
Pagi ini Bayu di jemput oleh sopir kantor karena sepeda motornya baru akan tiba siang nanti, ia berpakaian sangat rapi layaknya seorang Dirut. Bayu memakai kemeja lengan panjang berwarna putih, celana keper berwarna abu gelap dan jas sepatu berwarna senada.
"Wah, Pak bos ganteng banget", ucap pak sopir yang datang menjemput Bayu. Bayupun tersenyum mendapatkan pujian dari pak Sopir lalu iapun berkata,"Bapak bisa saja, waktu muda bapak juga pasti ganteng dan mungkin lebih dari saya", ucap Bayu sembari tertawa.
"Pak, jika di luaran panggil saja saya Bayu, rasanya saya lebih nyaman jika dipanggil dengan sebutan nama saja", ucap Bayu lagi.
"Mana mungkin Pak, Bapak sekarang adalah pimpinan saya, tidak sopanlah Pak jika hanya memanggil nama", jawab Pak Sopir.
Pak sopir lalu membuka pintu mobil dan Bayu pun segera naik, kemudian mereka berangkat ke kantor.
Sesampainya mereka di kantor, Bayu di sambut oleh Faridz asisten pribadinya, Faridz langsung membawa Bayu ke ruangan Dirut, di sana perlahan Faridz mengajari Bayu tentang apa yang harus ia lakukan.
Bayu memang seorang pemuda yang cerdas, pekerjaan demi pekerjaan selesai di kerjakannya sesuai petunjuk dari Faridz hingga makan siang pun tiba.
Faridz mengajak Bayu untuk makan siang di kantin
perusahaan, walaupun Bayu sekarang adalah seorang Dirut namun ia tidak sombong, ia duduk dan makan bareng dengan para karyawannya.
Di sisi lain, di sudut kantin terlihat seseorang mencibir melihat Bayu yang dalam waktu singkat telah berhasil mengambil hati karyawannya.
Selesai makan, satu persatu mulai meninggalkan kantin untuk kembali bekerja. Bayu yang baru saja tiba di ruangannya dikejutkan oleh suara dering ponselnya, ternyata dari pihak dealer sepeda motor. Mereka ingin mengantarkan sepeda motor yang telah Bayu dan Kakek beli dengan memastikan alamat pengantaran.
Bayu berpikir tidak ingin menyusahkan sopir kantor lagi saat pulang nanti, segera iapun meminta pihak dealer untuk mengantarkan sepeda motornya ke kantor agar saat pulang bisa ia pergunakan.
Ternyata hal ini malah menguntungkan pihak lawan yaitu Irfan dan Firza. Mata-mata Irfan segera memberitahukan berita itu, berikut mengirimkan foto sepeda motor Bayu yang telah ready di kantor.
__ADS_1
Irfan yang saat ini sedang berada di kantor papanya langsung menelepon Shinta, kemudian ia berkata,"Benar yang aku bilang kan, ini buktinya aku kirim via WhatsApp, kamu pasti tahu berapa harga sepeda motor ini!, dan tunggu aja sebentar lagi apa yang akan Bayu minta", ucap Irfan yang merasa iri.
Setelah memberitahu Shinta Irfan pun menutup telephonenya.
Mata-mata dari Firza juga sudah melaporkan tentang hal itu. Firza sekeluarga merasa panas, kesal dan marah terutama Tasya, kenapa orang yang tidak ada hubungan darah dengan keluarga Pradana bisa secepat itu mendapatkan fasilitas.
Tasya yang marah mendengar berita itu langsung meminta Firza agar saat ini juga menemui sang Kakak untuk meminta penjelasan. Sementara ia sendiri akan menelephone Shinta agar menghalangi sang Kakek menghambur-hamburkan uang untuk orang lain.
Sedangkan Fika mondar-mondar di kamar, pusing memikirkan cara apa yang harus ia pakai untuk mulai mendekati Bayu.
Tasya segera mengambil ponselnya ia mencari nomor kontak Shinta lalu melakukan panggilan. Shintapun yang mendengar ponselnya berdering buru-buru mengeluarkannya dari dalam tas dan melihat siapa sebenarnya yang meneleponnya.
Setelah melihat ternyata Tasya yang menelephone, Shinta pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Kemudian ia sentuh tombol menerima panggilan dan terdengarlah sang nenek berbicara sangat lembut yang membuat Shinta semakin jengah.
