MENIKAHI CUCU BILLIONER

MENIKAHI CUCU BILLIONER
GAGAL MEMBUJUK


__ADS_3

Shinta sudah tiba di rumah, melihat rumah begitu sepi ia teringat kembali kepada almarhum Papa, Mama dan kedua adiknya. Biasanya setiap ia pulang dari kampus kedua adiknya selalu menghampiri, berharap sang kakak pulang membawa makanan.


Kebiasaan sang adik yang seperti itu membuat Shinta merasa dekat dengan mereka, makanya ia selalu pulang membawa makanan walau hanya sekedar gorengan.


Kemudian Shinta berjalan masuk ke dapur, biasanya di sana terlihat sang Mama sedang mempersiapkan makanan untuk mereka, membuatkan teh jahe yang merupakan kesukaan Shinta saat ia merasa lelah belajar.


Air mata mulai menetes dari kedua matanya, lalu Shinta memandang keluar dari jendela dapur, terlihat disana ada sebuah kolam ikan, almarhum Papanya sering menghabiskan waktu jika libur duduk dipinggiran kolam menyaksikan ikan berenang-renang sambil menaburkan makanan disana.


Dada Shinta kian sesak, saat melihat sang kakek duduk termenung sendirian di teras belakang rumah, biasanya mereka selalu berkumpul disana bersenda gurau, tertawa sambil menikmati teh, kopi dan juga makanan yang dibuat oleh sang Mama.


Kerinduan kepada keluarga membuatnya tak kuasa menahan air mata yang terus mengalir, dengan sesenggukan ia berlari menghampiri sang Kakek, duduk bersimpuh sambil memeluknya.


Kakek sangat terkejut melihat Shinta menangis, kemudian ia mengelus puncak kepala Shinta sambil berkata," Kenapa kamu menangis, siapa yang telah menyakitimu Nak, ayo katakan sama Kakek."


Shinta hanya menggelengkan kepalanya sembari berkata,"Shinta rindu mereka Kek, rindu Papa, Mama dan juga adik-adik. Rasanya baru kemarin kita duduk berkumpul disini, bersenda gurau, saling berebut untuk bisa bersama Kakek, bermain bersama adik-adik yang ujungnya harus tetap Shinta yang mengalah.


"Itulah Nak kehidupan, sudah tiada barulah terasa", ucap Kakek.


"Sudah sana, pergilah mandi sebentar lagi adzan maghrib pasti berkumandang. Kakek juga mau berwudhu biar kita bisa sholat berjamaah dan mendoakan mereka agar ditempatkan oleh Allah di tempat yang terbaik di sana", ucap Kakek lagi. Li


Shinta pun mengangguk sembari berjalan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri lalu berwudhu. Setelah itu Shintapun menyusul sang kakek yang sudah berada di ruangan sholat.


Mereka melaksanakan sholat berjamaah, lalu dilanjutkan dengan makan malam.


Sepi...itulah yang di rasakan oleh Shinta dan Kakek saat ini, makanan enak tapi tak berselera, rumah besar tapi minim penghuni, kenderaan banyak tapi hanya tersimpan di garasi, sampai kapan kondisi ini berlangsung? keputusan semuanya ada pada Shinta. Shintalah harapan Kakek untuk meneruskan keturunannya, agar rumahnya bisa ramai kembali.

__ADS_1


Makan malam pun telah selesai, Shinta berharap saat ini adalah kesempatan baginya untuk membicarakan tentang Bayu sebelum Kakek kembali ke kamarnya.


Melihat Sang cucu sejak tadi diam saja, Kakek kemudian berbicara," Kenapa sejak tadi kakek lihat kamu lebih banyak diam Nak", tanya Kakek.


"Sebenarnya ada yang ingin Shinta bicarakan Kek", ucap Shinta sedikit ragu.


"Bicaralah, jika kamu punya masalah katakanlah, jangan kamu pendam sendiri", lanjut Kakek.


"Ini tentang Bayu, Jika bisa tolong batalkan saja pengangkatan Bayu sebagai Dirut Kek", ucap Shinta.


Kakek yang mendengar ucapan Shinta merasa terkejut, padahal kemaren Shinta setuju dan telah menandatangani surat pengangkatan Bayu.


Kakek merasa ada yang tidak beres dibalik perubahan sikap Shinta, kemudian dengan tenang Kakekpun menjawab,"Apa begini sikap keturunan Pradana, menjilat ludah yang sudah dibuang? Kakek tidak pernah mengajarkan hal ini kepada semua anak keturunan Kakek", ucap Kakek penuh ketegasan.


