
Bayu sedang bersiap untuk pergi ke kantor, sementara Shinta yang perasaannya sedang tidak nyaman sejak dua minggu belakangan ini, sering mengabaikan tugasnya sebagai istri. Shinta hanya bermalas-malasan diatas tempat tidur, tanpa memperhatikan kebutuhan suaminya.
Awalnya Bayu bersabar, tapi namanya juga pria, jika dia merasa diabaikan pasti akan bersikap uring-uringan.
Pagi ini Bayu tidak menegur Shinta sepatah katapun, dia memakai pakaian kerjanya, menyiapkan berkas yang akan dibawa ke kantor lalu menarik dasi dari tempatnya tanpa terlebih dahulu memakainya dan segera berlalu keluar kamar meninggalkan Shinta.
Shinta merasa diabaikan, dia menangis lalu berlari mengejar Bayu, dia menarik dasi dari tangan Bayu, mengalungkan ke leher dan memakaikannya sembari masih terisak menahan tangis.
Bayu tetap diam, dia tidak menghiraukan Shinta karena dirinya masih kesal dengan perubahan sikapnya.
Setelah dasi terpasang di lehernya, Bayu pun hendak pergi tanpa pamit, tapi Shinta menarik tangannya dan berkata, "Mas kenapa berubah! Mas pergi begitu saja, Mas Bayu jahat! tidak pamit dan tidak menciumku," ucap Shinta sambil memukul dada suaminya.
Bayu berusaha menahan perasaannya, sebenarnya dia tidak tega melihat air mata yang mengalir di pipi sang istri tapi dia harus memberikan pelajaran bahwa sikap cuek Shinta juga tidak nyaman baginya. Bayu ingin Shinta merasakan hal yang sama agar dia segera menyadari tentang sikapnya yang tidak di sukai oleh Bayu.
Namun Bayu terkejut saat dia hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba Shinta berlari kembali ke kamar dan terdengarlah suara Shinta sedang muntah.
"Hoeeek...hoeeek...hoeeek."
Bayu pun berlari menyusul Shinta, rasa cinta akhirnya mengalahkan egonya, dia tidak tega melihat istrinya sakit.
Memang saat mereka bangun subuh tadi, Bayu sudah mulai curiga melihat Shinta yang semakin tidak bersemangat dan wajahnya terlihat pucat tapi karena Bayu sedang kesal, dia malas untuk bertanya.
Sikap Shinta yang selalu mengabaikan Bayu, menghindar jika Bayu meminta haknya dengan alasan Shinta sedang lelah membuat rasa kesalnya meningkat.
Sementara Hormon seksual yang senormalnya pria keluarkan minimal 3 hari sekali, apalagi pengantin baru maunya sih setiap hari🤭😂, jika tidak tersalurkan bisa menimbulkan ketegangan syaraf kepala yang efeknya adalah timbul rasa pusing.
Pusat syahwat birahi tertinggi memang dipegang oleh pria, paling lama tiga hari otot lelaki tegang kembali, ketika tegang maka harus dilenturkan melalui hubungan suami istri. Maka sebaik-baiknya istri, dia harus tahu dan pandai melayani suaminya.
Jika istri melayani suami dengan baik maka suami akan bersikap lebih baik, coba jika istrinya malah malas-malasan nggak melayani suami, bisa dipastikan suami akan kabur alias selingkuh.
Sebenarnya keinginan istri bertolak belakang dengan keinginan suami, istri ingin merasa dicintai dulu baru berhubungan intim tapi laki-laki malah sebaliknya dikasih hubungan intim dulu maka dia akan merasakan dan memberi cinta yang besar.
Cinta Bayu ternyata lebih besar dari egonya, begitu melihat sang istri muntah, terkulai lemas dan pucat seketika rasa kesalnya hilang. Yang ada kini perasaan khawatir dan menyesal kenapa tadi pagi mengabaikan Shinta.
Bayu segera membersihkan sisa muntahan yang mengenai baju Shinta, membersihkan mulutnya dengan tissue lalu menggendong Shinta dan menurunkannya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Kemudian Bayu menelephone Faridz agar menghandle rapat dengan para staf pagi ini, Bayu akan segera membawa Shinta ke rumah sakit tapi sebelumnya Bayu mengganti baju Shinta dengan pakaian bersih, memakaikan hijab serta memakaikan kaos kaki.
Setelah selesai membersihkan muntahan di lantai, Bayu mencium kening sang istri lalu bergegas menggendongnya, menaikkan ke dalam mobil dan melajukan mobil dengan kencang menuju rumah sakit.
