kakek Hakim.
Setelah mengucapkan salam, Bayu kembali ke rumah Kakek Hakim, dari sana mereka akan berangkat bersama ke kantor di jemput oleh sopir Kakek.
Bayu sudah tiba di kediaman Kakek Hakim, begitu juga dengan sopir kantor yang datangnya hampir bersamaan dengan Bayu. Tanpa membuang waktu mereka langsung berangkat ke kantor, sementara Shinta kembali pergi ke kampus.
Setibanya mereka di kantor, Kakek langsung menuju ke ruang rapat dimana semua staf sudah berkumpul disana. Kakek segera memperkenalkan Bayu sebagai wakil dirinya dan juga sebagai Dirut pengganti almarhum putranya.
Semua terkejut, mereka tidak menduga jika pengganti almarhum adalah orang yang sama sekali tidak mereka kenal.
Setahu mereka keluarga Pradana yang berkemungkinan besar menjadi Dirut adalah Shinta, putri dan cucu yang tidak ikut menjadi korban dari kecelakaan maut itu, atau paling tidak calon suami dari Shinta yang selama ini mereka dengar desas desusnya adalah anak dari seorang pengusaha sukses juga.
Ruangan yang tadinya hening kini ramai dengan obrolan antar staf, terlihat dari wajah-wajah mereka ada yang menerima dan ada juga yang merasa keberatan dengan kebijakan Kakek. Namun tetap saja mereka tidak ada yang berani membantah.
Kemudian Kakek Hakim memanggil asisten pribadinya agar mulai besok mendampingi Bayu untuk mengurus perusahaan. Surat pengangkatan Bayu sebagai Dirut sudah di Sah kan dan sudah di tandatangani oleh Kakek dan juga Shinta sebagai pewaris.
Setelah rapat selesai Kakek mengajak Bayu dan asisten pribadinya pergi ke showroom, namun yang membuat Bayu bingung kenapa Kakek Hakim malah meminta Pak Sopir mengantarkan mereka ke showroom mobil bukan ke showroom sepeda motor seperti yang Kakek dan Shinta katakan kemaren.
Namun Bayu tidak berani dan merasa tidak berhak bertanya, ia hanya diam, ikut kemana saja Kakek akan membawanya.
Untuk apakah Kakek mengajak mereka ke showroom mobil? ikuti terus kelanjutannya ya guys....🙏😉
_______________
__ADS_1
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys... Vote, like comment dan rate bintang limanya.
Terimakasih 🙏😉