Kemudian beliau melanjutkan ucapannya,"Bertanggung jawablah dengan apa yang sudah kita putuskan, bukankah kamu kemaren setuju dan sudah menadatangani surat pengangkatan bayu? kenapa hari ini malah kamu sendiri yang akan membatalkannya."


malah pailit", ucap Shinta lagi.


"Apa menurutmu Bayu sebodoh itu?", tanya Kakek.


Kemudian kakek melanjutkan ucapannya,"Jika Bayu seorang pria yang tidak bertanggung jawab, dia tidak akan mengambil resiko untuk menyelamatkan Kakek dan untuk apa dia bersusah payah, menghabiskan waktu menjaga kita, menemanimu di rumah sakit", ucap Kakek lagi.


"Iya sih Kek, tapi apa Kakek yakin harta tidak akan membuatnya tergiur hingga ia mampu menyingkirkan kita, menguasai semua yang kakek punya. Jadi jika Shinta yang menjadi Dirut disana setidaknya Bayu tidak akan mudah untuk melakukan hal yang tidak kita inginkan."


"Oh...kamu mau jadi Dirut disana, baiklah kalau begitu besok Kakek akan umumkan jika Bayu menjadi Dirut sementara sampai kamu benar-benar mampu untuk menduduki jabatan itu. Kalian harus saling bekerja sama, setelah di rasa bisa kamu menduduki posisi itu, barulah Bayu boleh melepaskan jabatannya dan dia akan menjadi wakilmu yang akan selalu mendampingimu", ucap Kakek.

__ADS_1


"Shinta nggak butuh Bayu lho Kek, Shinta pasti bisa, kan banyak staf yang akan mengajari. Mengenai wakil Dirut nanti Shinta pilih yang memang berkompeten di bidangnya", ucap Shinta yang berusaha menyingkirkan Bayu dari perusahaan agar Irfan bisa menggantikan posisi Bayu.


"Maaf... jika yang ini Kakek tidak setuju, kamu harus punya wakil yang benar bisa di andalkan dan saat ini hanya Bayu yang kakek percaya. Kakek hanya ingin memastikan suatu saat bisa pergi dengan tenang setelah melihatmu di lindungi oleh orang yang tepat", ucap Kakek sambil memegangi dadanya yang mulai terasa sesak dan sakit.


Shinta yang melihat hal itu tidak berani meneruskan perkataannya, lalu ia mendekati sang Kakek dan berkata," Ayo kek Shinta antar ke kamar agar Kakek bisa beristirahat, mengenai perusahaan terserah Kakek saja", ucap Shinta menyerah.


Mendengar keputusan Shinta Kakek merasa tenang, kemudian ia menuruti permintaan Shinta untuk beristirahat.


Setelah memastikan sang Kakek beristirahat, kemudian Shinta memilih kembali ke kamarnya, dengan perasaan ragu Shintapun mencari kontak Irfan di ponselnya untuk melakukan panggilan.


Terdengarlah pertanyaan Irfan di seberang sana yang sedang penasaran ingin segera mengetahui apakah Shinta berhasil membujuk sang Kakek atau tidak.


Shinta sejenak terdiam lalu ia berkata bahwa Kakek setuju jika dirinya menjadi Dirut. Mendengar perkataan Shinta Irfanpun tertawa, ia mengira rencananya sudah berhasil.


Kemudian Shinta melanjutkan ucapannya,"Tapi Fan, untuk sementara sampai aku benar-benar mampu Bayulah Dirutnya dan setelah itu Bayu akan menjadi wakilku", ucap Shinta yang masih takut Irfan marah.


"Apa!", jika itu keputusan Kakek berarti sama saja, kamu tetap dalam pengawasan Bayu", ucap Irfan kesal.


"Kenapa kamu tidak menolaknya?", ucap Irfan.


"Mana mungkin aku berani Fan, Kakek sudah putuskan aku akan menjadi Dirut jika Bayu yang menjadi wakilku", ucap Shinta


Mendengar ucapan Shinta yang terakhir membuat Irfan semakin kesal, kemudian ia berkata", Dasar kamu gadis pengecut, untuk kebaikanmu saja kamu takut berjuang bagaimana bisa kamu berjuang untuk kebaikanku dan untuk kebaikan kita.


Setelah mengatakan hal itu, Irfan langsung mematikan ponselnya. Shinta yang tidak mendengar suara Irfan lagi merasa tidak enak, iya yakin Irfan pasti marah hingga mematikan ponselnya tanpa mengucapkan apapun lagi.

__ADS_1


Bagaimanakah kelanjutan ceritanya, silahkan ikuti terus ya guys.....πŸ™πŸ˜‰


🌻 Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys..... Vote, like, comment dan rate bintang limanya. TerimakasihπŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2