Mereka sampai di rumah sakit, tapi saat Bayu menggendong Shinta menuju ruang UGD, Shinta muntah kembali mengenai baju Bayu, kali ini muntahannya sudah tidak ada isinya lagi hanya cairan kuning yang kata orang-orang rasanya sangat pahit.
Bayu semakin khawatir, tubuh Shinta semakin lemas saat mereka tiba di ruang UGD. Dokter dan perawat yang melihat hal itu langsung menangani Shinta.
Setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan, beliaupun tersenyum lalu mengulurkan tangan sembari berkata, "Selamat Mas, sebentar lagi Anda akan menjadi Ayah."
Bayu sangat terkejut, dia sangat bahagia dan tidak menyangka jika secepat ini Allah memberikan anugerah terindah untuk rumah tangganya.
Bayu mengucapkan terimakasih kepada dokter, tak henti-hentinya dia mengucapkan rasa syukur, lalu dia menghampiri Shinta yang tangannya sedang dipasangi selang infus oleh seorang perawat.
Tidak peduli dengan rasa malu, Bayu mencium dan memeluk Shinta sembari meneteskan air mata, lalu dia berkata, "Maaf Yang, maafkan Mas yang telah mengabaikanmu tadi dan telah membuatmu menangis," ucap Bayu.
Shinta pun membalas pelukan Bayu dengan memeluknya lebih erat, seraya menangis diapun berkata, "Shinta yang banyak salah Mas, Shinta yang seharusnya meminta maaf, selama ini tidak mengurus Mas dengan baik."
__ADS_1
Bayu menutup mulut Shinta dengan jari, kemudian dia mencium bibir mungil milik istrinya itu, dia tidak ingin Shinta merasa bersalah dan sedih karena itu akan berpengaruh terhadap janin yang ada di perutnya.
Mereka melepaskan pelukan saat seorang suster berdehem dan berkata, "Saya jadi iri dengan kalian, kapan ya, saya bisa merasakan moment seperti yang sekarang sedang kalian rasakan," ucap suster yang tiba-tiba datang dan merasa sedih.
"Maaf Sus, memangnya Suster belum punya anak?" tanya Shinta heran karena usia suster itu sudah separuh baya.
Suster itupun menggeleng dan berkata," Suamiku kecelakaan dek sepuluh tahun yang lalu, saat kami baru menikah dan sejak itu dia lumpuh separuh anggota tubuh bagian bawah. Kami sudah melakukan pengobatan kesana kemari tapi belum juga ada tanda-tanda untuk kesembuhan."
Bayu dan Shinta akhirnya merasa bersalah, ungkapan kebahagiaan mereka ternyata membuat hati seseorang bersedih, lalu keduanya meminta maaf kepada sang Suster.
Suster tersebut pun meminta maaf karena telah merusak kebahagiaan mereka, beliau mengelus perut Shinta dan mendoakan semoga janin selalu sehat hingga proses persalinan tiba.
Pengalaman pertama akan menjadi seorang ayah telah membuat Bayu kurang tanggap terhadap kestabilan emosi sang istri yang dua minggu belakangan ini selalu ogah-ogahan melayani dirinya.
Ternyata rasa ngidam Shinta yang telah membuatnya bermalas-malasan dan selalu menolak jika Bayu ingin meminta haknya.
Bayu menyesal, telah berprasangka buruk terhadap Shinta, andai dia tanggap dan paham dengan tanda-tanda ibu hamil, pastilah dia akan memanjakan sang istri bukan malah mengabaikan.
Shinta pun selama ini tidak tahu jika dirinya sedang hamil, yang dia rasakan selama dua minggu belakangan adalah jika Bayu sedang berada di kantor dia merasa rindu dan kepinginnya Bayu selalu ada di dekatnya tapi jika Bayu di rumah Shinta malah benci, maunya Bayu itu pergi dan jangan mendekati dirinya.
Ternyata seperti itulah perubahan emosi seorang ibu hamil, meski tidak sama untuk setiap wanita tapi hal itu merupakan hal indah di setiap fasenya membuat wanita merasa lebih sempurna dalam perjalanannya menjadi seorang ibu.
Bayu dan Shinta tidak sabar ingin segera memberitahukan kabar bahagia ini kepada kedua orang tuanya dan juga Kakek.
Shinta kemudian menelephone supir kantor agar menjemput kedua mertuanya dan juga Kakek, dia akan memberitahu setelah mereka tiba sebagai surprise dan hadiah untuk ulang tahun Kakek yang ke 61 yang bertepatan jatuh pada hari ini.
Bersambung...........
__ADS_1
🌻Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys....vote, like dan coment sebanyak-banyaknya 🙏😉
🌻Terimakasih atas semua dukungannya ya guys....saya Julia Fajar mohon undur diri, sampai ketemu dalam episode berikutnya 🙏😉