Tasya berbicara seolah-olah ingin menjaga keluarga Hakim Pradana dari kelicikan Bayu yang perlahan akan menguras harta Kakek Hakim.
Shinta yang sudah tahu tentang karakter keluarga adik Kakeknya pun sengaja ingin memanasi mereka, kemudian Shinta berkata," Wah hebat banget pendengaran Tante ya... secepat ini bisa langsung tahu jika Bayu diangkat jadi Dirut dan mendapatkan fasilitas sepeda motor, memangnya siapa orang yang Tante bayar untuk mengawasi apa yang dilakukan oleh Kakek", ucap Shinta sinis dan langsung menuduh.
Tasyapun sedikit tergagap mendengar tuduhan Shinta, kemudian ia langsung menjawab,"Oh itu Shin, Tante cepat tahu karena kebetulan tadi Kakek Firzamu ada urusan di dekat kantor Kak Hakim dan ia melihat ada mobil dari dealer datang mengantar pesanan dan ternyata orang-orang disekitar situ bilang, bahwa sepeda motor itu adalah pesanan Bayu", kilah Tasya.
"Jadi apa urusannya dengan Tante, aku sudah tahu kok karena kakek sudah beritahu aku sebelum melakukan semuanya itu", ucap Shinta.
"Bukan apa-apa sih, Tante kira kamu belum tahu. Tante hanya mengingatkan kamu, jangan sampai Kak Hakim menghambur-hamburkan uangnya untuk orang yang tidak ada hubungan apapun dengan keluarga Pradana. Toh nanti imbasnya kamu juga yang bakalan rugi", ucap Tasya.
__ADS_1
"Lebih baik kakek memberikan sesuatu untuk orang yang butuh dan benar pantas serta loyal terhadap Beliau daripada memberikan kepada keluarga Tante yang hanya dihabiskan untuk poya-poya, hal yang tak berguna dan hanya memalukan nama keluarga saja", ucap Shinta yang mulai malas mendengar ocehan Tasya.
"Dasar kamu! anak kemaren sore tahu apa, bisa-bisanya kamu menghina keluargamu sendiri dan membela orang lain. Padahal apa yang aku lakukan ini demi kebaikanmu", ucap Tasya yang sedang marah dan lalu menutup panggilannya.
Shinta hanya menghela nafas, seharusnya ia menghargai keluarga Pradana yang tersisa namun karena ulah dan tingkah mereka yang selalu ingin membodohi dan menguasai hak Kakeknya, membuatnya selalu bersikap kasar terhadap mereka.
Shinta memilih tetap di kamarnya daripada menemui Kakek, sebatas ini ia masih merasa wajar jika Kakek membelikan sepeda motor untuk Bayu.
Toh menurutnya tidak mungkin Bayu berangkat ke kantor setiap hari diantar jemput oleh mobil kantor dan nggak mungkin juga di belikan sepeda motor yang harganya murahan, nanti apa kata orang terutama kolega bisnis Kakek, Dirut perusahaan ternama kenderaannya kok rongsokan.
Shinta memejamkan mata, ia lelah dan ingin beristirahat tanpa memikirkan ucapan Irfan dan Tante Tasya.
Tasya dirumahnya mengamuk karena ucapan Shinta tadi sangat telak meremehkan dan menghina keluarganya.
Firza dan Fika yang tidak mau menjadi imbas dari kemarahan Tasya segera meninggalkan rumah.
Firza pergi ingin menemui sang Kakak, ia tidak rela jika Bayu mendapatkan semua itu dan tidak rela jika Shinta terus menghina keluarganya. Bukankah dirinya lah yang berhak menikmati harta sang Kakak daripada Bayu.
Sementara Fika sudah mendapatkan ide, dia akan menemui Irfan terlebih dahulu sebelum melaksanakan idenya.
Bersambung......
Apa sebenarnya ide Fika? dan untuk apa Fika ingin menemui Irfan? Ayo... silahkan ikuti terus ya guys kelanjutannya atau silahkan follow akun author biar para pembaca tahu setiap kali author update dan menerbitkan karya baru.🙏😉
🌻 Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya guys, Vote, like, comment dan rate bintang limanya 🙏😉
__ADS_1